Hari-hari menunggu tanggal keberangkatan saya jalani dengan
perasaan campur aduk. Saya ingin sekali bisa bekerja keluar dari Jakarta,
menjauh dari semua hal yang tidak saya sukai di Jakarta, memulai babak yang
baru dalam hidup saya, mendapat pengalaman-pengalaman baru. Tapi apakah saya
bisa terpilih?.
Dua pesaing saya, Fredy dan Bayu, dimata saya adalah anak-anak
yang berkemampuan akademis baik. Nilai mereka selalu bagus dan dalam beberapa
mata pelajaran bahkan tak pernah saya bisa mengalahkan mereka berdua. Kualitas
mereka boleh dibilang diatas saya. Dan dalam beberapa hari kedepan kami bertiga
akan di adu untuk meraih dua tiket bekerja di perusahaan asing di Jawa Timur.
Fredy adalah lulusan SMPN 30, Sekolah Menengah Pertama terbaik
di Jakarta Utara. Sebelum masuk PKKTL, dia sempat diterima dan bersekolah di
SMAN 13, Sekolah Menengah Atas terbaik di Jakarta Utara. Fredy tinggal di
kompleks angkatan laut daerah pinggir pantai bernama Sampur sekitar Tanjung
Priok Jakarta Utara. Untuk ukuran saya, rumah Fredy yang bapaknya pamen
angkatan laut jelas jauh lebih baik dan lebih layak bandingkan rumah tinggal
saya yang asrama polisi kelas bintara. Saat bersekolah, saya yang juga tinggal
di daerah Tanjung Priok, cukup sering menginap di rumah Fredy bersama teman yang
lain. Selain lokasi rumahnya yang strategis, kamar Fredy yang lansung menghadap
halaman rumah sangat lah enak buat kami untuk belajar bersama dan bersenda
gurau.
Sementara Bayu berasal dari Solo Jawa Tengah. Ia adalah lulusan
terbaik seluruh SMP se kota Solo. Nilai Ebtanas Murni-nya 51. Sungguh anak
pintar. Bandingkan dengan nilai saya yang cuma 42. Bahkan lulusan terbaik di
sekolah saya saja hanya 46. Selama bersekolah di PKKTL, Bayu banyak unggulnya
dari saya dalam pencapaian nilai teori maupun praktek. Dan kami berteman baik.
Saya dan teman-teman sering main ke tempat kos-nya. Sebetulnya tempat Bayu
bukanlah tempat kos komersil sebagaimana umumnya. Bayu karena berasal dari
Solo, oleh orang tuanya dititipkan ke budenya yang kebetulan punya klinik praktek
dokter bersama. Pada klinik tersebut diarea belakang ada kamar yang bisa
ditinggali oleh Bayu selama bersekolah di PKKTL.
Dengan latar belakang pesaing saya yang hebat seperti itu tentu
saja saya perlu menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Saya ulang lagi semua
pelajaran yang pernah saya dapat. Ilmu-ilmu kelistrikan saya selami lagi, saya
baca-baca lagi, saya hapalkan lagi. Saya berhentikan dulu kebiasaan merokok
saya agar badan saya bisa lebih fit. Persiapan tes ini sungguh saya seriusi.
Tekad saya untuk terpilih sangat besar. Inilah tiket saya untuk bisa menjauh
dari Jakarta. Dan untuk meraihnya maka persiapan saya harus lah tidak boleh
main-main!.
Dan jadwal pelaksanaan tes telah ditetapkan. Tanggal
keberangkatan-kepulangan, alamat perusahaan di Surabaya serta tanggal dan jam
berapa kami harus sudah tiba di sana sudah diinfokan kepada kami. Surat
panggilan tes dari perusahaan juga sudah kami terima via Pak Dharma.
Sesuai dengan arahan, kami bertiga akan menggunakan moda
transportasi kereta api. Oleh perusahaan calon tempat kami bekerja kami diminta
untuk naik kereta api kelas Bima, kelas eksekutif yang paling mahal. Kelas
kereta api yang dimasing-masing gerbongnya berjejer ruang-ruang kompartemen.
