Di asrama polisi tempat saya tinggal ada sebuah bangunan yang
orang-orang menyebutnya ruang mesin. Didalam situ terdapat sebuah generator
yang dijalankan hanya pada malam hari. Generator itu mensuplai listrik khusus
untuk asrama saya saja. Masing-masing rumah dijatah maksimal hanya boleh
menggunakan beberapa lampu dengan watt yang sudah ditentukan. Barang elektronik
pada masa itu masihlah sangat langka dan hanya orang-orang tertentu saya yang
punya kemampuan membelinya. Barang elektronik seperti tv dan radio tidak
diperkenankan menggunakan listrik yang disuplai oleh generator.
Jika ingin menyalakan tv minimal kita harus mempunyai aki sebagai
sumber tenaganya. Pemakaian aki ini juga diusahakan se-efiesien mungkin dan
haruslah sampai aki itu habis baru boleh diisi lagi, penghematan__kata bapak
saya. Sudah bukan hal yang aneh jika kami sedang nonton tv gambar di layar
sampai begitu kecil, sampai begitu kecilnya kami harus maju dan berjarak kurang
dari satu meter dari layar supaya bisa melihat gambarnya dengan agak jelas
karena akinya sudah mau habis. Pengisian lagi aki ini patokannya cuma satu
yaitu ketika gambar di layar tv sudah sampai pada taraf tidak bisa ditonton
lagi karena begitu kecilnya, jika sudah begitu barulah bapak saya bersedia
membawanya ketempat pengisian aki untuk di cas lagi.
Bapak saya, karena profesinya yang polisi air dan udara, sering
harus meninggalkan keluarga untuk berdinas dilaut, kami biasa menyebutnya
berlayar.
Biasanya bapak saya kalau berlayar bisa sampai dua bulan tidak dirumah. Tergantung
seberapa jauh area patroli yang harus dilakukan. Semakin jauh jaraknya semakin
lama bapak saya harus berlayar.
Nah karena saya anak pertama dari dua bersaudara (waktu itu),
apalagi saya anak lelaki, saya secara otomatis mesti menggantikan peran bapak
saya selama beliau tidak ada dirumah. Bukan untuk menafkahi keluarga tapi lebih
pada membantu dalam banyak aktifitas dirumah.
Usia saya waktu itu belumlah genap delapan tahun tapi yang namanya
nyuci baju sendiri, ngangsu air dari sumur kekamar mandi untuk keperluan kami
sekeluarga serta menyiapkan air diember kala ibu saya akan masak atau cuci-cuci
didapur adalah hal yang sudah menjadi bagian dari keseharian saya.
Jika ibu saya ingin setrika baju maka sayalah yang bagian
menyiapkan arang untuk dijadikan sumber panasnya. Setrikaan saat itu sangatlah
berat karena terbuat dari besi cor tebal yang di bagian depannya biasanya ada
patung ayam jago kecil sebagai tempat pegangan untuk penutup tempat arang.
Orang yang bersetrika saat itu pastilah berkeringat karena hawa panas dari
arang yang terbakar didalam setrikaan itu, belum lagi debu dari arang yang
sudah habis. Pokoknya bersetrika saat itu haruslah menggunakan pakaian
seminimal mungkin. Karena hawa panas ini beberapa tetangga saya lebih suka
bersetrika diteras depan rumah. Jika kebetulan baju yang ingin disetrika cukup
banyak pastilah ada saat jeda dimana arang yang sudah menjadi abu harus dibuang
dan digantikan dengan arang yang baru.
Rumah yang ada di asrama polisi tempat saya tinggal dibagi-bagi
menjadi blok-blok, sangat mirip dengan barak, yang dengan satu blok terdiri
dari lima rumah berjejer saling berhimpitan dengan satu atap memanjang dari
rumah pertama sampai rumah kelima.
Kamar mandi dan dapur tidaklah menjadi satu dengan rumah. Sama
dengan rumah yang berjejer lima berimpitan, kamar mandipun begitu, berjejer
lima. Begitu pula dengan dapur. Masing-masing keluarga mendapat satu kamar
mandi dan satu dapur.
Jadi kalau kami ingin mandi atau buang air kami haruslah keluar
rumah melewati para tetangga kami untuk sampai kekamar mandi.
Begitu pula jika ibu saya ingin beraktifitas didapur. Kami juga
harus keluar rumah untuk sampai dapur. Yang saya sebut dapur ini adalah sebuah
ruang kecil ukuran 1.5 x 2 meter dibatasi oleh tembok, berjejer dan berimpitan
satu dapur dengan yang lain. Akibatnya masing-masing keluarga akan tahu menu
apa yang sedang dimasak oleh tetangga sebelahnya.
Rumah saya berada di nomor dua dari ujung. Kalau hendak kedapur
kami harus melewati satu rumah tetangga kami. sementara jika ingin kekamar
mandi kami harus melewati tiga rumah tetangga kami. Sumur lokasinya berada
persis didepan deretan lima kamar mandi yang berjejer itu. Jika ibu saya sedang
beraktifitas didapur dan perlu air untuk cuci-cuci maka saya bertugas untuk
membawakan air menggunakan ember dari sumur di lokasi kamar mandi ke dapur yang
berjarak kira-kira lima belas sampai dua puluhan meter.
Karena keterbatasan jumlah ember yang kami miliki, oleh ibu, saya
tidak diperbolehkan pergi bermain. Saya haruslah memastikan bahwa air yang saya
sediakan didalam ember cukup untuk keperluan didapur itu, jika sudah habis atau
perlu diganti dengan yang baru maka dengan ember yang sama saya harus kembali
kesumur mengisinya lagi untuk kemudian saya antarkan kedapur lagi. Setelah ibu
saya bilang cukup barulah saya diperbolehkan pergi bermain.
Itulah sebabnya sedari kecil meskipun badan saya kurus tapi karena
sudah terbiasa bekerja seluruh bagian tubuh saya termasuk cukup berotot dan
jika harus adu panco dengan teman-teman saya meskipun dia lebih besar dan lebih
berat saya termasuk kategori menangan.
Kelak setelah saya besar begini saya bersyukur pernah mengalami
hal yang seperti itu. Kenapa saya bersyukur, karena beberapa teman wanita yang
pernah dekat dengan saya mengatakan saya masuk kategori seksi. Kenapa kok seksi,
ya karena berotot itu tadi.
Bandar Lampung, April 2003
No comments:
Post a Comment