Showing posts with label Kisah Atas Langit. Show all posts
Showing posts with label Kisah Atas Langit. Show all posts

Sunday, 22 February 2026

Lulus sekolah, lansung kerja (Bagian 2)

Hari-hari menunggu tanggal keberangkatan saya jalani dengan perasaan campur aduk. Saya ingin sekali bisa bekerja keluar dari Jakarta, menjauh dari semua hal yang tidak saya sukai di Jakarta, memulai babak yang baru dalam hidup saya, mendapat pengalaman-pengalaman baru. Tapi apakah saya bisa terpilih?.

Dua pesaing saya, Fredy dan Bayu, dimata saya adalah anak-anak yang berkemampuan akademis baik. Nilai mereka selalu bagus dan dalam beberapa mata pelajaran bahkan tak pernah saya bisa mengalahkan mereka berdua. Kualitas mereka boleh dibilang diatas saya. Dan dalam beberapa hari kedepan kami bertiga akan di adu untuk meraih dua tiket bekerja di perusahaan asing di Jawa Timur.

Fredy adalah lulusan SMPN 30, Sekolah Menengah Pertama terbaik di Jakarta Utara. Sebelum masuk PKKTL, dia sempat diterima dan bersekolah di SMAN 13, Sekolah Menengah Atas terbaik di Jakarta Utara. Fredy tinggal di kompleks angkatan laut daerah pinggir pantai bernama Sampur sekitar Tanjung Priok Jakarta Utara. Untuk ukuran saya, rumah Fredy yang bapaknya pamen angkatan laut jelas jauh lebih baik dan lebih layak bandingkan rumah tinggal saya yang asrama polisi kelas bintara. Saat bersekolah, saya yang juga tinggal di daerah Tanjung Priok, cukup sering menginap di rumah Fredy bersama teman yang lain. Selain lokasi rumahnya yang strategis, kamar Fredy yang lansung menghadap halaman rumah sangat lah enak buat kami untuk belajar bersama dan bersenda gurau.

Sementara Bayu berasal dari Solo Jawa Tengah. Ia adalah lulusan terbaik seluruh SMP se kota Solo. Nilai Ebtanas Murni-nya 51. Sungguh anak pintar. Bandingkan dengan nilai saya yang cuma 42. Bahkan lulusan terbaik di sekolah saya saja hanya 46. Selama bersekolah di PKKTL, Bayu banyak unggulnya dari saya dalam pencapaian nilai teori maupun praktek. Dan kami berteman baik. Saya dan teman-teman sering main ke tempat kos-nya. Sebetulnya tempat Bayu bukanlah tempat kos komersil sebagaimana umumnya. Bayu yang karena daerah asalnya dari luar Jakarta, oleh orang tuanya dititipkan ke budenya yang kebetulan punya klinik praktek dokter bersama. Pada klinik tersebut diarea belakang ada kamar yang bisa ditinggali oleh Bayu selama bersekolah di PKKTL.

Dengan latar belakang pesaing saya yang hebat seperti itu tentu saja saya perlu menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Saya ulang lagi semua pelajaran yang pernah saya dapat. Ilmu-ilmu kelistrikan saya selami lagi, saya baca-baca lagi, saya hapalkan lagi. Saya berhentikan dulu kebiasaan merokok saya agar badan saya bisa lebih fit. Persiapan tes ini sungguh saya seriusi. Tekad saya untuk terpilih sangat besar. Inilah tiket saya untuk bisa menjauh dari Jakarta. Dan untuk meraihnya maka persiapan saya harus lah tidak boleh main-main!.

Dan jadwal pelaksanaan tes telah ditetapkan. Tanggal keberangkatan-kepulangan, alamat perusahaan di Surabaya serta tanggal dan jam berapa kami harus sudah tiba di sana sudah diinfokan kepada kami. Surat panggilan tes dari perusahaan juga sudah kami terima via Pak Dharma.

Sesuai dengan arahan, kami bertiga akan menggunakan moda transportasi kereta api. Oleh perusahaan calon tempat kami bekerja kami diminta untuk naik kereta api kelas Bima, kelas eksekutif yang paling mahal. Kelas kereta api yang dimasing-masing gerbongnya berjejer ruang-ruang kompartemen. Satu kompartemen berisi satu tempat tidur bertingkat tiga, satu kursi panjang kapasitas tiga orang plus meja didekat jendela, dan pastinya kompartemen itu sudah lah ber-ac. Di stasiun, saat akan naik gerbong kami disambut oleh mbak-mbak pramugari kereta yang berseragam menarik, mirip pramugari pesawat terbang yang sering saya lihat dimajalah-majalah. Mbak-mbak pramugari ini ikut juga didalam kereta melayani kebutuhan penumpang sepanjang perjalanan.

Saya yang seumur-umur jika berkereta api naiknya di kelas paling murah_ kelas ekonomi, yang kursinya rotan isi tiga orang duduk saling berhadapan, hanya ada kipas angin_ itupun banyak sering matinya saat perjalanan, sudah lah barang tentu amat terpukau dengan kereta api Bima ini. Inilah kali pertama saya naik kereta yang benar-benar bisa berselonjor tidur berkasur enak, tempatnya ber-ac dan sepanjang perjalanan ada mbak-mbak pramugari cantik yang hilir mudik dengan segala urusannya

Maka sore itu, bulan Agustus 1989, berangkatlah kami bertiga dari stasiun Kota menuju Surabaya. Beberapa teman menyempatkan diri untuk mengantarkan kami di stasiun Kota.

Pagi sesampainya kami di stasiun Gubeng Surabaya, kami bertiga naik taksi menuju lokasi perusahaan tempat kami akan menjalani tes. Dari kami bertiga hanya saya yang pernah ke Surabaya, Fredy dan Bayu belum pernah. Meski begitu,  tentang lokasi perusahaan itu sudah barang tentu saya tidak paham. Terakhir saya ke Surabaya bersama bapak sudah lama sekali. Mungkin saat itu saya sedang dipertengahan sekolah dasar, sekitar kelas 3 atau 4. Dan pastinya saat itu saya hanya mengekor bapak tanpa pernah ingin tahu nama-nama jalan.

