Dengan lutut yang agak bengkak saya tetap saja masuk kerja. Sampai
berminggu kemudian kondisi lutut saya ya tetap segitu saja. Jalan tetap
pincang. Lutut saya, mungkin karena bengkak ini, tidak dapat dilipat penuh.
Betis tidak pernah bisa saya sentuhkan kebagian bawah paha saya. Jadi gerakan
kaki kiri saya ini sangat terbatas sekali.
Terakhir-terakhir saat berjalan saya cenderung selalu mau jatuh, Lutut saya,
jika jalan saya agak cepat atau kurang hati-hati, cenderung tertekuk kebagian
dalam. Persis saat kejadian saya jatuh dilapangan bulutangkis dulu.
Ujung-ujungnya jalan saya mestilah pelan dan diatur-atur supaya kaki saya tetap
dalam posisi lurus tidak sampai tertekuk kedalam.
Berkali-kali saya konsultasikan kedokter tulang tapi tidak ada manfaatnya sama
sekali. Kalau Cuma pincang saja okelah mungkin memang perlu waktu untuk proses
penyembuhan. Tapi ini selalu mau jatuh saja dan berbulan-bulan tidak ada
perubahan. Saya tidak sabar lagi. Hilang sudah rasa percaya saya terhadap semua
dokter tulang di Lampung ini. Saya harus berobat ke Jakarta…..!!
Adik saya kebetulan bekerja di Rumah sakit Pantai Indah Kapuk
(PIK). Menurut dia di PIK sana ada dokter tulang yang sangat terkenal, namanya
dokter Franky. Dibanding dengan dokter tulang lain yang kebetulan berpraktek
juga di PIK dokter Franky inilah yang pasiennya paling banyak dan dokter Franky
ini juga praktek di beberapa rumah sakit yang lain dan pasiennya juga banyak
disana.
Setelah confirm tanggal dan jam nya, Sabtu pagi berangkatlah saya
dari Lampung, Istri dan Tasya saya ajak. Sambil njenguk mbah nya di Jakarta,
begitu pikir saya.
Saya lansung “njujuk” dirumah adik saya. Kebetulan dia tinggal di rumah susun
yang berjarak tidak jauh dari PIK.
Menjelang jam lima sore diantar oleh suami adik saya, kami lansung
menuju PIK karena janjian dengan dokternya sekitar jam setengah enam. Benar,
tidak meleset jauh dari waktu yang ditentukan bertemulah saya dengan dokter
yang bernama Franky. Cepat saja saya diperintahkan rebah dan kaki saya mulai
diperiksa. Ditekuk-tekuk, ditarik-tarik, lutut saya diketuk-ketuk dengan
jarinya segera dia berkesimpulan bahwa antara tulang betis dan tulang paha
tidak terhubung baik yang artinya memang ada masalah dengan lutut saya. Tapi
apa masalahnya harus dilakukan pengecekan lebih detail dan diputuskan saat itu
juga saya besok harus dioperasi.
Kamar lansung disiapkan dan saya mesti opname malam itu juga. Ipar
saya pulang memberi kabar kerumah. Lalu kembali lagi kerumah sakit membawa baju
salin, bukan baju milik saya tapi baju milik ipar saya karena memang saya
berencana pulang kelampung besoknya sehingga saya sama sekali ada persiapan
untuk tinggal dalam waktu yang lama.
Pagi jam sembilan besoknya saya masuk ruang operasi. Seumur hidup
saya belum pernah saya dioperasi, membayangkan saja tidak. Jadi meskipun
berusaha rilek tetap saja saya ada perasaan gugup. Dokter Franky sejak awal
sudah mengatakan bahwa operasi ini adalah operasi antara, artinya setelah
diketahui masalahnya, dianalisa lalu baru diputuskan perlu tidaknya operasi
berikutnya.
Diruang operasi total ada lima pembantu dokter. Cuma satu yang
lelaki sisanya wanita semua dan semuanya saya perkirakan dibawah tigapuluh
tahunan usianya dan saya hanya mengenakan baju operasi yang super tipis itu
tanpa ada penutup tubuh yang lain. Sangat risi dipegang-pegang oleh wanita
ketika kita tidak mengenakan apa-apa.
Setelah diberi suntikan anastesi saya rebah terlentang. Antara badan dan kaki
saya diberi tirai penutup dan disamping kiri saya ada monitor 14” untuk saya
melihat jalannya operasi.
Kedua kaki saya ditumpukan kesebuah penyangga, persis seperti
wanita yang akan melahirkan.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian efek anastesi mulai bekerja. Kaki saya
mulai dari selangkangan tidak merasakan apa-apa lagi. Menggerakkan jari kaki
saja sedikitpun tidak bisa. Dalam pikiran saya kalau ada gempa atau kebakaran
bisa apa saya saat itu. Pasrah dan menyerahkan semuanya pada tim medis dan
Tuhan saja saya saat itu.
Yang dikatakan operasi adalah memasukan kamera optik kelutut saya
untuk menganalisa apa yang bermasalah pada lutut saya. Jadi tidak ada
pembedahan. Cuma alat seperti selang dia. 6mm ditusukkan kelutut saya.
Diawal operasi sambil mengutak-utik lutut saya dokter Franky
menerangkan apa saya yang dia lakukan. Ini tempurung, ini otot anu namanya, ini
jaringan anu. Sampai dia mengatakan ada otot yang terlepas dari tulang betis
saya. Saya melihat semuanya lewat monitor disamping saya. Otot yang lepas tadi
digerak-gerakkan oleh dokter Franky dan sepertinya dia ingin memastikan saya
sudah melihat apa yang menjadi masalah pada lutut saya.
Operasi belum selesai saya sudah tertidur. Entah karena efek
anastesi atau memang saya kurang tidur malamnya saya tidak pasti. Yang jelas
ketika saya sadar saya sudah tidak diruang operasi dan jam sudah menunjukan
pukul lima sore.
Malamnya dokter Franky mengunjungi saya. Diterangkan bahwa memang ada beberapa
otot yang terlepas dari tulang sehingga antara tulang betis dan tulang paha
tidak ada pertalian yang benar. Inilah alasan pasti kenapa saya jika berjalan
cenderung mau jatuh saja.
Dan dokter Franky menambahkan, kasus ini sama persis dengan apa
yang terjadi dengan pesepak bola Marco Van Basten ketika dia memutuskan untuk
gantung sepatu. Jadi..... sama dengan Marco Van Basten sepertinya saya juga
mesti gantung raket setelah operasi ini.
Selesai.
Bandar Lampung, Februari 2005
No comments:
Post a Comment