Sunday, 13 August 2006

Lingkaran setan (bagian 2)

Pada angkatan kami, sebagaimana dua sisi mata uang, juga terdiri dari cakap-tidak cakap__ cepat-tidak cepat. Yang cakap dan cepat, mungkin karena sudah bakat lahiriahnya tak pernah bisa terkejar oleh kelompok yang sebaliknya. Apapun tugasnya, tak peduli itu berkaitan dengan besi ataupun kabel tetap saja mereka unggul. Selalu lebih cepat. Tak selalu lebih bagus memang – tapi dalam hal ini bagus bukanlah ukuran. Yang penting diokekan oleh instruktur itu sudahlah cukup. Dan melaju dengan dua tiga tugas didepan pesaing amatlah membanggakan diri. Sementara menjadi yang tertinggal sudahlah pasti tidak mengenakkan. Tak enaklah melihat teman sudah berganti tugas sementara kita masih harus berkutat dengan tugas yang itu-itu saja.

Bagi kelompok tertinggal saat-saat ketika harus berhadapan dengan instruktur kala menyampaikan tugas adalah saat yang mendebarkan. Iya kalau lansung oke bisa lansung ketugas berikutnya, kalau tidak? apalagi jika maju kesekian kali untuk tugas yang sama dan masih juga belum di oke kan, ughh sesaklah dada ini.

Belum lagi mendapatkan sang pesaing tersenyum yang disembunyikan saat kita balik badan kembali kemeja kerja untuk tugas yang sama. Bukan untuk mengejek tapi lebih pada merasa geli dengan ekspresi kedua pihak. Seperti melihat majikan dan batur. Satunya berkuasa memerintah satunya tak kuasa diperintah. Yang tua komat kamit badan ditegakkan tangan bergerak-gerak, yang muda hanya mantuk-mantuk tak banyak omong kedua tangan biasanya diadu didepan badan.

Sang instruktur, dalam hal ini adalah penguasa tunggal. Dialah yang menentukan bakal apa jadinya kita. Kata-katanya selalu bermakna sabda, gerakan tangannya bernada perintah dan matanya melemahkan urat syaraf kita. Jadi mendengarkan apa katanya, ikuti gerakan tangannya dan turuti kemana matanya bergerak adalah sudah separoh lebih peluang kita lebih besar.

Sesungguhnya, karena keseniorannya, Sang Instruktur sudahlah tahu kemampuan kami masing-masing. Berapa cakap si A berapa cepat si C bisalah dia meraba dari satu dua tugas yang dia berikan. Dan dari tahun ke tahun angkatan ke angkatan selalu saja ada dua kelompok ini. Tipikal sekali. Melihat kelompok mendahului dan tertinggal sudahlah biasa buat Sang Instruktur ini.

Kadang, dalam kekuasaannya yang mutlak itu suka muncul selera humornya juga. Diajaknyalah kami bergurau, ditanggapinyalah juga ledekan kami. Atau dibalik keangkeran matanya sebetulnya ada dia Cuma ingin mengerjai kami, mengetes mental, berapa besar daya tahan kami. Biasanya kami tahu ini bukan tahu sendiri tapi oleh rekan yang melihat kami dan kemudian saling diceritakan.

Begini misalnya : suatu ketika maju kemeja Instruktur siswa dari kelompok tertinggal menyampaikan tugas, setelah dipegang-pegang sambil memicingkan mata tiba-tiba suara Sang Instruktur membesar, juga matanya dan dilemparlah pekerjaan siswa itu ketempat sampah sambil berkata-kata. Sang siswa, tanpa ba bi bu sambil mantuk mantuk berjalan ketempat sampah dan mengambil kembali pekerjaannya untuk dibetulkan lalu balik badan kembali kemeja kerja.

Nah saat dipunggungi siswa inilah Sang Instruktur mungkin tak bisa menahan gelinya sendiri, sambil memandang punggung tersenyumlah sang instruktur ini, he he he gue kerjain lu, mungkin begitu batinnya. Dan kami yang melihat adegan itu juga tersenyum geli sendiri.

Geli melihat majikan, geli melihat batur.


Bandar Lampung, Agustus 2006

Selanjutnya

Sebelumnya




Wednesday, 2 August 2006

Lingkaran setan (bagian 1)

Pertama bersinggungan dengan PKKTL mulanya saya agak ragu apa bisa prestasi saya tetap seperti sebagaimana saat saya bersekolah sebelumnya. Ragu karena dari awal mula saya tahu kedepan hari-hari saya bakal dipenuhi dengan keharusan belajar yang mutlak.

Mutlak? Bagaimana tidak, dari seribu tiga ratus lima puluh pendaftar Cuma diambil dua ratus lima puluh terbaik. Lalu penyaringan lewat test ppsikologi di ambil dua puluh lima terbaik. Peringkat dua puluh besar sudah pasti lolos tinggal kesehatannya oke tidak. Jika gagal diambil dari lima yang dicadangkan. Dan peringkat saya pas tipis benar dengan catatan saya sebelumnya, saya ada berperingkat sepuluh test masuk.

Jadi memang bukan main buat saya bisa berkesempatan menjadi siswa PKKTL ini. Berada dikalangan orang-orang mumpuni adalah selalu menjadi keinginan saya, mimpi saya. Saya memang tak pernah merasakan sekalipun titel juara kelas, paling mentok juara ketiga – itupun hanya sekali dua kali dan semuanya saat saya disekolah dasar.

Namun saya selalu ada dilevel permainan atas. Peringkat saya tak pernah lepas dari sepuluh besar dan kelas yang saya diami sampai saya selesaikan menengah pertama saya, pastilah selalu terdiri dari anak yang berperingkat teratas. Jadi tak pernah juara kelaspun tak terlalu mengganggu saya, karena saya hanya terkalahkan oleh orang yang memang unggulan.

Dalam dua puluh orang kami menjalani pendidikan, sewajarnya orang bersekolah, selalu saja ada dua sisi mata uang saling besebelahan. Ada pintar-tidak pintar, ada cakap-tidak cakap, nakal-tidak nakal, cepat-tidak cepat, favorit guru-bukan favorit guru dan sebagainya.

Sebagaimana koin, dua sisi ini selalu ada, beriringan dan saling melengkapi.

Pada PKKTL ada satu hal yang membuat institusi ini berbeda dengan kebanyakan institusi pendidikan yang lain, yaitu iklim kompetisi antar siswa yang dibangun begitu rapi dan konsisten dalam pelaksanaannya.