Menjelang sampai di tujuan, sempat pak sopir taksi meminggirkan kendaraan untuk bertanya ke sekelompok tukang becak yang sedang mangkal, memastikan rute yang kami lalui tidak salah arah. Pak sopir bertanya tanpa turun dari mobil melainkan hanya membuka jendelanya saja. Ada kami dengar pak Sopir menyebutkan nama PT Food Specialities Indonesia, nama perusahaan yang kami tuju sesuai surat panggilan yang kami bawa, namun dijawab tidak tahu oleh para tukang becak itu. Oleh jawaban itu spontan salah satu dari kami menyebut Nestle, pabrik Dancow_ yang seketika lansung dijawab oleh tukang becak: “oh itu, pabrik susu ya_ kalau pabrik susu ya sudah dekat, itu disana ….” sambil tangan pak tukang becak menunjuk bangunan tinggi tak jauh dari tempat kami bertanya. Dan setelah mengucap terimakasih pak sopir taksi segera menggerakan taksi menuju tempat bangunan tinggi itu.

Setelah sedikit di tanya-tanya oleh satpam, diminta untuk mengisi daftar tamu dan menitipkan ktp , diantarlah kami oleh pak satpam menuju bangunan yang oleh pak satpam di sebutnya kantor admin.

Di kantor admin kami bertiga disambut ramah oleh petugas yang mengaku dari bagian personalia.  Kami dipersilahkan duduk di sofa yang sepertinya memang disiapkan sebagai tempat untuk menerima tamu. Dan kami pun beramah tamah mengobrol dengan petugas personalia itu. Tak lami kami menunggu muncul lah seorang lelaki paruh baya, usianya mungkin menjelang 50 tahun, rambutnya yang ikal terlihat mulai menipis dengan beberapa sudah ada yang memutih. Oleh petugas personalia tadi kami dikenalkan bahwa lelaki paruh baya itu adalah kepala personalia dipabrik ini, namanya Pak Muhadi, sosok yang dikemudian hari saya tahu beliau adalah pensiunan pamen angkatan laut dengan pangkat terakhir letnan kolonel.

 

Cikupa, 22 Februari 2026

Selanjutnya 

Sebelumnya

Monday, 16 February 2026

Lulus sekolah, lansung kerja (Bagian 1)

Siang itu saya tiba-tiba didatangi teman yang mengabarkan kalau saya dipanggil oleh kepala pabrik kami, Pak Yusupadi. Teman saya ini juga menyampaikan bahwa selain saya ada teman seangkatan saya, Fredy dan Bayu, juga diminta menghadap Pak Yusupadi. Atas kabar ini timbul pertanyaan dalam diri saya ada apa tiba-tiba Pak Yusupadi memanggil saya. Apa yang telah saya lakukan sampai seorang Kepala pabrik memanggil saya untuk datang kekantornya. Lalu mengapa saya dipanggil bersama dengan Fredy dan Bayu? Hubungan kami selama ini baik-baik saja, pun di pekerjaan tidak ada masalah. Lalu kenapa ada pemanggilan? ada persoalan apa? Dan pertanyaan-pertanyaan yang menghujam itu berputar-putar saja didalam otak kepala saya. Saya menjadi harap-harap cemas. Berharap ini adalah berita baik, cemas karena takut ini adalah berita tidak baik. Dan semua pertanyaan yang terus berlarian di otak kepala saya itu tak juga membuahkan jawab.

Saya, Fredy dan Bayu saat itu adalah siswa kelas 3 Pendidikan Khusus Kejuruan Teknik Lisrik PT Siemens Indonesia. Seluruhnya kami berdua puluh siswa dalam satu angkatan. Tahun ini adalah tahun ketiga kami menjalani pendidikan dan akan menjadi tahun terakhir kami bersekolah disana. Khusus kelas tiga kami sudah tidak lagi belajar teori dikelas. Di tahun ketiga, selama setahun penuh kami dididik untuk berkenalan lansung dengan dunia kerja yang sebenarnya. Semua ilmu yang telah kami pelajari di dua tahun pertama kami bersekolah, teori maupun praktek, lansung diaplikasikan dalam bentuk kerja sesungguhnya di wokshop tempat pembuatan panel-panel listrik. Masing-masing kami berdua puluh dititipkan pada pekerja yang sudah berpengalaman untuk dapat kami timba ilmu dan pengalamannya.  Kami akan lulus di bulan September nanti dan hari ini sudah bulan Juli.

Setibanya saya di ruang Pak Yuspadi, disana sudah ada Fredy dan Bayu yang berdiri persis setelah pintu masuk. Sepertinya mereka berdua datang hanya berselisih tak lama sebelum saya datang. Terlihat juga sudah ada Pak Dharma, kepala sekolah PKKTL, yang duduk disamping meja kerja pak Yusupadi.

Pak Yusupadi dan Pak Dharma dengan santun mempersilahkan saya, Fredy dan Bayu untuk duduk di kursi yang telah di siapkan. Oleh perintah itu kami pun segera duduk dengan isi kepala yang campur aduk menunggu akan ada berita apakah gerangan. Ada juga sempat kami bertiga lewat kernyitan mata saling memandang_ bertanya satu sama lain. Dan seperti digerakkan oleh suasana tegang, kami serentak secara perlahan saling menaikkan bahu kami pertanda kami bertiga belumlah tahu berita apa yang akan disampaikan. 

Pak Yusupadi adalah tipe orang yang tidak banyak bicara, gaya komunikasinya simple namun lugas. Sebagai kepala pabrik, beliau sering saya lihat berkeliling workshop untuk mengontrol pekerjaan anak buahnya. Dalam sepanjang ingatan saya selama 3 tahun bersekolah, saya belum pernah berbincang-bincang lansung dengan Pak Yusupadi. Saya sangat menyegani beliau. Dimata saya, beliau adalah orang yang terhormat, seorang bos!. 

