Selama pendidikan di PKKTL, dalam keseharian, kami sering
berbincang tentang apa jadinya kami nanti kelak. Beberapa yang kami anggap
pandai dan masuk kategori “anak manis” sudahlah aman karena sepertinya jalur
bekerja pada institusi almamater terbuka lebar. Pandai, rajin dan tidak
neko-neko adalah modal berharga untuk mereka yang ada digolongan ini. Karpet
merah untuk kesana sudahlah tergelar didepan mata.
Dan bagi yang merasa di kategori lainnya bolehlah berandai-andai,
mau kemana setelah lulus. Kalau sedang bercengkrama kami sambil bergurau (ada
juga kami serius) membayangkan keinginan-keinginan kami besok. Mau keperusahaan
ini-itu, ada yang sudah di bookingkan oleh bapaknya ketempat beliau kerja, atau
– ada yang ingin melanjutkan sekolah secara normal.
Dulu, saat masih ditahun kedua, membayangkan lulus atau tidak saja
sudah menjadi beban dan pertanyaan besar.
Mendebarkan, saat kami maju satu persatu melihat lembar pengumuman
kelulusan. Satu-satu dari dua puluh siswa, berdasarkan nomor urut, menuju papan
pengumuman untuk melihat apakah bisa terus ke tahun ketiga ataukah harus meninggalkan
kawah candradimuka ini dengan selembar surat pernyataan pernah mengikuti PKKTL.
Uugghhh… benar-benar masa tegang kala itu.
Pertanyaan mendasar yang sering terungkap dan selalu menjadi topik
yang menarik menjelang kelulusan kami adalah berapa gaji yang akan kami dapat
kelak saat bekerja. Dan lagi-lagi kami berandai-andai dengan pertanyaan berapa
sih standar gaji saat ini. Tebak-tebakan pun berlansung, seperti, berapa gaji
Pak Dharma, kepala sekolah kami. Berapa gaji Pak Rompas, besar mana dengan gaji
Pak Jhoni.
Ada bocoran, tepatnya tebakan juga, dari seorang pekerja senior di
workshop yang bilang kalau Pak Ignatius, kepala workshop saat itu, sudah
bergaji diatas 400ribu!.
Seberapa akurat tebak-tebakan kami ini, sampai sekarang pun kami tak pernah
tahu kebenarannya.
Tapi yang membuat perbincangan tambah seru adalah tebak-tebakan
siapa diantara kami yang akan paling sukses kelak. Ukurannya sudah bukan berapa
kami dibayar setelah lulus nanti tapi sudah melompat jauh ke beberapa tahun
kemudian.
Ada yang memakai ukuran lima tahun kedepan. Ada yang bilang kurang
kalau segitu – sepuluh tahun barulah pantas mengukur kesuksesan seseorang,
sebagian lagi bilang gimana kalo lima belas tahun. Oke, katakanlah sepuluh-lima
belas tahun, lalu apa? Ngukurnya gimana? Ya dari struk gaji lah, kata teman
menyahuti. Ntar kalo pas kita reunian sepuluh atau lima belas tahun lagi kita
lihat struk gajinya, kita kumpulin trus buka bareng-bareng, siapa yang paling
gede itulah yang paling sukses, gampang kan? Kami tertawa, tak ada kesepakatan
saat itu dan pembicaraanpun mengalir ke topik yang lain.
Hhmmm …….. Obrolan anak belasan tahun yang sedang mencari jati
diri dan setelah enam belas tahun berlalu saya suka tersenyum sendiri kalau
mengingat itu semua.
Reunian sepuluh-lima belas tahun lagi buat saya oke saja, tapi
struk gaji? Ahh .. tak usahlah kita seriusi pembicaraan enam belas tahun yang
lalu itu. Biarlah jadi cerita lucu yang layak dikenang sampai kapanpun. Juga,
biarlah struk gaji ini jadi rahasia kita sendiri saja. Karna toh ukuran kesuksesan
seseorang tidaklah semata hanya pada angka di struk gaji saja.
Anda setuju dengan saya tidak ?
Bandar Lampung, Juli 2006
No comments:
Post a Comment