Siang itu saya tiba-tiba didatangi teman yang mengabarkan kalau
saya dipanggil oleh kepala pabrik kami, Pak Yusupadi. Teman saya ini juga
menyampaikan bahwa selain saya ada teman seangkatan saya, Fredy dan Bayu, juga
diminta menghadap Pak Yusupadi. Atas kabar ini timbul pertanyaan dalam diri
saya ada apa tiba-tiba Pak Yusupadi memanggil saya. Apa yang telah saya lakukan
sampai seorang Kepala pabrik memanggil saya untuk datang kekantornya. Lalu
mengapa saya dipanggil bersama dengan Fredy dan Bayu? Hubungan kami selama
ini baik-baik saja, pun di pekerjaan tidak ada masalah. Lalu kenapa ada
pemanggilan? ada persoalan apa? Dan pertanyaan-pertanyaan yang menghujam itu
berputar-putar saja didalam otak kepala saya. Saya menjadi harap-harap cemas.
Berharap ini adalah berita baik, cemas karena takut ini adalah berita tidak
baik. Dan semua pertanyaan yang terus berlarian di otak kepala saya itu tak
juga membuahkan jawab.
Saya, Fredy dan Bayu saat itu adalah siswa
kelas 3 Pendidikan Khusus Kejuruan Teknik Lisrik PT Siemens Indonesia.
Seluruhnya kami berdua puluh siswa dalam satu angkatan. Tahun ini adalah tahun
ketiga kami menjalani pendidikan dan akan menjadi tahun terakhir kami
bersekolah disana. Khusus kelas tiga kami sudah tidak lagi belajar teori
dikelas. Di tahun ketiga, selama setahun penuh kami dididik untuk berkenalan
lansung dengan dunia kerja yang sebenarnya. Semua ilmu yang telah kami pelajari
di dua tahun pertama kami bersekolah, teori maupun praktek, lansung
diaplikasikan dalam bentuk kerja sesungguhnya di wokshop tempat pembuatan
panel-panel listrik. Masing-masing kami berdua puluh dititipkan pada pekerja
yang sudah berpengalaman untuk dapat kami timba ilmu dan
pengalamannya. Kami akan lulus di bulan September nanti dan hari ini
sudah bulan Juli.
Setibanya saya di ruang Pak Yuspadi, disana
sudah ada Fredy dan Bayu yang berdiri persis setelah pintu masuk. Sepertinya
mereka berdua datang hanya berselisih tak lama sebelum saya datang. Terlihat
juga sudah ada Pak Dharma, kepala sekolah PKKTL, yang duduk disamping meja
kerja pak Yusupadi.
Pak Yusupadi dan Pak Dharma dengan santun
mempersilahkan saya, Fredy dan Bayu untuk duduk di kursi yang telah di siapkan.
Oleh perintah itu kami pun segera duduk dengan isi kepala yang campur aduk
menunggu akan ada berita apakah gerangan. Ada juga sempat kami bertiga lewat
kernyitan mata saling memandang_ bertanya satu sama lain. Dan seperti
digerakkan oleh suasana tegang, kami serentak secara perlahan saling menaikkan
bahu kami pertanda kami bertiga belumlah tahu berita apa yang akan
disampaikan.
Pak Yusupadi adalah tipe orang yang tidak
banyak bicara, gaya komunikasinya simple namun lugas. Sebagai kepala pabrik,
beliau sering saya lihat berkeliling workshop untuk mengontrol pekerjaan anak
buahnya. Dalam sepanjang ingatan saya selama 3 tahun bersekolah, saya belum
pernah berbincang-bincang lansung dengan Pak Yusupadi. Saya sangat menyegani
beliau. Dimata saya, beliau adalah orang yang terhormat, seorang bos!.
Adapun Pak Dharma, adalah seorang kepala
sekolah yang sudah sangat senior, sangat berpengalaman di bidang pendidikan.
Beliau orang yang penuh optimisme. Dengan gaya dialognya yang berlogat Jawa,
Pak Dharma selalu bisa menggelorakan hati kami para siswa untuk selalu
bersemangat dalam belajar agar kelak bisa meraih masa depan yang
gemilang.
Oleh sebab itu urusan pemanggilan yang
tiba-tiba ini buat saya adalah bukan perkara ringan. Ini peristiwa serius. Maka
baik atau buruk berita yang akan disampaikan oleh Pak Yusupadi dan Pak Dharma
nanti, bisa jadi akan sangat menentukan arah hidup saya kedepan.
.......
Pak Yusupadi membuka pembicaraan dengan
menyampaikan bahwa beberapa minggu yang lalu telah datang ke sekolah PKKTL
perwakilan dari sebuah perusahaan asing yang berlokasi di Jawa Timur. Adapun
tujuan kedatangan mereka adalah mencari calon pegawai yang mempunyai kompetensi
di bidang kelistrikan, mereka sedang mencari kandidat electrician untuk
penempatan di pabrik mereka di Surabaya dan Pasuruan. Sekolah telah menimbang
dan memutuskan untuk mengajukan saudara-saudara bertiga ini untuk ikut tes
rekrutmen di Surabaya.
Pertanyaannya: apakah saudara bersedia?
Dan belum saja kami menjawab, Pak Dharma sudah
menambahkan: kita sudah punya beberapa lulusan PKKTL yang bekerja di pabrik di
Pasuruan, jadi you tidak perlu khawatir kesana karena sudah ada kakak kelas
yang akan bantu mengajari you kerja disana.
Oleh pertanyaan dan penjelasan itu serentak
kami bertiga saling memandang dengan jidat sedikit mengerinyit, seperti saling
bertanya akan mau menjawab apa.
Dan sebelum kami membuka mulut untuk menjawab,
Pak Yusupadi sudah memberikan pandangannya lebih dulu kalau kami tidak harus
membuat keputusan hari ini juga. Pada kami di sarankan untuk berdiskusi dahulu
dengan orang tua dirumah. Ditimbang-timbang plus minusnya, baik buruknya, akan
siap atau tidak jika harus tinggal jauh dari orang tua.
Menutup pembicaraan, kami bertiga menyampaikan
terimakasih atas berita dan tawaran ini lalu pamit untuk kemudian kami bertiga
keluar dari ruangan.
Diluar ruangan, kami bertiga bersepakat untuk
malam ini mulai berdikusi dengan orang tua agar bisa segera memberikan jawaban.
Dan hanya dalam hitungan hari kami bertiga menghadap Pak Dharma untuk
menyampaikan kesediaan kami mengikuti tes rekrutmen di Surabaya.
Buat saya sendiri ini berita baik. Adalah
impian saya sejak dulu untuk bisa bekerja keluar dari Jakarta. Menjauh dari
kota yang sejak kecil saya tinggali. Hidup mandiri dari uang hasil keringat
sendiri, punya kamar sendiri dan bisa membeli apa saja yang saya maui.
Pembicaraan dengan orang tua atas penawaran
ini bagi saya sifatnya lebih pada pemberitahuan, bukan berdiskusi apalagi
sampai harus tawar menawar. Karena bahkan sebelum pulang kerumah, saya sendiri
sudah memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di Jawa Timur.
Membayangkan saya akan kerja merantau ke Jawa
Timur saja sudah membuat hati saya girang. Meskipun saya tahu ini adalah baru
tes pertama dan belum ada jaminan juga kalau saya akan di terima bekerja di
sana.
Cikupa, 16 Februari 2026
No comments:
Post a Comment