Adapun Pak Dharma, adalah seorang kepala sekolah yang sudah sangat senior, sangat berpengalaman di bidang pendidikan. Beliau orang yang penuh optimisme. Dengan gaya dialognya yang berlogat Jawa, Pak Dharma selalu bisa menggelorakan hati kami para siswa untuk selalu bersemangat dalam belajar agar kelak bisa meraih masa depan yang gemilang. 

Oleh sebab itu urusan pemanggilan yang tiba-tiba ini buat saya adalah bukan perkara ringan. Ini peristiwa serius. Maka baik atau buruk berita yang akan disampaikan oleh Pak Yusupadi dan Pak Dharma nanti, bisa jadi akan sangat menentukan arah hidup saya kedepan.

.......

Pak Yusupadi membuka pembicaraan dengan menyampaikan bahwa beberapa minggu yang lalu telah datang ke sekolah PKKTL perwakilan dari sebuah perusahaan asing yang berlokasi di Jawa Timur. Adapun tujuan kedatangan mereka adalah mencari calon pegawai yang mempunyai kompetensi di bidang kelistrikan, mereka sedang mencari kandidat electrician untuk penempatan di pabrik mereka di Surabaya dan Pasuruan. Sekolah telah menimbang dan memutuskan untuk mengajukan saudara-saudara bertiga ini untuk ikut tes rekrutmen di Surabaya.

Pertanyaannya: apakah saudara bersedia?

Dan belum saja kami menjawab, Pak Dharma sudah menambahkan: kita sudah punya beberapa lulusan PKKTL yang bekerja di pabrik di Pasuruan, jadi you tidak perlu khawatir kesana karena sudah ada kakak kelas yang akan bantu mengajari you kerja disana.

Oleh pertanyaan dan penjelasan itu serentak kami bertiga saling memandang dengan jidat sedikit mengerinyit, seperti saling bertanya akan mau menjawab apa.

Dan sebelum kami membuka mulut untuk menjawab, Pak Yusupadi sudah memberikan pandangannya lebih dulu kalau kami tidak harus membuat keputusan hari ini juga. Pada kami di sarankan untuk berdiskusi dahulu dengan orang tua dirumah. Ditimbang-timbang plus minusnya, baik buruknya, akan siap atau tidak jika harus tinggal jauh dari orang tua.

Menutup pembicaraan, kami bertiga menyampaikan terimakasih atas berita dan tawaran ini lalu pamit untuk kemudian kami bertiga keluar dari ruangan.

Diluar ruangan, kami bertiga bersepakat untuk malam ini mulai berdikusi dengan orang tua agar bisa segera memberikan jawaban. Dan hanya dalam hitungan hari kami bertiga menghadap Pak Dharma untuk menyampaikan kesediaan kami mengikuti tes rekrutmen di Surabaya.

Buat saya sendiri ini berita baik. Adalah impian saya sejak dulu untuk bisa bekerja keluar dari Jakarta. Menjauh dari kota yang sejak kecil saya tinggali. Hidup mandiri dari uang hasil keringat sendiri, punya kamar sendiri dan bisa membeli apa saja yang saya maui.

Pembicaraan dengan orang tua atas penawaran ini bagi saya sifatnya lebih pada pemberitahuan, bukan berdiskusi apalagi sampai harus tawar menawar. Karena bahkan sebelum pulang kerumah, saya sendiri sudah memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di Jawa Timur.

Membayangkan saya akan kerja merantau ke Jawa Timur saja sudah membuat hati saya girang. Meskipun saya tahu ini adalah baru tes pertama dan belum ada jaminan juga kalau saya akan di terima bekerja di sana.



Cikupa, 16 Februari 2026

Selanjutnya ...

Tuesday, 19 June 2018

Guru yang saya kagumi

Ketika kecil saya pernah sangat bercita-cita untuk kelak menjadi seorang guru. Dimata saya yang kanak-kanak dulu, profesi guru sungguh enak. Ketika berbicara dan didengarkan oleh murid-murid sekelas, buat saya itu sungguh menyenangkan.

Saat itu saya belum paham benar makna kata mulia untuk profesi seorang guru. Hanya perasaan enak saja, karena merasa punya kuasa atas murid yang di ajar.

Kelak setelah dewasa saya menyadari makna kata mulia disini adalah bahwa kita bukanlah kita yang sekarang ini tanpa peranan guru kita dahulu.

Sepanjang kenangan saya belajar disekolah, ada satu guru yang buat saya sungguh meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Seorang perempuan yang pernah menjadi wali kelas saya di SD. Beliau begitu saya kagumi karena sikap-sikapnya yang lemah lembut dan keibuan.

Namanya Bu Guru Sudarwati. Keturunan Jawa, parasnya manis, rambutnya sebahu, berkulit agak coklat dan selalu menggunakan pakaian rok terusan saat mengajar. Cara beliau saat berbicara dengan siswanya sungguh lembut, amat kenes khas Jawa. Tidak pernah seingat saya beliau berbicara dengan nada yang tinggi. Selalu saja datar, luwes dengan intonasi baik.

Kekaguman saya terhadap Bu Guru Sudarwati bukanlah mengenai materi pelajaran yang beliau ajarkan. Namun lebih kepada bagaimana beliau bersikap, pada senyumnya yang selalu mengembang, pada caranya merangkul anak didiknya dan pada cara beliau berbicara yang sungguh amat mengesankan, sangat lah mirip dengan Mbah Putri saya di Purworejo yang juga adalah idola saya.

Saat beliau melahirkan anak pertamanya, saya bersama beberapa teman sekelas berkunjung sore-sore kerumah Bu Guru Sudarwati. Kami bertemu dengan suami Bu Guru Sudarwati yang menurut saya sungguh mirip dengan pebulutangkis Liem Swie King. Kulitnya putih dan rambutnya ikal. Suami Bu Guru Sudarwati juga sangat ramah. Beliau menyambut kami serombongan dengan banyak senyum. Dan kebetulan sekali saat itu suami Bu Guru Sudarwati bercelana pendek ala pemain bulu tangkis juga, jadi klop lah dengan penampakan Liem Swie King.

