Pada angkatan kami, sebagaimana dua sisi mata uang, juga terdiri
dari cakap-tidak cakap__ cepat-tidak cepat. Yang cakap dan cepat, mungkin
karena sudah bakat lahiriahnya tak pernah bisa terkejar oleh kelompok yang
sebaliknya. Apapun tugasnya, tak peduli itu berkaitan dengan besi ataupun kabel
tetap saja mereka unggul. Selalu lebih cepat. Tak selalu lebih bagus memang –
tapi dalam hal ini bagus bukanlah ukuran. Yang penting diokekan oleh instruktur
itu sudahlah cukup. Dan melaju dengan dua tiga tugas didepan pesaing amatlah
membanggakan diri. Sementara menjadi yang tertinggal sudahlah pasti tidak
mengenakkan. Tak enaklah melihat teman sudah berganti tugas sementara kita
masih harus berkutat dengan tugas yang itu-itu saja.
Bagi kelompok tertinggal saat-saat ketika harus berhadapan dengan
instruktur kala menyampaikan tugas adalah saat yang mendebarkan. Iya kalau
lansung oke bisa lansung ketugas berikutnya, kalau tidak? apalagi jika maju
kesekian kali untuk tugas yang sama dan masih juga belum di oke kan, ughh
sesaklah dada ini.
Belum lagi mendapatkan sang pesaing tersenyum yang disembunyikan
saat kita balik badan kembali kemeja kerja untuk tugas yang sama. Bukan untuk
mengejek tapi lebih pada merasa geli dengan ekspresi kedua pihak. Seperti
melihat majikan dan batur. Satunya berkuasa memerintah satunya tak kuasa
diperintah. Yang tua komat kamit badan ditegakkan tangan bergerak-gerak, yang
muda hanya mantuk-mantuk tak banyak omong kedua tangan biasanya diadu didepan
badan.
Sang instruktur, dalam hal ini adalah penguasa tunggal. Dialah
yang menentukan bakal apa jadinya kita. Kata-katanya selalu bermakna sabda,
gerakan tangannya bernada perintah dan matanya melemahkan urat syaraf kita.
Jadi mendengarkan apa katanya, ikuti gerakan tangannya dan turuti kemana
matanya bergerak adalah sudah separoh lebih peluang kita lebih besar.
Sesungguhnya, karena keseniorannya, Sang Instruktur sudahlah tahu
kemampuan kami masing-masing. Berapa cakap si A berapa cepat si C bisalah dia
meraba dari satu dua tugas yang dia berikan. Dan dari tahun ke tahun angkatan
ke angkatan selalu saja ada dua kelompok ini. Tipikal sekali. Melihat kelompok
mendahului dan tertinggal sudahlah biasa buat Sang Instruktur ini.
Kadang, dalam kekuasaannya yang mutlak itu suka muncul selera
humornya juga. Diajaknyalah kami bergurau, ditanggapinyalah juga ledekan kami.
Atau dibalik keangkeran matanya sebetulnya ada dia Cuma ingin mengerjai kami,
mengetes mental, berapa besar daya tahan kami. Biasanya kami tahu ini bukan
tahu sendiri tapi oleh rekan yang melihat kami dan kemudian saling diceritakan.
Begini misalnya : suatu ketika maju kemeja Instruktur siswa dari
kelompok tertinggal menyampaikan tugas, setelah dipegang-pegang sambil
memicingkan mata tiba-tiba suara Sang Instruktur membesar, juga matanya dan
dilemparlah pekerjaan siswa itu ketempat sampah sambil berkata-kata. Sang siswa,
tanpa ba bi bu sambil mantuk mantuk berjalan ketempat sampah dan mengambil
kembali pekerjaannya untuk dibetulkan lalu balik badan kembali kemeja kerja.
Nah saat dipunggungi siswa inilah Sang Instruktur mungkin tak bisa
menahan gelinya sendiri, sambil memandang punggung tersenyumlah sang instruktur
ini, he he he gue kerjain lu, mungkin begitu batinnya. Dan kami yang melihat
adegan itu juga tersenyum geli sendiri.
Geli
melihat majikan, geli melihat batur.
Bandar Lampung, Agustus 2006
No comments:
Post a Comment