Kalau kami ingin bepergian kesuatu tujuan, transportasi umumnya
cumalah satu, sebuah mobil buatan jerman dengan merek opel yang akrab kami
panggil dengan sebutan oplet. Dibagian belakang oplet ini, tempat para
penumpang duduk, bagian dalamnya hampir semuanya terbuat dari kayu. Semua
penumpangnya duduk saling berhadapan. Dioplet ini selalu ada seorang sopir dan
seorang kernet. Kernet ini biasanya selalu ada di dipintu masuk mobil bagian
belakang. Bergantungan sepanjang jalan dengan berteriak “ lincing lincing
linciiiing … !!” maksudnya Cilincing.
Jendela pada oplet ini bukanlah seperti sekarang yang berkaca dan
bisa dibuka tutup hanya dengan menggesernya saja. Pada oplet dulu jendelanya
hanya semata lubang yang ditutup dengan terpal. Jika cuaca cerah terpal itu
digulung kemudian disangkutkan pada bagian atas jendela, jika sedang hujan maka
terpal gulungan ini dilepas dari sangkutannya dan dibiarkan jatuh menutupi
jendela menghindari air masuk dari luar.
Jika hujan turun mendadak maka biasanya pak kernet ini
tergopoh-gopoh membantu para penumpang melepas gulungan terpal jendela, ini
terutama jika penumpangnya ibu-ibu yang bisanya hanya berteriak-teriak saja
takut kebasahan.
Yang namanya masa itu tak ada kata macet. Tidak pernah
terbayangkan saat itu tanjung priok bakal seperti sekarang, macet dimana-mana
!. Bepergian saat itu begitu menyenangkan. Jika siang hari memang udara sangat
panas tapi hawanya segar karena memang tanpa polusi. Mobil yang melewati
cilincing belumlah banyak. Kebanyakan hanya sepeda motor dan sepeda yang
berlalu lalang, juga becak.
Ada beberapa hal yang membuat tanjung priok berbeda dengan daerah
lain disekitar jakarta. Pertama cuma tanjung priok-lah daerah yang mempunyai
tempat rekreasi alam, yaitu pantai. Tempat lain memang ada tempat rekreasinya
tapi semuanya adalah buatan contohnya seperti taman mini dan ragunan misalnya.
Kalau saya sedang dalam pembicaraan dengan orang yang selisih
usianya dengan saya diatas tiga puluh tahunan maka mereka akan mengenang satu
tempat yang sangat kondang pada era tahun lima atau enam puluhan. Tempat
orang-orang melepas kepenatan atas rutinitas yang dijalani sehari-hari, tempat
dimana mereka selalu membawa sanak familinya berekreasi, apa lagi jika
familinya itu berasal dari kampung diluar jakarta maka mereka akan bilang bahwa
mereka belumlah disebut kejakarta jika belum mengunjungi tempat ini. Namanya
pantai Sampur.
Ini adalah satu-satunya tempat rekreasi laut di jakarta dan sangat
terkenal keindahannya. Beberapa malah menyebut pantai Sampur pada era itu, tak
kalah indahnya dengan pantai kuta di bali. Berlebihan ? saya tidak tahu. Saya
tidaklah pernah merasakan bahwa di Sampur ini ada pantainya. Yang namanya
pantai kan mesti ada pasir dan banyak pohon kelapanya, sedangkan yang saya
rasakan sejak kecil Sampur ini sudah dalam bentuk sebagai dermaga, sudah
berbentuk cor-coran semen memanjang sepanjang bibir laut. Jadi dimata saya
kehebatan pantai sampur adalah cuma kehebatan masa lampau yang saya tidak
pernah mengalaminya.
Ada satu tempat lagi yang juga kondang dan identik dengan tanjung
priok. Sama seperti sampur, tempat ini juga adalah tempat bagi orang orang yang
pingin melepaskan diri dari kepenatan yang dijalaninya. Cuma bedanya tempat ini
dikhususkan hanya bagi mereka yang sudah “mampu” menjalaninya saja. Namanya
adalah Kramat Tunggak (KT). Yang ini adalah salah satu tempat “rekreasi” buatan
di jakarta. Suatu pusat “rekreasi” yang dibuat oleh pak Ali Sadikin (gubernur
jakarta waktu itu) sebagai wujud atas kepusingannya melihat begitu banyak
tempat “rekreasi” yang tercecer di mana-mana dijakarta waktu itu.
Kenapa harus di tanjung priok? Karena tanjung priok pada masa itu
masihlah menjadi daerah yang terpencil dari pemukiman sehingga diharapkan efek
negatip terhadap lingkungan disekitar tidaklah besar. Juga karena tanjung priok
yang karena adalah suatu daerah pelabuhan maka dibutuhkanlah tempat dimana
orang bisa “berlabuh dan bersandar” dengan nyaman, nggak perlu cari yang pake
nawar-nawar, tambah “pusing” nanti.
Itu sebabnya oleh pak gubernur dibangun suatu tempat dimana
semuanya sudah “dibandrol” dan one stop shopping (ini lebih pada pendapat
pribadi saja J).
Pada masa saya kecil KT ini terkenal dengan dua nama untuk
penyebutannya. Pertama kramtung, yang ini cuma disingkat saja supaya gampang
menyebutnya, yang kedua orang-orang banyak menyebutnya pager seng. Kenapa pager
seng karena memang KT ini satu kompleks itu dikelilingi oleh pagar yang terbuat
dari seng setinggi 3 meteran. Cuma ada satu atau dua pintu untuk keluar masuk
pengunjungnya.
Seumur hidup saya cuma sekali saja saya pernah memasuki area pager
seng ini. Saya masih duduk disekolah dasar (kalau tidak salah kelas lima) waktu
itu. Siang-siang sepulang sekolah ada seorang teman mengajak saya untuk main ke
pager seng. Teman saya ini sepertinya sudah sangat familiar dengan area itu.
Jadi ketika kami sudah ada di dalam kompleks dengan bersepeda kami berkeliling
sampai kelorong-lorong yang paling sempit melihat banyak hal yang sampai
sekarang selalu saya kenang. Mungkin karena belum waktunya melihat yang
begituan atau bagaimana, ketika saya sudah dirumah sampai beberapa hari saya selalu
saja terbayang kejadian didalam pager seng itu.
Maklumlah pada usia-usia segitu saya sungguh gampang bergetar jika
melihat sesuatu yang “harum-ranum”.
Selesai
Bandar Lampung, April 2003
No comments:
Post a Comment