Rumah Bu Guru Sudarwati adalah rumah kontrakan sepetak, berdinding geribik (anyaman bambu) dengan kamar mandi yang terpisah dari rumah. Didalam rumah yang hanya satu kamar itu, bersatu semua barang-barang milik keluarga Bu Guru Sudarwati. Disitu ada tempat tidur berkelambu, lemari kecil, kompor, panci, ember dan lain-lain. Lantainya tanah, jadi kami semua tetap bersandalan saat didalam rumah Bu Guru Sudarwati.

Bu Guru Sudarwati hanya 1 tahun menjadi wali kelas saya di SD. Namun kenangan atas pribadi beliau yang baik itu meninggalkan banyak kesan mendalam pada saya. Mengalahkan banyak guru SD saya yang lain yang pernah juga menjadi guru dan wali kelas saya.

Cerita itu semua terjadi sekira 37-38 tahun yang lalu. Selepas saya SD saya tak pernah berjumpa lagi dengan Bu Guru Sudarwati. Dari beberapa teman saya, ada saya dengar juga bahwa beliau masih terus mengajar di sekolah yang sama.

Kalau saat dulu sekolah usia saya 10 tahun dan usia Bu Guru Sudarwati katakanlah 20 tahun, itu artinya usia Bu Guru Sudarwati saat ini sudah 58 tahun. Sangat mungkin saat ini beliau sudah sudah pensiun dari mengajar dan sedang menikmati perannya sebagai seorang Nenek, anak dari bayi yang 38 tahun yang lalu saya kunjungi kelahirannya di Rumah Bu Guru Sudarwati.

 

 

Cikupa, 19 Juni 2018


Sunday, 1 November 2015

Mbah Reso

Hampir disetiap liburan kenaikan kelas sekolah dasar saya selalu berkunjung kerumah mbah di Purworejo Jawa Tengah. Kadang sendiri saya berlibur disana namun lebih sering bersama adik mengunjungi mbah saya di Purworejo.

Nama desa mbah adalah Desa Seren. Saya selalu menyebutnya hanya Seren. Jika sudah menjelang liburan saya selalu bertanya pada ibu tentang peluang untuk bisa berlibur ke Seren. Dan ketika di jawab ya oleh ibu betapa senangnya saya saat itu. Yang terbayang pada saya adalah sawah, kebun, udara yang segar serta kelembutan mbah putri.

Seren hanyalah desa kecil yang tidak terlalu terkenal di Purworejo. Saya tahu mengenai ketidak terkenalan Seren ini ketika sudah menginjak dewasa. Saat bertemu dan mengobrol dengan seseorang yang saya kenal, dan ketika dalam pembicaraan ada terselip asal daerah lawan bicara saya yang mengaku lahir dan besar di Purworejo maka lansung saja saya mengaku bahwa ibu saya juga berasal dari Purworejo. Tak lupa saya sebutkan nama Seren pada kelanjutan informasi saya itu. Namun kebanyakan dari lawan bicara saya tak mengenal nama Seren. Mereka ada sedikit upaya menerawang, berpikir dengan agak keras dengan cara kepala dan mata mendongak sedikit keatas seperti mencoba mengingat-ingat semua pengetahuan mereka tentang Purworejo. Dan sepanjang ingatan saya tak ada satupun dari mereka yang pernah mengenal Seren ini.

Pasar di Seren buka hanya dua kali seminggu, Rabu dan Sabtu. Mbah selalu menyebutnya dengan hari pasaran. Saat pasaran itu penduduk desa, yang tinggal di Seren maupun  yang diluar Seren akan berbondong-bondong mendatangi pasar Seren untuk kegiatan jual beli.

Mbah Reso adalah salah satu pelaku hari pasaran. Beliau dua kali seminggu itu berjualan bubur nasi dipasar. Bubur yang menurut ukuran saya yang masih kanak-kanak kecil sungguh unik dan enak.

Bubur itu sebetulnya ya sebagaimana biasanya bubur nasi, lembek dan legit karena sudah dicampuri santan kelapa. Namun yang membedakan dari bubur umumnya, bubur mbah Reso ini selalu dicampuri dua pilihan, pecel atau sayur tempe. Saya sungguh menikmati sensasi bubur mbah Reso.

Kadang karena mbah Reso tinggal tidak jauh dari tempat tinggal mbah putri, pas hari pasaran, sebelum mbah Reso berangkat kepasar, saya sering pagi-pagi diantar oleh mbah putri ketempat mbah Reso untuk berbelanja beberapa bungkus bubur untuk dimakan sebagai sarapan pagi saya.

Buat saya yang kanak-kanak, mbah Reso dan buburnya sungguh menyisakan kenangan tak terlupakan. Maka ketika beberapa tahun yang lalu saya mendengar berita mbah Reso sudah berpulang ke PangkuanNya, saya merasa kehilangan, kehilangan sosok mbah reso yang kala itu saja sudah sepuh dan rapuh, juga buburnya yang enak itu.

Bubur pecel atau bubur tempe ala mbah Reso tak pernah bisa saya jumpai lagi. Ketika saya berkunjung kembali ke Seren beberapa tahun yang lalu, ada saya coba sempatkan membeli bubur yang sama di pasar yang menurut orang-orang adalah buatan anak mbah Reso, namun tak saya jumpai lagi sensasi sebagaimana masa kanak-kanak saya dulu.

Masa kanak-kanak selalu saja menyisakan kenangan tak terlupakan. Bubur yang bisa jadi untuk ukuran saya sekarang biasa-biasa saja, namun dimata kanak-kanak saya sungguh adalah pengalaman indah yang tak kan pernah ada habisnya dikenang.