Kurikulum yang mensyaratkan siswa baru boleh mengerjakan tugas berikutnya hanya jika tugas yang sekarang dikerjakan sudah tuntas benar-benar membuat siswa terpacu untuk tidak ketinggalan oleh yang lain. Keinginan untuk mengeluarkan segala kemampuan begitu menggebu. Adu cepat, adu bagus, ada di setiap detik dalam keseharian. Saling lirik depan belakang kanan kiri adalah strategi standard yang harus dijalankan agar irama bisa selalu diatur untuk tetap kompetitif.

Saya ambil contoh : Dalam hal tugas praktikum, pintar saja tidak cukup. Siswa haruslah juga cakap dan cepat. Saat sama-sama menerima tugas pertama segera injak gas dan kebut sebisanya. Memastikan tidak tertinggal ditugas pertama adalah harus. Moral mesti diraih agar kepercayaan diri menguat. Ditugas pertama tak perlu dulu lirik sana-sini. Fokus saja. Usahakan bisa maju ke instruktur lebih dulu. Biar oleh instruktur ini hasil keringat kita dipegangnya, dirabanya, diukurnya, dicari-cari kesalahannya terus kita dengar komentar-komentarnya.

Jika belum oke segera kerjakan lagi, kita betulkan, lakukan segala komentarnya, lalu maju lagi sampai di oke kan hasil kita ini. Kalau sudah oke tugas yang selanjutnya pun diberikanlah ke kita dan dikerjakan dengan pola yang sama.

Ditugas ketiga keempat adalah kita sempatkan melirik pesaing kita, teman-teman sekeringat disekitar kita. Dimana posisi kita dan gigi berapa kita harus pasang disinilah waktunya.

Kalau sudah unggul bolehlah santai barang sejenak mengambil nafas, mengaso. Tak perlu terburu-buru, biar para pesaing saja yang tergopoh-gopoh mengejar. Atau - jika ingin memperbesar jarak bolehlah tempo ditambah. Semua jurus dikeluarkan, gas ditekan lebih dalam. Usahakan untuk mendahului paling tidak dua atau tiga tugas.

Memang asyik jika sudah leading jauh. Kalaupun kita lengah atau terpeleset sekali dua kali jarak tetaplah terjaga – masih belum tersalip.

 


Bandar Lampung, Agustus 2006

Selanjutnya


Saturday, 1 July 2006

Struk gaji

Selama pendidikan di PKKTL, dalam keseharian, kami sering berbincang tentang apa jadinya kami nanti kelak. Beberapa yang kami anggap pandai dan masuk kategori “anak manis” sudahlah aman karena sepertinya jalur bekerja pada institusi almamater terbuka lebar. Pandai, rajin dan tidak neko-neko adalah modal berharga untuk mereka yang ada digolongan ini. Karpet merah untuk kesana sudahlah tergelar didepan mata.

Dan bagi yang merasa di kategori lainnya bolehlah berandai-andai, mau kemana setelah lulus. Kalau sedang bercengkrama kami sambil bergurau (ada juga kami serius) membayangkan keinginan-keinginan kami besok. Mau keperusahaan ini-itu, ada yang sudah di bookingkan oleh bapaknya ketempat beliau kerja, atau – ada yang ingin melanjutkan sekolah secara normal.

Dulu, saat masih ditahun kedua, membayangkan lulus atau tidak saja sudah menjadi beban dan pertanyaan besar.

Mendebarkan, saat kami maju satu persatu melihat lembar pengumuman kelulusan. Satu-satu dari dua puluh siswa, berdasarkan nomor urut, menuju papan pengumuman untuk melihat apakah bisa terus ke tahun ketiga ataukah harus meninggalkan kawah candradimuka ini dengan selembar surat pernyataan pernah mengikuti PKKTL. Uugghhh… benar-benar masa tegang kala itu.

Pertanyaan mendasar yang sering terungkap dan selalu menjadi topik yang menarik menjelang kelulusan kami adalah berapa gaji yang akan kami dapat kelak saat bekerja. Dan lagi-lagi kami berandai-andai dengan pertanyaan berapa sih standar gaji saat ini. Tebak-tebakan pun berlansung, seperti, berapa gaji Pak Dharma, kepala sekolah kami. Berapa gaji Pak Rompas, besar mana dengan gaji Pak Jhoni.

Ada bocoran, tepatnya tebakan juga, dari seorang pekerja senior di workshop yang bilang kalau Pak Ignatius, kepala workshop saat itu, sudah bergaji diatas 400ribu!.
Seberapa akurat tebak-tebakan kami ini, sampai sekarang pun kami tak pernah tahu kebenarannya.

Tapi yang membuat perbincangan tambah seru adalah tebak-tebakan siapa diantara kami yang akan paling sukses kelak. Ukurannya sudah bukan berapa kami dibayar setelah lulus nanti tapi sudah melompat jauh ke beberapa tahun kemudian.

Ada yang memakai ukuran lima tahun kedepan. Ada yang bilang kurang kalau segitu – sepuluh tahun barulah pantas mengukur kesuksesan seseorang, sebagian lagi bilang gimana kalo lima belas tahun. Oke, katakanlah sepuluh-lima belas tahun, lalu apa? Ngukurnya gimana? Ya dari struk gaji lah, kata teman menyahuti. Ntar kalo pas kita reunian sepuluh atau lima belas tahun lagi kita lihat struk gajinya, kita kumpulin trus buka bareng-bareng, siapa yang paling gede itulah yang paling sukses, gampang kan? Kami tertawa, tak ada kesepakatan saat itu dan pembicaraanpun mengalir ke topik yang lain.

Hhmmm …….. Obrolan anak belasan tahun yang sedang mencari jati diri dan setelah enam belas tahun berlalu saya suka tersenyum sendiri kalau mengingat itu semua.

Reunian sepuluh-lima belas tahun lagi buat saya oke saja, tapi struk gaji? Ahh .. tak usahlah kita seriusi pembicaraan enam belas tahun yang lalu itu. Biarlah jadi cerita lucu yang layak dikenang sampai kapanpun. Juga, biarlah struk gaji ini jadi rahasia kita sendiri saja. Karna toh ukuran kesuksesan seseorang tidaklah semata hanya pada angka di struk gaji saja.

Anda setuju dengan saya tidak ?

