Pada era tahun tujuh puluhan tanjung priok adalah suatu daerah
yang bagi sebagian orang mendengarnya saja bisa membangkitkan bulu kuduk.
Banyak cerita-cerita seram yang beredar. Biasalah daerah pelabuhan dimana-mana,
apalagi pada masa itu, selalu ada legenda-legenda tentang para preman-preman
yang menguasai suatu lokasi. Judi, pelacuran, orang yang mabuk, bisnis barang
selundupan adalah cerita keseharian yang banyak saya dengar waktu itu.
Bapak saya yang seorang polisi kebetulan dapat jatah untuk bisa
menempati sebuah rumah dinas disalah satu asrama polisi di daerang cilincing,
salah satu kecamatan yang ada di kota madya Jakarta utara. Kami mulai tinggal
disana sejak saya berusia sekitar 1.5 tahun.
Asrama polisi tempat saya tinggal saling berhimpitan dengan asrama
angkatan laut. Ada dua asrama angkatan laut yang dekat dengan asrama saya.
Penyebutannya pun berbeda. Satu disebut asrama dewa kembar yang satunya lagi
asrama dewa ruci. Sampai sekarang saya tidaklah tahu apa yang membedakan dari
keduanya. Sama-sama angkatan lautnya tapi bisa berbeda nama. Antara kedua
asrama angkatan laut tersebut hanya dibatasi oleh jalan raya.
Tidak jauh dari tempat asrama saya ada lagi sebuah asrama yang
juga sebuah asrama polisi. Bedanya dengan asrama saya yang adalah asrama yang
dikhususkan untuk para polisi air dan udara (Pol-Airud), asrama polisi tetangga
saya ini adalah asrama yang dikhususkan untuk para polisi brigade mobil, kami
biasa menyebutnya asrama brimob. Sedangkan tempat saya populer dipanggil asrama
airud.
Yang namanya polisi atau angkatan pada masa itu sangatlah
disegani. Jika sedang ada suatu urusan tinggal sebut saya polisi atau dari
angkatan anu, maka sudah dipastikan jika lawannya orang sipil mereka akan
mengkeret nyalinya dan punya kecenderungan untuk tidak memperpanjang urusan.
Ada panggilan baku untuk para polisi dan angkatan ini, mereka
sering menyebut dirinya “anggota”. Bangga benar mereka dengan penyebutan
anggota ini. Jika sedang ada masalah atau urusan maka kata-kata anggota akan
banyak disebut untuk memperlancar urusan, apapun urusannya.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa masing-masing anggota ini sangat
fanatik dengan angkatan atau asramanya masing-masing. Dari yang sudah pensiun
sampai dengan para anak anggota ini sangatlah bangga dengan almamaternya ini.
Tapi seringnya kebanggaan ini di wujudkan dalam bentuk yang terkadang
berlebihan. Ujung-ujungnya sering terjadi tawuran antar asrama anggota ini.
Hanya kerena masalah sepele saja lalu meletus tawuran. Kalau yang
tawur ini para remaja sih agak dimaklumi, namanya juga anak muda, tapi yang
seperti ini tidaklah mengenal usia. Bapak dan anak bisa maju bersama menyerbu
asrama tetangganya. Saya bahkan pernah melihat tetangga saya yang sudah pensiun
dan punya beberapa cucu ikut bergerombol dan dengan kadar emosi yang tinggi
membakar semangat sekelompok remaja untuk menyerang musuh-musuhnya !! bukan
main ………..
Pada masa itu tanjung priok masih begitu sepi. Kiri kanan
sepanjang jalan raya cilincing masih banyak ditemui rawa dan kebon. Masih
banyak juga pohon kelapa yang menjadi ciri khas daerah pantai. Sampai menjelang
tahun 1978 yang namanya listrik masih menjadi suatu hal yang tidak semua orang
bisa dapatkan. Hanya kawasan tertentu dengan strata sosial tertentu saja yang
bisa memilikinya. Jadi kalau malam daerah sekitar saya tinggal kebanyakan
sangatlah gelap. Makanya banyak orang, terutama yang tinggal diluar cilincing,
sebisa mungkin menghindari bepergian ke cilincing pada malam hari. Selain
gelap, banyak rawa dan kebon __ juga, ini yang paling membuat gentar orang
datang kecilincing malam hari, adalah legenda-legenda preman yang konon
berwajah seram, sadis dan tidak kenal kompromi.
Ada suatu pasar, lokasinya berada dibelakang sebuah pasar juga dan
sangat dekat dengan pelabuhan, namanya pasar Ular. Tempat ini saat itu begitu
kondang dengan transaksi barang-barang selundupan. Barang-barang yang
ditransaksikan disitu (biasanya) sudah pasti berkualitas tinggi dengan
merek-merek luar negeri yang terkenal. Mau cari apa saja pasti ada dan kalau
sudah tahu atau sudah punya kenalan disitu harga yang didapat bisa sangat
miring.
Masih teringat oleh saya ketika sepupu saya, usianya sekitar dua
puluh tahunan waktu itu, dengan sangat bangga memamerkan pada keluarga saya
sebuah sepatu kulit asli yang bermerek luar negri. Sepatu itu dia dapat (beli)
dari seorang kenalannya dipasar ular yang kata kenalannya itu didapat dari
seorang pelaut bule yang kebetulan kapalnya sedang sandar di tanjung priok.
Malah, tambahnya, sepatu model begini belum ada di Indonesia. Sampe gempor nyarinya
nggak bakalan nemu ! katanya berapi-api.
Bandar Lampung, April 2003
No comments:
Post a Comment