 

 

Bandar Lampung, 01 Nov 2015

Friday, 17 September 2010

Pindah ke Bandar Lampung (Bagian 2)

Begitu pesawat mendarat,dengan taksi kami menuju hotel yang sudah kami booking, namanya Hotel Indra Puri. lokasi hotel ada di paling puncak sebuah bukit kecil. Dengan posisi yang begitu bagus maka dapat kami lihat dari jendela kamar pemandangan pantai teluk betung dari sudut atas _ berikut segala keruwetan sebuah kota pesisir, rumah kecil besar, jalan jalan berkelak kelok yang tak beraturan itu.

Paling asik memang kalau melihatnya diwaktu malam, lampu-lampu kerlap kerlip menjadikan keruwetan di siang hari jadi tak nampak. Yang ada hanya seperti melihat kunang-kunang dari kejauhan.

Kami menempati satu kamar kelas deluxe. Isinya standar saja, satu tempat tidur besar plus tolet berikut meja kerja disampingnya.
Tasya jelas kelihatan senang sekali dengan rumah barunya ini. Apalagi di kamar mandi ada bath tube yang buat anak umur dua tahun seperti kolam renang saja. Dan Tasya selalu saja ingin berlama-lama di kolam renangnya itu.

 

“ kita kayak orang kaya ya ma..”
“yaa “ kata mamanya.

 

Dihotel oleh kantor, kami boleh memesan makanan apa saja yang kami suka sepanjang rasional, artinya tidak berlebih, secukupnya dan semampu perut kami sendiri.

Kami dijatah maksimal dua minggu tinggal di hotel sambil sementara itu mencari sendiri rumah pilihan kami.

Oleh Pak Boyke, kepala HRD, dalam beberapa kali kesempatan kami sekeluarga diajaknya berkeliling Bandar Lampung untuk melihat-lihat beberapa lokasi yang mungkin saja sreg buat kami.

Dalam mencari tempat tinggal saya cukup berpedoman yang penting istri suka dan cocok. Suka dengan rumahnya, cocok dengan lingkungannya. Buat saya penting jika istri sudah cocok dengan lingkungannya karena toh yang paling banyak berdiam dan beraktifitas dirumah kan istri dan anak. Saya sendiri di hari kerja paling berapa jam saja menikmati rumah sepulang kantor. Dan istri waktu itu menimbang-nimbang ada baiknya jika rumah kami tak jauh-jauh dari pasar agar mudah dalam urusan perbelanjaan keperluan dapur.

Waktu itu belum terpikir dulu oleh kami untuk menimbang lokasi sekolah terdekat karena Tasya juga masih baru dua tahun usianya.

Tak banyak sebenarnya rumah yang sempat kami kunjungi. Kami sepenuhnya bergantung pada kemana pak Boyke membawa kami. Beberapa lokasi perumahan ada juga kami hampiri tapi ya itu.. ada saja hal dari pak Boyke yang membuat kami tidak sampai deal.

Entah kebetulan atau bagaimana kami sampai pada satu rumah yang secara phisik belum jadi, masih dalam tahap dibangun, belum berlantai. Ukuran rumah itu sangat besar, ada sekiranya kurang-lebih 120m2 hanya rumah, belum lagi sisa tanah depan samping belakang. Ada empat kamar tidur, dua kamar mandi.

Pak Boyke bilang kalau kenal baik dengan pemilik rumah, sudah seperti saudara. Rumah itu rupanya milik paman dari sahabat dekat pak Boyke. Dan kami manut saja, monggo kerso. Pikir kami, rumah baru, besar, dekat pasar di bayari kantor pula _ kenapa harus berpikir rumit?

Ibu Anas, sipemilk rumah, bibi dari sahabat pak Boyke, menemani kami melihat-lihat rumah itu. Usianya paruh baya, sekitar lewat empat puluhan saya taksir. Dari pengamatan kami ibu Anas ini baik, ramah dan ramai kalau bicara. Ceplas-ceplos saja dia dalam mempromosikan rumahnya. Tak sampai lama pembicaraan, yang sebetulnya malah ngalor-ngidul itu, kami sepakat untuk deal.

Sesuai dengan aturan kantor kami ambil untuk masa dua tahun kontrak tujuh juta setahunnya. Kantor memberi kuota pada saya 20% dari total annual gross salary untuk kontrak setahunnya. Jadi kalau tujuh juta masih masuklah dengan kuota saya.

Karena antara pak Boyke dan ibu Anas sudah kenal dekat maka urusan administrasi menjadi gampang. Semuanya cingcay saja. Dari ibu Anas sendiri bilang pembangunan akan dikebut karena memang tinggal lantai dan pengecatan saja. Dalam seminggu pasti beres.. begitu janji ibu Anas.

Dan memang tak sampai seminggu kemudian pindahlah kami dari hotel ke rumah baru kami. Rumah yang besar sekali, baru sama sekali, dan masih terasa aroma cat disana sini.

 

Bandar Lampung, 17 Sep 2010

Monday, 6 September 2010

Pindah ke Bandar Lampung (Bagian 1)

Sewaktu saya dipanggil oleh atasan saya dan lalu disampaikanlah bahwa saya akan di mutasi ke Lampung, tepatnya Bandar Lampung, berkelebatanlah bayangan-bayangan imaginasi saya tentang seperti apa rupa Bandar Lampung.

Pulau Sumatra, hanya pernah saya dengar dan lihat lewat media. Membayangkan bahwa saya suatu hari akan berdiam atau tinggal disana, tak pernah ada dalam pikiran saya. Memang ada suatu kali saya memimpikan berkunjung ke danau toba dan pulau samosirnya. Atau mampir merasakan sejuknya udara di Brastagi. Atau melihat jam gadang di Padang serta menyusuri bukit barisannya yang kesohor indah itu. Tapi semua itu cuma berkunjung, short visit.

Cuma beberapa hari saja setelah itu pulang.

Dan sekarang ini awal tahun 2001. Di akhir tahun 2000 kemarin, gereja-gereja banyak yang di kirimi bom menjelang perayaan Natal. Situasi nasional yang tegang waktu itu sedikit banyak membuat saya agak khawatir.