 

Bandar Lampung, Juli 2006


Saturday, 26 February 2005

Bulutangkis (Bagian 2)

Dengan lutut yang agak bengkak saya tetap saja masuk kerja. Sampai berminggu kemudian kondisi lutut saya ya tetap segitu saja. Jalan tetap pincang. Lutut saya, mungkin karena bengkak ini, tidak dapat dilipat penuh. Betis tidak pernah bisa saya sentuhkan kebagian bawah paha saya. Jadi gerakan kaki kiri saya ini sangat terbatas sekali.


Terakhir-terakhir saat berjalan saya cenderung selalu mau jatuh, Lutut saya, jika jalan saya agak cepat atau kurang hati-hati, cenderung tertekuk kebagian dalam. Persis saat kejadian saya jatuh dilapangan bulutangkis dulu. Ujung-ujungnya jalan saya mestilah pelan dan diatur-atur supaya kaki saya tetap dalam posisi lurus tidak sampai tertekuk kedalam.

Berkali-kali saya konsultasikan kedokter tulang tapi tidak ada manfaatnya sama sekali. Kalau Cuma pincang saja okelah mungkin memang perlu waktu untuk proses penyembuhan. Tapi ini selalu mau jatuh saja dan berbulan-bulan tidak ada perubahan. Saya tidak sabar lagi. Hilang sudah rasa percaya saya terhadap semua dokter tulang di Lampung ini. Saya harus berobat ke Jakarta…..!!

Adik saya kebetulan bekerja di Rumah sakit Pantai Indah Kapuk (PIK). Menurut dia di PIK sana ada dokter tulang yang sangat terkenal, namanya dokter Franky. Dibanding dengan dokter tulang lain yang kebetulan berpraktek juga di PIK dokter Franky inilah yang pasiennya paling banyak dan dokter Franky ini juga praktek di beberapa rumah sakit yang lain dan pasiennya juga banyak disana.

Setelah confirm tanggal dan jam nya, Sabtu pagi berangkatlah saya dari Lampung, Istri dan Tasya saya ajak. Sambil njenguk mbah nya di Jakarta, begitu pikir saya.
Saya lansung “njujuk” dirumah adik saya. Kebetulan dia tinggal di rumah susun yang berjarak tidak jauh dari PIK.

Menjelang jam lima sore diantar oleh suami adik saya, kami lansung menuju PIK karena janjian dengan dokternya sekitar jam setengah enam. Benar, tidak meleset jauh dari waktu yang ditentukan bertemulah saya dengan dokter yang bernama Franky. Cepat saja saya diperintahkan rebah dan kaki saya mulai diperiksa. Ditekuk-tekuk, ditarik-tarik, lutut saya diketuk-ketuk dengan jarinya segera dia berkesimpulan bahwa antara tulang betis dan tulang paha tidak terhubung baik yang artinya memang ada masalah dengan lutut saya. Tapi apa masalahnya harus dilakukan pengecekan lebih detail dan diputuskan saat itu juga saya besok harus dioperasi.

Kamar lansung disiapkan dan saya mesti opname malam itu juga. Ipar saya pulang memberi kabar kerumah. Lalu kembali lagi kerumah sakit membawa baju salin, bukan baju milik saya tapi baju milik ipar saya karena memang saya berencana pulang kelampung besoknya sehingga saya sama sekali ada persiapan untuk tinggal dalam waktu yang lama.

Pagi jam sembilan besoknya saya masuk ruang operasi. Seumur hidup saya belum pernah saya dioperasi, membayangkan saja tidak. Jadi meskipun berusaha rilek tetap saja saya ada perasaan gugup. Dokter Franky sejak awal sudah mengatakan bahwa operasi ini adalah operasi antara, artinya setelah diketahui masalahnya, dianalisa lalu baru diputuskan perlu tidaknya operasi berikutnya.

Diruang operasi total ada lima pembantu dokter. Cuma satu yang lelaki sisanya wanita semua dan semuanya saya perkirakan dibawah tigapuluh tahunan usianya dan saya hanya mengenakan baju operasi yang super tipis itu tanpa ada penutup tubuh yang lain. Sangat risi dipegang-pegang oleh wanita ketika kita tidak mengenakan apa-apa.
Setelah diberi suntikan anastesi saya rebah terlentang. Antara badan dan kaki saya diberi tirai penutup dan disamping kiri saya ada monitor 14” untuk saya melihat jalannya operasi.

Kedua kaki saya ditumpukan kesebuah penyangga, persis seperti wanita yang akan melahirkan.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian efek anastesi mulai bekerja. Kaki saya mulai dari selangkangan tidak merasakan apa-apa lagi. Menggerakkan jari kaki saja sedikitpun tidak bisa. Dalam pikiran saya kalau ada gempa atau kebakaran bisa apa saya saat itu. Pasrah dan menyerahkan semuanya pada tim medis dan Tuhan saja saya saat itu.

Yang dikatakan operasi adalah memasukan kamera optik kelutut saya untuk menganalisa apa yang bermasalah pada lutut saya. Jadi tidak ada pembedahan. Cuma alat seperti selang dia. 6mm ditusukkan kelutut saya.

Diawal operasi sambil mengutak-utik lutut saya dokter Franky menerangkan apa saya yang dia lakukan. Ini tempurung, ini otot anu namanya, ini jaringan anu. Sampai dia mengatakan ada otot yang terlepas dari tulang betis saya. Saya melihat semuanya lewat monitor disamping saya. Otot yang lepas tadi digerak-gerakkan oleh dokter Franky dan sepertinya dia ingin memastikan saya sudah melihat apa yang menjadi masalah pada lutut saya.

Operasi belum selesai saya sudah tertidur. Entah karena efek anastesi atau memang saya kurang tidur malamnya saya tidak pasti. Yang jelas ketika saya sadar saya sudah tidak diruang operasi dan jam sudah menunjukan pukul lima sore.
Malamnya dokter Franky mengunjungi saya. Diterangkan bahwa memang ada beberapa otot yang terlepas dari tulang sehingga antara tulang betis dan tulang paha tidak ada pertalian yang benar. Inilah alasan pasti kenapa saya jika berjalan cenderung mau jatuh saja.

Dan dokter Franky menambahkan, kasus ini sama persis dengan apa yang terjadi dengan pesepak bola Marco Van Basten ketika dia memutuskan untuk gantung sepatu. Jadi..... sama dengan Marco Van Basten sepertinya saya juga mesti gantung raket setelah operasi ini.

Selesai.