Satu kompartemen berisi satu tempat tidur bertingkat tiga, satu kursi panjang
kapasitas tiga orang plus meja didekat jendela, dan pastinya kompartemen itu
sudah lah ber-ac. Di stasiun, saat akan naik gerbong kami disambut oleh mbak-mbak
pramugari kereta yang berseragam menarik, mirip pramugari pesawat terbang yang
sering saya lihat dimajalah-majalah. Mbak-mbak pramugari ini ikut juga didalam kereta
melayani kebutuhan penumpang sepanjang perjalanan.
Saya yang seumur-umur jika berkereta api naiknya di kelas paling
murah_ kelas ekonomi, yang kursinya rotan isi tiga orang duduk saling
berhadapan, hanya ada kipas angin_ itupun banyak sering matinya saat
perjalanan, sudah lah barang tentu amat terpukau dengan kereta api Bima ini.
Inilah kali pertama saya naik kereta yang benar-benar bisa berselonjor tidur
berkasur enak, tempatnya ber-ac dan sepanjang perjalanan ada mbak-mbak
pramugari cantik yang hilir mudik dengan segala urusannya
Maka sore itu, bulan Agustus 1989, berangkatlah kami bertiga dari stasiun Kota menuju
Surabaya. Beberapa teman menyempatkan diri untuk mengantarkan kami di stasiun
Kota.
Pagi sesampainya kami di stasiun Gubeng Surabaya, kami bertiga
naik taksi menuju lokasi perusahaan tempat kami akan menjalani tes. Dari kami
bertiga hanya saya yang pernah ke Surabaya, Fredy dan Bayu belum pernah. Meski
begitu, tentang lokasi perusahaan itu sudah barang tentu saya tidak
paham. Terakhir saya ke Surabaya bersama bapak sudah lama sekali. Mungkin saat itu saya sedang
dipertengahan sekolah dasar, sekitar kelas 3 atau 4. Dan
pastinya saat itu saya hanya mengekor bapak tanpa pernah ingin tahu nama-nama
jalan.
Menjelang sampai di tujuan, sempat pak sopir taksi meminggirkan
kendaraan untuk bertanya ke sekelompok tukang becak yang sedang mangkal,
memastikan rute yang kami lalui tidak salah arah. Pak sopir bertanya tanpa
turun dari mobil melainkan hanya membuka jendelanya saja. Ada kami dengar pak
Sopir menyebutkan nama PT Food Specialities Indonesia, nama perusahaan yang
kami tuju sesuai surat panggilan yang kami bawa, namun dijawab tidak tahu oleh
para tukang becak itu. Oleh jawaban itu spontan salah satu dari kami menyebut
Nestle, pabrik Dancow_ yang seketika lansung dijawab oleh tukang becak: “oh
itu, pabrik susu ya_ kalau pabrik susu ya sudah dekat, itu disana ….” sambil
tangan pak tukang becak menunjuk bangunan tinggi tak jauh dari tempat kami
bertanya. Dan setelah mengucap terimakasih pak sopir taksi segera menggerakan
taksi menuju tempat bangunan tinggi itu.
Setelah sedikit di tanya-tanya oleh satpam, diminta untuk
mengisi daftar tamu dan menitipkan ktp , diantarlah kami oleh pak satpam menuju
bangunan yang oleh pak satpam di sebutnya kantor admin.
Di kantor admin kami bertiga disambut ramah oleh petugas yang
mengaku dari bagian personalia. Kami dipersilahkan duduk di sofa yang
sepertinya memang disiapkan sebagai tempat untuk menerima tamu. Dan kami pun
beramah tamah mengobrol dengan petugas personalia itu. Tak lami kami menunggu
muncul lah seorang lelaki paruh baya, usianya mungkin menjelang 50
tahun, rambutnya yang ikal terlihat mulai menipis dengan beberapa sudah ada yang memutih. Oleh petugas
personalia tadi kami dikenalkan bahwa lelaki paruh baya itu adalah kepala
personalia dipabrik ini, namanya Pak Muhadi, sosok yang dikemudian hari saya tahu
beliau adalah pensiunan pamen angkatan laut dengan pangkat terakhir letnan
kolonel.
Cikupa, 22 Februari 2026