Lalu sekarang, atasan saya ini, mengabarkan kalau saya dalam dua bulan kedepan harus pindah, karena pabrik tempat saya bekerja sekarang akan ditutup. Perusahaan menetapkan kalau masih tetap ingin berkerja di perusahaan ini yaa cuma di Sumatra yang ada posisi untuk saya. Take it or leave it. Dan saya memilih untuk tetap bekerja diperusahaan ini.


Sampai rumah saya kabarkan berita ini kepada istri saya. Sama dengan saya, tak terbayang juga oleh istri saya macam apa Bandar Lampung itu. Dipedalaman kah? Apa kami akan tinggal di tengah hutan dengan jalan yang jelek tak beraspal? Lalu disekeliling rumah kami berjajaran pohon-pohon besar dengan diatasnya bergelayutan monyet-monyet liar jerit menjerit sahut-menyahut? Rumah kami pasti rumah panggung agar ular dan binatang buas lainnya tidak bisa menyantroni kami? Kami saling memandang dan semua tanya kami itu tak terjawab.


Hari itupun tiba. Kami harus pindah, pergi dari Tangerang menuju tanah tak terbayangkan, Bandar Lampung. Kami berpamitan pada tetangga sekitar. Salam menyalam minta restu, mohon maaf jika ada kesalahan pada kami berdua. Tasya anak kami, belum lagi genap dua tahun. Belum mengerti kenapa mamanya menangis berpelukan dengan mama temannya.


Semua barang perabotan sudah di packing. Perusahaan menyediakan jasa transporter untuk mengepak dan membawa seluruh barang kami dengan trailer. Semua tinggal beres, kami hanya membawa satu tas berisi pakaian untuk keperluan kami beberapa hari kedepan. Tiket pesawat sudah pada kami, hotel di Bandar Lampung sudah dipesan oleh kantor dan kamipun berangkat. Tidak lansung ke bandara tapi mampir dulu ke Tanjung Priok tempat Mbah-nya Tasya. Memang sudah rencana kami untuk menginap dulu semalam disana sebelum kami ke Bandar Lampung.


Paginya, setelah berpamitan dan mohon restu, dengan taksi kami menuju bandara Soekarno-Hatta. Ini kali pertama untuk istri saya dan Tasya berpergian dengan pesawat. Saya merasai istri saya agak sedikit tegang dan khawatir dengan pengalaman pertamanya ini dan saya mengerti itu. Saya pun pernah merasakan apa yang dirasakan oleh istri saya sekarang ini. Saya besarkan hatinya, semua akan baik-baik saja, kata saya.


Diruang tunggu untuk boarding, saya lihat ada perempuan yang wajahnya cukup familiar buat saya. Kulitnya kuning rambutnya tebal sebahu. Saya perhatikan sendirian saja dia. Yaa.. Ibu Indrawati, bekas orang Kejayan yang lalu pindah ke kantor pusat di Jakarta. Saya sapa kemudian ibu Indrawati ini. Beliau juga mengenali saya. Kamipun bersalaman juga istri saya dan Tasya. Lalu kami duduk bersama mengobrol sambil menunggu panggilan boarding. Ibu Indrawati ternyata juga hendak ke Bandar Lampung dan akan satu pesawat dengan kami.


Dalam pembicaraan sebelum naik pesawat itu saya baru tahu bahwa Ibu Indrawati juga sama seperti saya, akan bertugas di Bandar Lampung di pabrik yang sama.
Hari itu adalah hari Minggu dan besoknya, hari Senin, Ibu Indrawati ini akan memulai hidup baru sama dengan saya. Hari pertama di pabrik yang sama, di Bandar Lampung.

Beliau akan menjadi atasan saya, factory manager saya untuk beberapa tahun kedepan.

Bandar Lampung, 6 Sep 2010

Selanjutnya ...

Tuesday, 31 August 2010

Ayu dan Kokom

Semenjak usia saya masuk belasan tahun ada kalanya hati saya suka bergetar jika melihat perempuan yang manis rupawan. Saya paling suka dengan perempuan yang halus, lembut dan kenes. Buat saya waktu itu, perempuan seperti inilah yang kelak saya ingin jadikan pacar atau malah saya peristri.

Ada teman sekolah (SMP) saya, kami berbeda kelas dan kebetulan juga namanya Ayu dengan Rahayu dibelakangnya. Parasnya, menurut saya waktu itu, memang se-ayu namanya. Kulitnya hitam manis, hidung mancung dengan perawakan menuju kurus. Saya begitu mengidolakan Ayu ini. Berbagai cara saya coba lakukan agar bisa dekat dengan Ayu. Pura-pura pinjam buku, membantu mengerjakan PR atau sekedar menemani perjalanan pulang dari sekolah.

Karena sudah cukup sering hal itu saya lakukan. dan belum pernah ada penolakan, maka dalam menjalani itu semua saya lantas berpikir Ayu ini apa memang sudah mau dengan saya atau gimana ya.., dan saya yang masih kelas satu SMP waktu itu tentu saja tak punya keberanian untuk bertanya.

Ayu mempunyai sahabat, teman sekelasnya namanya Komariah. Kami disekolah memanggilnya dengan nama kecil, Kokom. Ayu dan Kokom ini bak serangkai didalam dan diluar kelas. Kemana-mana mereka selalu saja berdua. Kokom badannya lebih berisi dibanding Ayu. Kulitnya kuning bersih. Rambutnya yang sebahu, terlihat hitam dan tebal. Dalam perbincangan antar kawan lelaki disekolah, rupanya Kokom ini punya fans yang lumayan banyak. Rata-rata mereka menyukai bodi Kokom yang berisi itu. Dada dan bokong Kokom menjadi daya tarik khusus para kawan saya ini.

Belum lagi bibirnya yang lumayan tebal, sexy sekali. Pasti enak tuu kalau buat berciuman, kata kami dalam gurauan.

Berciuman…? anak kelas satu SMP ? dan saya waktu itu baru bisa membayangkan saja seperti yang saya suka lihat difilm-film bioskop.