Bandar Lampung, Februari 2005

Sebelumnya

Sunday, 13 February 2005

Bulutangkis (Bagian 1)

Sepanjang hidup saya hal yang termasuk paling saya rasa kehilangan betul adalah ketika saya tidak bisa bermain bulutangkis lagi. Ini serius, bagi saya bermain bulutangkis adalah istimewa. Berada dilapangan menepuk-nepuk Kok dengan raket amatlah menyenangkan. Badan sehat, hati senang.


Dibanding olah raga yang lain pada bulutangkis inilah permainan saya masuk kategori layak saing, minimal dengan teman-teman saya sekantor. Kami biasa latihan setiap Sabtu pagi disebuah GOR yang oleh kantor dari enam lapangan yang ada kami disewakan dua lapangan. Biasa kami latihan dari jam 8 sampai sekitar jam 10. kadang kami berlatih tidak dengan hanya antar rekan sekantor tapi sering juga ada rekan dari perusahaan yang lain, yang juga sama-sama penyewa, bergabung dengan kami atau sebaliknya kami yang bergabung dengan mereka.

Lalu kenapa saya sampai tidak bisa bermain bulutangkis lagi, begini ceritanya :
September 2002, saat sedang melakukan jumping smash ketika tubuh turun kelantai posisi kaki saya tidak dalam posisi yang benar sehingga lutut tertekuk kedalam. Saya terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Beberapa teman lansung merubung saya. Oleh mereka kaki saya diurut, ditarik, ditekuk-tekuk. Semua yang bisa mereka lakukan mereka lakukan agar berkurang rasa sakit saya. Tapi sakit saya tidak berkurang, lutut saya tambah bengkak. Saya putuskan untuk tidak melanjutkan latihan dan pulang.

Banyak teman menawarkan untuk mengantarkan pulang, tapi saya tolak sambil berterima kasih atas tawarannya. Karena saya memang masih bisa berjalan walaupun pincang dan rasanya sangguplah kalau hanya menyetir sampai rumah. Diluar itu saya Cuma tidak ingin merepotkan teman-teman saya ini.

Sampai rumah yang ada lutut saya semakin bengkak. Mulai siangnya saya sudah sama sekali tidak bisa berjalan. Tersiksa sekali. Oleh tetangga saya dipanggilkan tukang urut dan baru besoknya dia muncul sambil minta maaf karena kemarin ada keperluan. Saya sudah tidak hirau dengan maaf dan keperluannya. Saya Cuma ingin kaki saya sembuh dan bisa berjalan lagi titik !!.

Di urut karena salah urat minta ampun sakitnya. Rasa malu saya saat itu hilang, saya mengaduh dan sesekali berteriak melepas rasa sakit. Sampai kemudian terdengar suara "tuk" di lutut saya dan pak tukang urut ini bilang sudah dapat. Tulangnya udah balik, katanya disertai oleh pijatan pijatan ringan masih disekitar lutut.
Sebatang rokok dimulut saya belum lagi bisa mengurangi keringat dingin saya bekas menahan sakit tadi.

Sepulangnya pak tukang urut perlahan bengkak dilutut saya berkurang. Jalan saya masih pincang tapi sudah lumayanlah. Besoknya saya kedokter tulang minta surat dokter untuk ijin tidak masuk kerja. Oleh dokter tulang sakit saya Cuma dipegang-pegang oleh dua jari, telunjuk dan jari tengah. Habis itu dia dibuatkan resep isinya vitamin penguat tulang sambil kasih nasehat kalau ada kejadian model begini jangan sekali-kali diurut, lebih baik kedokter dan diobati.

Dalam perjalanan pulang istri saya heran meriksa kok Cuma di "nyuk-nyuk" pakai dua jari, terus kok nggak dironsen. Saya juga berpikiran kurang lebih sama. Tapi biarlah, dicoba dulu obatnya. Toh yang penting kan surat dokternya.
Hari kelima saya masuk kerja. Masih tertatih-tatih jalan saya. Banyak yang bilang kenapa sudah masuk, enak dirumah istirahat. Saya tersenyum saja, mana bisa saya istirahat saja dirumah dan tidak bisa kemana-mana. Iya kalo statusnya cuti masih bisa jalan-jalan kemana gitu, ini kan statusnya ijin surat dokter, apakata bos kalau saya ketahuan kelayapan dalam status ijin sakit.

Namanya apes tiga hari kemudian saya terperosok kedalam Got (saluran air). Tak usahlah saya ceritakan bagaimana prosesnya. Apes ya apes bagaimanapun sehati-hatinya kita. Sudah kaki lagi bermasalah terperosok lagi ke Got pas yang masuk duluan pas yang bermasalah lagi, kaki kiri. Lengkaplah penderitaan saya.

Kaki saya bengkak lagi, malamnya pak tukang urut datang lagi. Lagi saya mengaduh dan menjerit. Saat diurut tidak ada bunyi "tuk" lagi dan pak tukang urut bilang sudah selesai. Saya percaya saja. Wong saya ditangani oleh ahlinya kenapa juga saya harus ragu. Bengkak lutut saya kembali berkurang tapi sampai kondisi tertentu bengkak saya tidak pernah berkurang lagi, tetap segitu-gitu saja. Tidak membesar tidak mengecil.


Bandar Lampung, Februari 2005

Selanjutnya

 


Saturday, 26 April 2003

Masa kecil di Tanjung Priok (Bagian 3, selesai)

Kalau kami ingin bepergian kesuatu tujuan, transportasi umumnya cumalah satu, sebuah mobil buatan jerman dengan merek opel yang akrab kami panggil dengan sebutan oplet. Dibagian belakang oplet ini, tempat para penumpang duduk, bagian dalamnya hampir semuanya terbuat dari kayu. Semua penumpangnya duduk saling berhadapan. Dioplet ini selalu ada seorang sopir dan seorang kernet. Kernet ini biasanya selalu ada di dipintu masuk mobil bagian belakang. Bergantungan sepanjang jalan dengan berteriak “ lincing lincing linciiiing … !!” maksudnya Cilincing.

Jendela pada oplet ini bukanlah seperti sekarang yang berkaca dan bisa dibuka tutup hanya dengan menggesernya saja. Pada oplet dulu jendelanya hanya semata lubang yang ditutup dengan terpal. Jika cuaca cerah terpal itu digulung kemudian disangkutkan pada bagian atas jendela, jika sedang hujan maka terpal gulungan ini dilepas dari sangkutannya dan dibiarkan jatuh menutupi jendela menghindari air masuk dari luar.

