Sepanjang hidup saya hal yang termasuk paling saya rasa kehilangan
betul adalah ketika saya tidak bisa bermain bulutangkis lagi. Ini serius, bagi
saya bermain bulutangkis adalah istimewa. Berada dilapangan menepuk-nepuk Kok
dengan raket amatlah menyenangkan. Badan sehat, hati senang.
Dibanding olah raga yang lain pada bulutangkis inilah permainan saya masuk
kategori layak saing, minimal dengan teman-teman saya sekantor. Kami biasa
latihan setiap Sabtu pagi disebuah GOR yang oleh kantor dari enam lapangan yang
ada kami disewakan dua lapangan. Biasa kami latihan dari jam 8 sampai sekitar
jam 10. kadang kami berlatih tidak dengan hanya antar rekan sekantor tapi
sering juga ada rekan dari perusahaan yang lain, yang juga sama-sama penyewa,
bergabung dengan kami atau sebaliknya kami yang bergabung dengan mereka.
Lalu kenapa saya sampai tidak bisa bermain bulutangkis lagi,
begini ceritanya :
September 2002, saat sedang melakukan jumping smash ketika tubuh turun kelantai
posisi kaki saya tidak dalam posisi yang benar sehingga lutut tertekuk kedalam.
Saya terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Beberapa teman lansung merubung
saya. Oleh mereka kaki saya diurut, ditarik, ditekuk-tekuk. Semua yang bisa
mereka lakukan mereka lakukan agar berkurang rasa sakit saya. Tapi sakit saya
tidak berkurang, lutut saya tambah bengkak. Saya putuskan untuk tidak melanjutkan
latihan dan pulang.
Banyak teman menawarkan untuk mengantarkan pulang, tapi saya tolak
sambil berterima kasih atas tawarannya. Karena saya memang masih bisa berjalan
walaupun pincang dan rasanya sangguplah kalau hanya menyetir sampai rumah.
Diluar itu saya Cuma tidak ingin merepotkan teman-teman saya ini.
Sampai rumah yang ada lutut saya semakin bengkak. Mulai siangnya
saya sudah sama sekali tidak bisa berjalan. Tersiksa sekali. Oleh tetangga saya
dipanggilkan tukang urut dan baru besoknya dia muncul sambil minta maaf karena
kemarin ada keperluan. Saya sudah tidak hirau dengan maaf dan keperluannya.
Saya Cuma ingin kaki saya sembuh dan bisa berjalan lagi titik !!.
Di urut karena salah urat minta ampun sakitnya. Rasa malu saya
saat itu hilang, saya mengaduh dan sesekali berteriak melepas rasa sakit.
Sampai kemudian terdengar suara "tuk" di lutut saya dan pak tukang
urut ini bilang sudah dapat. Tulangnya udah balik, katanya disertai oleh pijatan
pijatan ringan masih disekitar lutut.
Sebatang rokok dimulut saya belum lagi bisa mengurangi keringat dingin saya bekas
menahan sakit tadi.
Sepulangnya pak tukang urut perlahan bengkak dilutut saya
berkurang. Jalan saya masih pincang tapi sudah lumayanlah. Besoknya saya
kedokter tulang minta surat dokter untuk ijin tidak masuk kerja. Oleh dokter
tulang sakit saya Cuma dipegang-pegang oleh dua jari, telunjuk dan jari tengah.
Habis itu dia dibuatkan resep isinya vitamin penguat tulang sambil kasih
nasehat kalau ada kejadian model begini jangan sekali-kali diurut, lebih baik
kedokter dan diobati.
Dalam perjalanan pulang istri saya heran meriksa kok Cuma di
"nyuk-nyuk" pakai dua jari, terus kok nggak dironsen. Saya juga
berpikiran kurang lebih sama. Tapi biarlah, dicoba dulu obatnya. Toh yang
penting kan surat dokternya.
Hari kelima saya masuk kerja. Masih tertatih-tatih jalan saya. Banyak yang
bilang kenapa sudah masuk, enak dirumah istirahat. Saya tersenyum saja, mana
bisa saya istirahat saja dirumah dan tidak bisa kemana-mana. Iya kalo statusnya
cuti masih bisa jalan-jalan kemana gitu, ini kan statusnya ijin surat dokter,
apakata bos kalau saya ketahuan kelayapan dalam status ijin sakit.
Namanya apes tiga hari kemudian saya terperosok kedalam Got
(saluran air). Tak usahlah saya ceritakan bagaimana prosesnya. Apes ya apes
bagaimanapun sehati-hatinya kita. Sudah kaki lagi bermasalah terperosok lagi ke
Got pas yang masuk duluan pas yang bermasalah lagi, kaki kiri. Lengkaplah
penderitaan saya.
Kaki saya bengkak lagi, malamnya pak tukang urut datang lagi. Lagi
saya mengaduh dan menjerit. Saat diurut tidak ada bunyi "tuk" lagi
dan pak tukang urut bilang sudah selesai. Saya percaya saja. Wong saya
ditangani oleh ahlinya kenapa juga saya harus ragu. Bengkak lutut saya kembali berkurang tapi sampai kondisi tertentu bengkak saya
tidak pernah berkurang lagi, tetap segitu-gitu saja. Tidak membesar tidak
mengecil.
Bandar Lampung, Februari 2005
No comments:
Post a Comment