Dan apapun komentar kawan-kawan saya tentang Kokom, tidaklah lalu menggoyahkan kesenangan saya akan Ayu. Kelembutannya dan kenesnya itu yang membuat saya setia menyukainya.

Kokom, meskipun ada juga saya benarkan pendapat kawan saya, agak terlalu agresif, juga saya lebih suka perempuan berbibir tipis dan Ayu bibirnya termasuk tipis.

Mengenang ketertarikan saya pada Ayu ini, saya jadi ingat bagaimana sewaktu SD dulu saya juga sangat mengidolakan wali kelas saya, waktu itu saya dikelas tiga, namanya ibu Sudarwati. Sama seperti Ayu, ibu Sudarwati sangat lembut, kenes dan keibuan sekali.

Cara beliau menyampaikan ajaran, merespon kenakalan kami, menyapa kami diawal hari atau sekedar menemani kami saat waktu istirahat kelas.. sungguh mengesankan, sangat memorable.

Dan sekarang setelah tiga puluh tahun, saya berharap kelak jika bisa berkesempatan untuk bertemu lagi dengan ibu Sudarwati, satu hal saya ingin sampaikan pada beliau adalah mengucapkan banyak terima kasih karena sudah memberi saya banyak sekali teladan serta kelembutan-kelembutan.

Lalu bagaimana dengan Ayu dan Kokom?

Ahh biarlah semua itu menjadi cerita pengantar tidur saya saja.
Lagi pula.. ternyata waktu itu, tak sampai saya menamatkan SMP, saya malah sudah balik arah, berubah selera jadi suka perempuan bertipe seperti Kokom. Yang bodinya aduhai, putih, mulus dan berbibir sexy.

Mengenai kenes atau tidak sudah bukan jadi ukuran lagi.

Maklumlah, namanya juga masih remaja...masih suka berubah-rubah.


Bandar Lampung, 31 Agustus 2010

Tuesday, 27 October 2009

PKKT, Sekolah Jerman ku


Sudah hampir 20 tahun meninggalkan PKKT
Tak terasa sudah begitu lama
Senang susah berkali kali terlampaui
Banyak hal yang telah terjadi,
Banyak hal yang terekam dalam sekali

Sekolah gratis dapat uang saku, ya di PKKT
Sekolah dapat baju dan sepatu, ya di PKKT
Sekolah dapat makan siang enak, ya di PKKT
Sekolah yang cuma Senin sampai Jum’at, ya di PKKT
Sekolah yang kelasnya ber AC, ya di PKKT

Kami dulu sekolah sambil bersenang-senang,
Serius tapi santai, Santai tapi serius

Mbolos bareng karena pingin nonton siaran tinju lansung,
Setelah tinju lanjut bersenang-senang ke Dufan Ancol

Week end ke Bogor rame2 nggandol truk,
kehabisan duit, akhirnya ngamen
Duit ngamen buat beli rokok sebungkus dibagi rame2

Guru paling killer saja kami ajak keluar kandang
Ramai2 nyebrang laut ke pulau Nyamuk
Seharian berenang, seharian bersenang-senang

Semua itu cuma ketika di PKKT ….

Pertama nonton di twenty one, ya saat di PKKT
Bangga sekali bisa makan di KFC, ya saat di PKKT
Naik taxi bareng, lalu terpaksa turun karena duitnya gak cukup, ya saat di PKKT
Jum’at sore nonton film bareng di kantin, ya saat di PKKT

PKKT adalah sekolah betulan, sekolah beneran
Kalau bisa mengikuti pelajaran silahkan terus
Kalau tidak bisa ya drop out

Biarpun kelihatan berangkat pulang sekolah nyantai
Sesungguhnya kami sangat serius
Serius karena takut tidak lulus

Ada yang saat ujian rajin minum Cerebrovit
Belajar bersama nginap dirumah teman,
Membayangkan kalau tidak lulus bagaimana nantinya
Malah ada yang punya rencana pura2 gila kalau tidak lulus

Kini setelah hampir 20 tahun berlalu
Masih saja senang mengenang itu semua
Ada perasaan rindu ingin mengulang
Ada rasa bangga saat bercerita pada anak-anak kita

Terima kasih PKKT, terima kasih sekolah Jerman ku.
Terima kasih untuk banyak hal,
yang telah membuat kami lebih siap menatap hari kedepan

Menjadi bagian dari perjalanmu
Adalah pengalaman luar biasa tak tergantikan.

Maju terus PKKT ku
Berjayalah selalu semua alumnimu.


Bandar Lampung, Oktober 2009


Tuesday, 15 August 2006

Lingkaran setan (bagian 3, Selesai)

Semua persaingan di meja kerja sebenarnyalah tidak semata persaingan buta. Kami tetap anak-anak yang senang berteman sepermainan. Ledek meledek atas hasil yang telah dicapai bukanlah berkonotasi saling merendahkan. Semua Cuma ungkapan humor yang memang perlu penyaluran – ungkapan persahabatan. Yang sudah mendahului tidaklah kemudian jumawa lalu mentang-mentang. Tidak begitu. Yang tertinggal tidaklah lalu merasa lebih rendah.

Jika sedang rehat ada keluar gurauan kami tentang dimana posisi masing-masing. Si A sudah sampai mana si B masih dimana dan ini memunculkan rasa kebersamaan atas teman sekeringat. Lalu diaturlah strategi disini. Yang sudah sampai tugas kelima bolehlah menawarkan hasil pekerjaannya pada yang baru tugas ketiga dan mentok berulang kali di tolak sang instruktur.

Perjanjiannya begini : hasil tugas ketiga yang sudah di okekan oleh instruktur akan dipakai oleh si B yang berulang kali mentok ditugas ketiga. Sudah tentu, resiko tanggung penumpang alias si B dan sebelumnya ada dibuat gentlemen agreement, kesepakatan antar lelaki, kalau ini ketahuan tidaklah membawa celaka bagi yang menolong.