Jika hujan turun mendadak maka biasanya pak kernet ini tergopoh-gopoh membantu para penumpang melepas gulungan terpal jendela, ini terutama jika penumpangnya ibu-ibu yang bisanya hanya berteriak-teriak saja takut kebasahan.

Yang namanya masa itu tak ada kata macet. Tidak pernah terbayangkan saat itu tanjung priok bakal seperti sekarang, macet dimana-mana !. Bepergian saat itu begitu menyenangkan. Jika siang hari memang udara sangat panas tapi hawanya segar karena memang tanpa polusi. Mobil yang melewati cilincing belumlah banyak. Kebanyakan hanya sepeda motor dan sepeda yang berlalu lalang, juga becak.

Ada beberapa hal yang membuat tanjung priok berbeda dengan daerah lain disekitar jakarta. Pertama cuma tanjung priok-lah daerah yang mempunyai tempat rekreasi alam, yaitu pantai. Tempat lain memang ada tempat rekreasinya tapi semuanya adalah buatan contohnya seperti taman mini dan ragunan misalnya.

Kalau saya sedang dalam pembicaraan dengan orang yang selisih usianya dengan saya diatas tiga puluh tahunan maka mereka akan mengenang satu tempat yang sangat kondang pada era tahun lima atau enam puluhan. Tempat orang-orang melepas kepenatan atas rutinitas yang dijalani sehari-hari, tempat dimana mereka selalu membawa sanak familinya berekreasi, apa lagi jika familinya itu berasal dari kampung diluar jakarta maka mereka akan bilang bahwa mereka belumlah disebut kejakarta jika belum mengunjungi tempat ini. Namanya pantai Sampur.

Ini adalah satu-satunya tempat rekreasi laut di jakarta dan sangat terkenal keindahannya. Beberapa malah menyebut pantai Sampur pada era itu, tak kalah indahnya dengan pantai kuta di bali. Berlebihan ? saya tidak tahu. Saya tidaklah pernah merasakan bahwa di Sampur ini ada pantainya. Yang namanya pantai kan mesti ada pasir dan banyak pohon kelapanya, sedangkan yang saya rasakan sejak kecil Sampur ini sudah dalam bentuk sebagai dermaga, sudah berbentuk cor-coran semen memanjang sepanjang bibir laut. Jadi dimata saya kehebatan pantai sampur adalah cuma kehebatan masa lampau yang saya tidak pernah mengalaminya.

Ada satu tempat lagi yang juga kondang dan identik dengan tanjung priok. Sama seperti sampur, tempat ini juga adalah tempat bagi orang orang yang pingin melepaskan diri dari kepenatan yang dijalaninya. Cuma bedanya tempat ini dikhususkan hanya bagi mereka yang sudah “mampu” menjalaninya saja. Namanya adalah Kramat Tunggak (KT). Yang ini adalah salah satu tempat “rekreasi” buatan di jakarta. Suatu pusat “rekreasi” yang dibuat oleh pak Ali Sadikin (gubernur jakarta waktu itu) sebagai wujud atas kepusingannya melihat begitu banyak tempat “rekreasi” yang tercecer di mana-mana dijakarta waktu itu.

Kenapa harus di tanjung priok? Karena tanjung priok pada masa itu masihlah menjadi daerah yang terpencil dari pemukiman sehingga diharapkan efek negatip terhadap lingkungan disekitar tidaklah besar. Juga karena tanjung priok yang karena adalah suatu daerah pelabuhan maka dibutuhkanlah tempat dimana orang bisa “berlabuh dan bersandar” dengan nyaman, nggak perlu cari yang pake nawar-nawar, tambah “pusing” nanti.

Itu sebabnya oleh pak gubernur dibangun suatu tempat dimana semuanya sudah “dibandrol” dan one stop shopping (ini lebih pada pendapat pribadi saja J).

Pada masa saya kecil KT ini terkenal dengan dua nama untuk penyebutannya. Pertama kramtung, yang ini cuma disingkat saja supaya gampang menyebutnya, yang kedua orang-orang banyak menyebutnya pager seng. Kenapa pager seng karena memang KT ini satu kompleks itu dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari seng setinggi 3 meteran. Cuma ada satu atau dua pintu untuk keluar masuk pengunjungnya.

Seumur hidup saya cuma sekali saja saya pernah memasuki area pager seng ini. Saya masih duduk disekolah dasar (kalau tidak salah kelas lima) waktu itu. Siang-siang sepulang sekolah ada seorang teman mengajak saya untuk main ke pager seng. Teman saya ini sepertinya sudah sangat familiar dengan area itu. Jadi ketika kami sudah ada di dalam kompleks dengan bersepeda kami berkeliling sampai kelorong-lorong yang paling sempit melihat banyak hal yang sampai sekarang selalu saya kenang. Mungkin karena belum waktunya melihat yang begituan atau bagaimana, ketika saya sudah dirumah sampai beberapa hari saya selalu saja terbayang kejadian didalam pager seng itu.

Maklumlah pada usia-usia segitu saya sungguh gampang bergetar jika melihat sesuatu yang “harum-ranum”.

Selesai


Bandar Lampung, April 2003

Sebelumnya


Tuesday, 15 April 2003

Masa kecil di Tanjung Priok (Bagian 2)

Di asrama polisi tempat saya tinggal ada sebuah bangunan yang orang-orang menyebutnya ruang mesin. Didalam situ terdapat sebuah generator yang dijalankan hanya pada malam hari. Generator itu mensuplai listrik khusus untuk asrama saya saja. Masing-masing rumah dijatah maksimal hanya boleh menggunakan beberapa lampu dengan watt yang sudah ditentukan. Barang elektronik pada masa itu masihlah sangat langka dan hanya orang-orang tertentu saya yang punya kemampuan membelinya. Barang elektronik seperti tv dan radio tidak diperkenankan menggunakan listrik yang disuplai oleh generator.

Jika ingin menyalakan tv minimal kita harus mempunyai aki sebagai sumber tenaganya. Pemakaian aki ini juga diusahakan se-efiesien mungkin dan haruslah sampai aki itu habis baru boleh diisi lagi, penghematan__kata bapak saya. Sudah bukan hal yang aneh jika kami sedang nonton tv gambar di layar sampai begitu kecil, sampai begitu kecilnya kami harus maju dan berjarak kurang dari satu meter dari layar supaya bisa melihat gambarnya dengan agak jelas karena akinya sudah mau habis. Pengisian lagi aki ini patokannya cuma satu yaitu ketika gambar di layar tv sudah sampai pada taraf tidak bisa ditonton lagi karena begitu kecilnya, jika sudah begitu barulah bapak saya bersedia membawanya ketempat pengisian aki untuk di cas lagi.

