Pertama bersinggungan dengan PKKTL mulanya saya agak ragu apa bisa
prestasi saya tetap seperti sebagaimana saat saya bersekolah sebelumnya. Ragu
karena dari awal mula saya tahu kedepan hari-hari saya bakal dipenuhi dengan
keharusan belajar yang mutlak.
Mutlak? Bagaimana tidak, dari seribu tiga ratus lima puluh
pendaftar Cuma diambil dua ratus lima puluh terbaik. Lalu penyaringan lewat
test ppsikologi di ambil dua puluh lima terbaik. Peringkat dua puluh besar
sudah pasti lolos tinggal kesehatannya oke tidak. Jika gagal diambil dari lima
yang dicadangkan. Dan peringkat saya pas tipis benar dengan catatan saya
sebelumnya, saya ada berperingkat sepuluh test masuk.
Jadi memang bukan main buat saya bisa berkesempatan menjadi siswa
PKKTL ini. Berada dikalangan orang-orang mumpuni adalah selalu menjadi
keinginan saya, mimpi saya. Saya memang tak pernah merasakan sekalipun titel
juara kelas, paling mentok juara ketiga – itupun hanya sekali dua kali dan
semuanya saat saya disekolah dasar.
Namun saya selalu ada dilevel permainan atas. Peringkat saya tak
pernah lepas dari sepuluh besar dan kelas yang saya diami sampai saya
selesaikan menengah pertama saya, pastilah selalu terdiri dari anak yang
berperingkat teratas. Jadi tak pernah juara kelaspun tak terlalu mengganggu
saya, karena saya hanya terkalahkan oleh orang yang memang unggulan.
Dalam dua puluh orang kami menjalani pendidikan, sewajarnya orang
bersekolah, selalu saja ada dua sisi mata uang saling besebelahan. Ada
pintar-tidak pintar, ada cakap-tidak cakap, nakal-tidak nakal, cepat-tidak
cepat, favorit guru-bukan favorit guru dan sebagainya.
Sebagaimana koin, dua sisi ini selalu ada, beriringan dan saling
melengkapi.
Pada PKKTL ada satu hal yang membuat institusi ini berbeda dengan
kebanyakan institusi pendidikan yang lain, yaitu iklim kompetisi antar siswa
yang dibangun begitu rapi dan konsisten dalam pelaksanaannya.
Kurikulum yang mensyaratkan siswa baru boleh mengerjakan tugas
berikutnya hanya jika tugas yang sekarang dikerjakan sudah tuntas benar-benar
membuat siswa terpacu untuk tidak ketinggalan oleh yang lain. Keinginan untuk
mengeluarkan segala kemampuan begitu menggebu. Adu cepat, adu bagus, ada di
setiap detik dalam keseharian. Saling lirik depan belakang kanan kiri adalah
strategi standard yang harus dijalankan agar irama bisa selalu diatur untuk
tetap kompetitif.
Saya ambil contoh : Dalam hal tugas praktikum, pintar saja tidak
cukup. Siswa haruslah juga cakap dan cepat. Saat sama-sama menerima tugas
pertama segera injak gas dan kebut sebisanya. Memastikan tidak tertinggal
ditugas pertama adalah harus. Moral mesti diraih agar kepercayaan diri menguat.
Ditugas pertama tak perlu dulu lirik sana-sini. Fokus saja. Usahakan bisa maju
ke instruktur lebih dulu. Biar oleh instruktur ini hasil keringat kita
dipegangnya, dirabanya, diukurnya, dicari-cari kesalahannya terus kita dengar
komentar-komentarnya.
Jika belum oke segera kerjakan lagi, kita betulkan, lakukan segala
komentarnya, lalu maju lagi sampai di oke kan hasil kita ini. Kalau sudah oke
tugas yang selanjutnya pun diberikanlah ke kita dan dikerjakan dengan pola yang
sama.
Ditugas ketiga keempat adalah kita sempatkan melirik pesaing kita,
teman-teman sekeringat disekitar kita. Dimana posisi kita dan gigi berapa kita
harus pasang disinilah waktunya.
Kalau sudah unggul bolehlah santai barang sejenak mengambil nafas,
mengaso. Tak perlu terburu-buru, biar para pesaing saja yang tergopoh-gopoh
mengejar. Atau - jika ingin memperbesar jarak bolehlah tempo ditambah. Semua
jurus dikeluarkan, gas ditekan lebih dalam. Usahakan untuk mendahului paling
tidak dua atau tiga tugas.
Memang asyik jika sudah leading jauh. Kalaupun kita lengah atau
terpeleset sekali dua kali jarak tetaplah terjaga – masih belum tersalip.
Bandar Lampung, Agustus 2006
No comments:
Post a Comment