Ooo alangkah indah persahabatan. Mengejar posisi unggul sah-sah saja tapi pertemanan mutlak berbicara disini. Dan entah karena kami yang pandai berselingkuh atau nasib baik memang berpihak pada kami – tak tahulah. Yang pasti strategi ini selalu mulus dan kami semua senang atas itu.

Saya tak ingat bagaimana mula istilah ini diperdengarkan. Siapa yang memulai tak jelas. Dan istilah ini hanya ditempelkan untuk kaum tertinggal diurusan praktikum_tidak pada urusan teori. Tapi istilah ini terus melekat kuat sampai kami selesai pendidikan dan terus menjadi obrolan menyenangkan pada waktu-waktu kami reunian di kemudian hari, sangat memorable.

Pada teman dikelompok yang tertinggal ini kami mengistilahkan mereka Lingkaran setan. Kenapa lingkaran karena anggotanya ya itu-itu saja. Melingkar-lingkar hanya disitu saja. Kalaupun berubah Cuma formatnya – urutannya saja. Selebihnya ya Cuma mereka ini.
Lalu kenapa ada kata setan, nah ini dia, sebenarnya tidaklah kami memaknai mereka setan dalam arti sebenarnya. Cuma meneruskan kata lingkaran saja. Lingkaran setan ini pada kami berarti kelompok yang kami upayakan untuk menghindar dari keanggotaannya. Kalaupun harus terjerumus kedalamnya upaya maksimal harus dilakukan agar bisa segera keluar, entah secara individu atau dengan berselingkuh itu.

Inilah uniknya PKKTL-9. Ada yang kalau ujian tertulis selalu unggul. Nilainya amat membanggakan. Jika berbicara selalu pada level tertinggi. Tapi karena kurang pada kecakapan dan kecepatan masuklah dia dikelompok lingkaran setan. Tak pernah bisa keluar meski usaha sudah maksimal, termasuk dengan - usaha perselingkuhan itu.

Selesai.

Bandar Lampung, Agustus 2006

Sebelumnya


Sunday, 13 August 2006

Lingkaran setan (bagian 2)

Pada angkatan kami, sebagaimana dua sisi mata uang, juga terdiri dari cakap-tidak cakap__ cepat-tidak cepat. Yang cakap dan cepat, mungkin karena sudah bakat lahiriahnya tak pernah bisa terkejar oleh kelompok yang sebaliknya. Apapun tugasnya, tak peduli itu berkaitan dengan besi ataupun kabel tetap saja mereka unggul. Selalu lebih cepat. Tak selalu lebih bagus memang – tapi dalam hal ini bagus bukanlah ukuran. Yang penting diokekan oleh instruktur itu sudahlah cukup. Dan melaju dengan dua tiga tugas didepan pesaing amatlah membanggakan diri. Sementara menjadi yang tertinggal sudahlah pasti tidak mengenakkan. Tak enaklah melihat teman sudah berganti tugas sementara kita masih harus berkutat dengan tugas yang itu-itu saja.

Bagi kelompok tertinggal saat-saat ketika harus berhadapan dengan instruktur kala menyampaikan tugas adalah saat yang mendebarkan. Iya kalau lansung oke bisa lansung ketugas berikutnya, kalau tidak? apalagi jika maju kesekian kali untuk tugas yang sama dan masih juga belum di oke kan, ughh sesaklah dada ini.

Belum lagi mendapatkan sang pesaing tersenyum yang disembunyikan saat kita balik badan kembali kemeja kerja untuk tugas yang sama. Bukan untuk mengejek tapi lebih pada merasa geli dengan ekspresi kedua pihak. Seperti melihat majikan dan batur. Satunya berkuasa memerintah satunya tak kuasa diperintah. Yang tua komat kamit badan ditegakkan tangan bergerak-gerak, yang muda hanya mantuk-mantuk tak banyak omong kedua tangan biasanya diadu didepan badan.

Sang instruktur, dalam hal ini adalah penguasa tunggal. Dialah yang menentukan bakal apa jadinya kita. Kata-katanya selalu bermakna sabda, gerakan tangannya bernada perintah dan matanya melemahkan urat syaraf kita. Jadi mendengarkan apa katanya, ikuti gerakan tangannya dan turuti kemana matanya bergerak adalah sudah separoh lebih peluang kita lebih besar.

Sesungguhnya, karena keseniorannya, Sang Instruktur sudahlah tahu kemampuan kami masing-masing. Berapa cakap si A berapa cepat si C bisalah dia meraba dari satu dua tugas yang dia berikan. Dan dari tahun ke tahun angkatan ke angkatan selalu saja ada dua kelompok ini. Tipikal sekali. Melihat kelompok mendahului dan tertinggal sudahlah biasa buat Sang Instruktur ini.

Kadang, dalam kekuasaannya yang mutlak itu suka muncul selera humornya juga. Diajaknyalah kami bergurau, ditanggapinyalah juga ledekan kami. Atau dibalik keangkeran matanya sebetulnya ada dia Cuma ingin mengerjai kami, mengetes mental, berapa besar daya tahan kami. Biasanya kami tahu ini bukan tahu sendiri tapi oleh rekan yang melihat kami dan kemudian saling diceritakan.

Begini misalnya : suatu ketika maju kemeja Instruktur siswa dari kelompok tertinggal menyampaikan tugas, setelah dipegang-pegang sambil memicingkan mata tiba-tiba suara Sang Instruktur membesar, juga matanya dan dilemparlah pekerjaan siswa itu ketempat sampah sambil berkata-kata. Sang siswa, tanpa ba bi bu sambil mantuk mantuk berjalan ketempat sampah dan mengambil kembali pekerjaannya untuk dibetulkan lalu balik badan kembali kemeja kerja.

Nah saat dipunggungi siswa inilah Sang Instruktur mungkin tak bisa menahan gelinya sendiri, sambil memandang punggung tersenyumlah sang instruktur ini, he he he gue kerjain lu, mungkin begitu batinnya. Dan kami yang melihat adegan itu juga tersenyum geli sendiri.

Geli melihat majikan, geli melihat batur.


Bandar Lampung, Agustus 2006

Selanjutnya

Sebelumnya