Bapak saya, karena profesinya yang polisi air dan udara, sering harus meninggalkan keluarga untuk berdinas dilaut, kami biasa menyebutnya berlayar.
Biasanya bapak saya kalau berlayar bisa sampai dua bulan tidak dirumah. Tergantung seberapa jauh area patroli yang harus dilakukan. Semakin jauh jaraknya semakin lama bapak saya harus berlayar.

Nah karena saya anak pertama dari dua bersaudara (waktu itu), apalagi saya anak lelaki, saya secara otomatis mesti menggantikan peran bapak saya selama beliau tidak ada dirumah. Bukan untuk menafkahi keluarga tapi lebih pada membantu dalam banyak aktifitas dirumah.

Usia saya waktu itu belumlah genap delapan tahun tapi yang namanya nyuci baju sendiri, ngangsu air dari sumur kekamar mandi untuk keperluan kami sekeluarga serta menyiapkan air diember kala ibu saya akan masak atau cuci-cuci didapur adalah hal yang sudah menjadi bagian dari keseharian saya.

Jika ibu saya ingin setrika baju maka sayalah yang bagian menyiapkan arang untuk dijadikan sumber panasnya. Setrikaan saat itu sangatlah berat karena terbuat dari besi cor tebal yang di bagian depannya biasanya ada patung ayam jago kecil sebagai tempat pegangan untuk penutup tempat arang. Orang yang bersetrika saat itu pastilah berkeringat karena hawa panas dari arang yang terbakar didalam setrikaan itu, belum lagi debu dari arang yang sudah habis. Pokoknya bersetrika saat itu haruslah menggunakan pakaian seminimal mungkin. Karena hawa panas ini beberapa tetangga saya lebih suka bersetrika diteras depan rumah. Jika kebetulan baju yang ingin disetrika cukup banyak pastilah ada saat jeda dimana arang yang sudah menjadi abu harus dibuang dan digantikan dengan arang yang baru.

Rumah yang ada di asrama polisi tempat saya tinggal dibagi-bagi menjadi blok-blok, sangat mirip dengan barak, yang dengan satu blok terdiri dari lima rumah berjejer saling berhimpitan dengan satu atap memanjang dari rumah pertama sampai rumah kelima.

Kamar mandi dan dapur tidaklah menjadi satu dengan rumah. Sama dengan rumah yang berjejer lima berimpitan, kamar mandipun begitu, berjejer lima. Begitu pula dengan dapur. Masing-masing keluarga mendapat satu kamar mandi dan satu dapur.

Jadi kalau kami ingin mandi atau buang air kami haruslah keluar rumah melewati para tetangga kami untuk sampai kekamar mandi.

Begitu pula jika ibu saya ingin beraktifitas didapur. Kami juga harus keluar rumah untuk sampai dapur. Yang saya sebut dapur ini adalah sebuah ruang kecil ukuran 1.5 x 2 meter dibatasi oleh tembok, berjejer dan berimpitan satu dapur dengan yang lain. Akibatnya masing-masing keluarga akan tahu menu apa yang sedang dimasak oleh tetangga sebelahnya.

Rumah saya berada di nomor dua dari ujung. Kalau hendak kedapur kami harus melewati satu rumah tetangga kami. sementara jika ingin kekamar mandi kami harus melewati tiga rumah tetangga kami. Sumur lokasinya berada persis didepan deretan lima kamar mandi yang berjejer itu. Jika ibu saya sedang beraktifitas didapur dan perlu air untuk cuci-cuci maka saya bertugas untuk membawakan air menggunakan ember dari sumur di lokasi kamar mandi ke dapur yang berjarak kira-kira lima belas sampai dua puluhan meter.

Karena keterbatasan jumlah ember yang kami miliki, oleh ibu, saya tidak diperbolehkan pergi bermain. Saya haruslah memastikan bahwa air yang saya sediakan didalam ember cukup untuk keperluan didapur itu, jika sudah habis atau perlu diganti dengan yang baru maka dengan ember yang sama saya harus kembali kesumur mengisinya lagi untuk kemudian saya antarkan kedapur lagi. Setelah ibu saya bilang cukup barulah saya diperbolehkan pergi bermain.

Itulah sebabnya sedari kecil meskipun badan saya kurus tapi karena sudah terbiasa bekerja seluruh bagian tubuh saya termasuk cukup berotot dan jika harus adu panco dengan teman-teman saya meskipun dia lebih besar dan lebih berat saya termasuk kategori menangan.

Kelak setelah saya besar begini saya bersyukur pernah mengalami hal yang seperti itu. Kenapa saya bersyukur, karena beberapa teman wanita yang pernah dekat dengan saya mengatakan saya masuk kategori seksi. Kenapa kok seksi, ya karena berotot itu tadi.


Bandar Lampung, April 2003

Selanjutnya

Sebelumnya

Sunday, 6 April 2003

Masa kecil di Tanjung Priok (Bagian 1)

Pada era tahun tujuh puluhan tanjung priok adalah suatu daerah yang bagi sebagian orang mendengarnya saja bisa membangkitkan bulu kuduk. Banyak cerita-cerita seram yang beredar. Biasalah daerah pelabuhan dimana-mana, apalagi pada masa itu, selalu ada legenda-legenda tentang para preman-preman yang menguasai suatu lokasi. Judi, pelacuran, orang yang mabuk, bisnis barang selundupan adalah cerita keseharian yang banyak saya dengar waktu itu.

Bapak saya yang seorang polisi kebetulan dapat jatah untuk bisa menempati sebuah rumah dinas disalah satu asrama polisi di daerang cilincing, salah satu kecamatan yang ada di kota madya Jakarta utara. Kami mulai tinggal disana sejak saya berusia sekitar 1.5 tahun.

Asrama polisi tempat saya tinggal saling berhimpitan dengan asrama angkatan laut. Ada dua asrama angkatan laut yang dekat dengan asrama saya. Penyebutannya pun berbeda. Satu disebut asrama dewa kembar yang satunya lagi asrama dewa ruci. Sampai sekarang saya tidaklah tahu apa yang membedakan dari keduanya. Sama-sama angkatan lautnya tapi bisa berbeda nama. Antara kedua asrama angkatan laut tersebut hanya dibatasi oleh jalan raya.

Tidak jauh dari tempat asrama saya ada lagi sebuah asrama yang juga sebuah asrama polisi. Bedanya dengan asrama saya yang adalah asrama yang dikhususkan untuk para polisi air dan udara (Pol-Airud), asrama polisi tetangga saya ini adalah asrama yang dikhususkan untuk para polisi brigade mobil, kami biasa menyebutnya asrama brimob. Sedangkan tempat saya populer dipanggil asrama airud.

Yang namanya polisi atau angkatan pada masa itu sangatlah disegani. Jika sedang ada suatu urusan tinggal sebut saya polisi atau dari angkatan anu, maka sudah dipastikan jika lawannya orang sipil mereka akan mengkeret nyalinya dan punya kecenderungan untuk tidak memperpanjang urusan.

Ada panggilan baku untuk para polisi dan angkatan ini, mereka sering menyebut dirinya “anggota”. Bangga benar mereka dengan penyebutan anggota ini. Jika sedang ada masalah atau urusan maka kata-kata anggota akan banyak disebut untuk memperlancar urusan, apapun urusannya.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa masing-masing anggota ini sangat fanatik dengan angkatan atau asramanya masing-masing. Dari yang sudah pensiun sampai dengan para anak anggota ini sangatlah bangga dengan almamaternya ini. Tapi seringnya kebanggaan ini di wujudkan dalam bentuk yang terkadang berlebihan. Ujung-ujungnya sering terjadi tawuran antar asrama anggota ini.

Hanya kerena masalah sepele saja lalu meletus tawuran. Kalau yang tawur ini para remaja sih agak dimaklumi, namanya juga anak muda, tapi yang seperti ini tidaklah mengenal usia. Bapak dan anak bisa maju bersama menyerbu asrama tetangganya. Saya bahkan pernah melihat tetangga saya yang sudah pensiun dan punya beberapa cucu ikut bergerombol dan dengan kadar emosi yang tinggi membakar semangat sekelompok remaja untuk menyerang musuh-musuhnya !! bukan main ………..

Pada masa itu tanjung priok masih begitu sepi. Kiri kanan sepanjang jalan raya cilincing masih banyak ditemui rawa dan kebon. Masih banyak juga pohon kelapa yang menjadi ciri khas daerah pantai. Sampai menjelang tahun 1978 yang namanya listrik masih menjadi suatu hal yang tidak semua orang bisa dapatkan. Hanya kawasan tertentu dengan strata sosial tertentu saja yang bisa memilikinya. Jadi kalau malam daerah sekitar saya tinggal kebanyakan sangatlah gelap. Makanya banyak orang, terutama yang tinggal diluar cilincing, sebisa mungkin menghindari bepergian ke cilincing pada malam hari. Selain gelap, banyak rawa dan kebon __ juga, ini yang paling membuat gentar orang datang kecilincing malam hari, adalah legenda-legenda preman yang konon berwajah seram, sadis dan tidak kenal kompromi.

Ada suatu pasar, lokasinya berada dibelakang sebuah pasar juga dan sangat dekat dengan pelabuhan, namanya pasar Ular. Tempat ini saat itu begitu kondang dengan transaksi barang-barang selundupan. Barang-barang yang ditransaksikan disitu (biasanya) sudah pasti berkualitas tinggi dengan merek-merek luar negeri yang terkenal. Mau cari apa saja pasti ada dan kalau sudah tahu atau sudah punya kenalan disitu harga yang didapat bisa sangat miring.

Masih teringat oleh saya ketika sepupu saya, usianya sekitar dua puluh tahunan waktu itu, dengan sangat bangga memamerkan pada keluarga saya sebuah sepatu kulit asli yang bermerek luar negri. Sepatu itu dia dapat (beli) dari seorang kenalannya dipasar ular yang kata kenalannya itu didapat dari seorang pelaut bule yang kebetulan kapalnya sedang sandar di tanjung priok. Malah, tambahnya, sepatu model begini belum ada di Indonesia. Sampe gempor nyarinya nggak bakalan nemu ! katanya berapi-api.


­­­­­­Bandar Lampung, April 2003

Selanjutnya


Sunday, 23 March 2003

Berbelanja dipasar tradisional

Menemani istri belanja buat saya adalah pengalaman yang mengasyikan.
Entah kenapa jika sedang berada dalam pembicaraan antar suami beberapa rekan bicara saya mengeluhkan saat-saat ketika menemani istri mereka belanja apalagi ketika harus blusak-blusuk kepasar tradisional yang (sudah pasti) jika musim hujan becek dimana-mana. Mereka lebih suka menunggu ditempat parkir ketimbang sandal mereka belepotan.

Buat saya selalu ada sensasi baru jika berada pasar. Saya senang melihat mbok-mbok yang kelahiran Lampung dan seumur-umur tidak pernah ketanah Jawa namun bahasa Jawanya jauh lebih halus dari istri saya (sekalipun) yang berasal dari jawa timur. Kebanyakan dari mereka sejarahnya adalah berawal dari kakek atau buyut mereka yang dibawa oleh belanda dari jawa ke sumatra sebagai kuli kontrak. Di lampung mereka beranak pinak dengan tetap menggunakan bahasa asli leluhurnya sebagai bahasa dikeseharian mereka sampai saat ini.

Setiap minggu kami kepasar untuk berbelanja kebutuhan dapur yang tidak bisa dipenuhi oleh pedagang sayur keliling yang lewat setiap hari didepan rumah. Saya, yang karena besar didaerah pantai jadinya sangat suka dengan menu ikan-ikanan. Itu juga salah satu alasan kenapa kami setiap minggu belanja kepasar karena memang selain banyak pilihan, juga ikan yang ada dipasar kadang jauh lebih segar ketimbang beli dari tukang sayur yang lewat.

Biasanya saat di pasar kami berbagi tugas. Istri saya bagian belanja sementara saya mengajak jalan-jalan anak saya, Tasya, masih disekitar pasar. Anak saya kebetulan juga sangat senang masuk-masuk kedalam pasar. Sering-sering malah dia tidak mau digendong, alhasil jadilah dia sering tersenggol oleh para ibu atau kuli angkut pasar karena memang digang yang sempit itu dengan begitu banyak orang anak saya jadi tidak terlihat sehingga ya itu tadi tersenggol-senggol tidak keruan.

Sambil menggendong Tasya saya punya kesempatan mengajari dia banyak hal. Mulai dari nama buah, sayuran, ikan sampai (ini termasuk favoritnya) kesenangannya memberi uang pada pengemis. Para pedagang juga senang melihat anak saya ini, kadang pertanyaan-pertanyaan spontan anak saya justru mereka yang menjawab. Beberapa dari mereka malah sudah hapal dengan anak saya karena memang kami setiap minggu ada dipasar yang sama. Saya juga senang memperhatikan tingkah laku ibu-ibu dalam hal menawar. Ada yang sangat pelit ada juga yang agak gampang sepakat dengan penjual. Nah istri saya dalam hal ini adalah termasuk Itype yang kedua.

Istri saya paling malas dalam hal tawar menawar. Bagi dia sepanjang harganya masih rasional ya sudah bayar saja. Kadang kami suka beda pendapat tentang kenapa harus begitu gampang keluar uang. Ibu saya termasuk orang yang paling hebat dalam hal tawar menawar. Kalau perlu nggak usah dibeli itu barang kalau beliau menganggap terlalu mahal meskipun barang itu kita perlu sekali. Toh masih banyak yang jual, biar capek sedikit yang penting harga cocok, begitu pikirnya. Kaki saya sampai pegal kalau menemani ibu saya kepasar. Tapi setelah dewasa begini saya jadi sadar bahwa suka tidak suka karakter tersebut menurun pada saya. Saya jadi begitu struggling kalau sudah menawar barang. Yah seperti ibu saya tadi, kalau perlu pindah pasar sampai harga cocok.

Jika sedang ada di pasar tradisional dan memang kami sudah berencana belanja sesuatu yang kami perkirakan nilainya agak besar maka kesepakatannya adalah sayalah yang akan maju untuk menawar barang tersebut. Biasanya sih akhirnya saya bisa dapat dengan harga yang bagus menurut saya.

Makanya saya lebih suka pisah dengan istri jika dipasar. Biarlah dia belanja dengan caranya sendiri dan saya bersama anak saya sama-sama menikmati suasana pasar tradisional ini.


Lampung, Maret 2003

Sunday, 2 March 2003

Belajar mengalah untuk kemudian menang


Semalam anak saya agak demam. Suhu badannya tinggi disertai dengan batuk dan pilek. Dua penyakit terakhir sebetulnya sudah ada tanda-tandanya sejak tiga hari yang lalu, tapi karena munculnya hanya kadang-kadang maka saya anggap belum perlu untuk memeriksakannya ke dokter.

Walaupun amat jarang kedokter, kami di Lampung ini sudah punya dokter anak langganan yang biasanya anak saya, Tasya, cocok dengan dokter ini. Namanya dokter Yusnita. Usianya sekitar empat puluhan. Masih terlihat cantik dan ramah sekali terhadap pasien.

Terakhir kami kedokter Yusnita ketika Tasya kakinya terkena pecahan keramik. Bagian bawah telapak kakinya sobek sekitar 3mm dengan luka agak dalam. Lagi-lagi dokter Yusnita yang menjadi rujukan kami. Sebetulnya saya agak enggan berangkat untuk memeriksakan kaki anak saya karena menurut saya itu cuma kejadian biasa, namanya juga anak kecil, tapi istri saya yang berkeras untuk pergi kedokter karena dia lihat saat kejadian begitu banyak darah yang keluar dari kaki anak saya.

Dokter Yusnita hanya tersenyum dan bilang tidak usah khawatir, cuma luka kecil. Nah bener kan gua bilang juga apa, kata saya ke istri saya. Istri saya kemudian meraba pipi saya dan berkata, ketenangan itu mahal Pa.. perasaan seorang ibu kan lain dengan perasaan bapak ….

Istri saya bukan type orang yang suka memaksakan kehendak. Dalam banyak hal dia punya kecenderungan untuk tidak ‘ngeyel’. Mengalah bagi dia bukanlah hal yang tabu. Terkadang dia malah lebih senang menyenangkan orang lain meskipun harus mengorbankan kesenangannya sendiri, toh nanti Tuhan juga yang balas, katanya.

Sebelum menikah kami berpacaran selama lima tahun lebih. Secara fisik mungkin istri saya bukanlah yang terbaik dibanding banyak perempuan yang pernah ada dalam kehidupan saya.
Ada yang betisnya lebih indah, ada yang kulitnya lebih mulus, ada yang bodi serta perawakannya lebih menantang, yang membuat darah muda saya gampang sekali bergolak-golak.
Tapi kemudian, apa yang saya sudah putuskan empat tahun lalu ketika saya ingin memulai berkeluarga selalu saya syukuri sampai hari ini.

Ketika menikah kami tidak lansung tinggal bersama karena istri saya harus menyelesaikan studi S1 nya yang tinggal sedikit lagi. Baru ketika kandungan istri saya sudah menginjak bulan keenam (saya menikah desember, januari istri saya hamil) kami bisa tinggal bersama.

Sejak hari pertama kami tinggal bersama saya melihat banyak pesona didalam istri saya yang selama kami pacaran luput dari mata saya. Dia begitu mudah mendapatkan teman, sepertinya orang merasa sangat nyaman jika berbicara dengan istri saya. Menyimak dan sangat berempati terhadap lawan bicaranya. Saya katakan istri saya ini lintas karakter. Bagaimanapun sulitnya seseorang jika sudah dengan istri saya mereka bisa begitu akrab.

Dalam hal logika dan pengetahuan umum rasanya saya lebih banyak punya jawaban, tapi jika menyangkut berempati terhadap seseorang terus terang saya belajar banyak dari istri saya ini. Belajar bagaimana bertutur, mendengar dan merespon lawan bicara. Banyak orang yang pandai dalam banyak hal sehingga punya kemampuan untuk mendominasi pembicaraan, tapi ketika harus mendengar dan merespon dengan baik lawan bicaranya ini yang jarang-jarang saya temui.

Pada saat-saat saya mengucapkan syukur pada Sang Pencipta, saya katakan pada Tuhan saya bahwa saya begitu bersyukur mempunyai istri seperti ini. Saya seperti diberi seorang guru yang mengajarkan pada saya bagaimana berempati terhadap orang lain. Dan lagi-lagi saya bersyukur bahwa anak saya pun sepertinya akan seperti ibunya, mudah mendapatkan teman.

Sebesar-besarnya manusia adalah yang mempunyai banyak teman dan berguna bagi lingkungannya, karena itulah sebenarnya esensi manusia sebagai makhluk sosial.


Bandar Lampung, Maret 2003