Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca-352)
Sunday, 23 March 2003
Berbelanja dipasar tradisional
Entah kenapa jika sedang berada dalam pembicaraan antar suami beberapa rekan bicara saya mengeluhkan saat-saat ketika menemani istri mereka belanja apalagi ketika harus blusak-blusuk kepasar tradisional yang (sudah pasti) jika musim hujan becek dimana-mana. Mereka lebih suka menunggu ditempat parkir ketimbang sandal mereka belepotan.
Buat saya selalu ada sensasi baru jika berada pasar. Saya senang melihat mbok-mbok yang kelahiran Lampung dan seumur-umur tidak pernah ketanah Jawa namun bahasa Jawanya jauh lebih halus dari istri saya (sekalipun) yang berasal dari jawa timur. Kebanyakan dari mereka sejarahnya adalah berawal dari kakek atau buyut mereka yang dibawa oleh belanda dari jawa ke sumatra sebagai kuli kontrak. Di lampung mereka beranak pinak dengan tetap menggunakan bahasa asli leluhurnya sebagai bahasa dikeseharian mereka sampai saat ini.
Setiap minggu kami kepasar untuk berbelanja kebutuhan dapur yang tidak bisa dipenuhi oleh pedagang sayur keliling yang lewat setiap hari didepan rumah. Saya, yang karena besar didaerah pantai jadinya sangat suka dengan menu ikan-ikanan. Itu juga salah satu alasan kenapa kami setiap minggu belanja kepasar karena memang selain banyak pilihan, juga ikan yang ada dipasar kadang jauh lebih segar ketimbang beli dari tukang sayur yang lewat.
Biasanya saat di pasar kami berbagi tugas. Istri saya bagian belanja sementara saya mengajak jalan-jalan anak saya, Tasya, masih disekitar pasar. Anak saya kebetulan juga sangat senang masuk-masuk kedalam pasar. Sering-sering malah dia tidak mau digendong, alhasil jadilah dia sering tersenggol oleh para ibu atau kuli angkut pasar karena memang digang yang sempit itu dengan begitu banyak orang anak saya jadi tidak terlihat sehingga ya itu tadi tersenggol-senggol tidak keruan.
Sambil menggendong Tasya saya punya kesempatan mengajari dia banyak hal. Mulai dari nama buah, sayuran, ikan sampai (ini termasuk favoritnya) kesenangannya memberi uang pada pengemis. Para pedagang juga senang melihat anak saya ini, kadang pertanyaan-pertanyaan spontan anak saya justru mereka yang menjawab. Beberapa dari mereka malah sudah hapal dengan anak saya karena memang kami setiap minggu ada dipasar yang sama. Saya juga senang memperhatikan tingkah laku ibu-ibu dalam hal menawar. Ada yang sangat pelit ada juga yang agak gampang sepakat dengan penjual. Nah istri saya dalam hal ini adalah termasuk Itype yang kedua.
Istri saya paling malas dalam hal tawar menawar. Bagi dia sepanjang harganya masih rasional ya sudah bayar saja. Kadang kami suka beda pendapat tentang kenapa harus begitu gampang keluar uang. Ibu saya termasuk orang yang paling hebat dalam hal tawar menawar. Kalau perlu nggak usah dibeli itu barang kalau beliau menganggap terlalu mahal meskipun barang itu kita perlu sekali. Toh masih banyak yang jual, biar capek sedikit yang penting harga cocok, begitu pikirnya. Kaki saya sampai pegal kalau menemani ibu saya kepasar. Tapi setelah dewasa begini saya jadi sadar bahwa suka tidak suka karakter tersebut menurun pada saya. Saya jadi begitu struggling kalau sudah menawar barang. Yah seperti ibu saya tadi, kalau perlu pindah pasar sampai harga cocok.
Jika sedang ada di pasar tradisional dan memang kami sudah berencana belanja sesuatu yang kami perkirakan nilainya agak besar maka kesepakatannya adalah sayalah yang akan maju untuk menawar barang tersebut. Biasanya sih akhirnya saya bisa dapat dengan harga yang bagus menurut saya.
Makanya saya lebih suka pisah dengan istri jika dipasar. Biarlah dia belanja dengan caranya sendiri dan saya bersama anak saya sama-sama menikmati suasana pasar tradisional ini.
Lampung, Maret 2003
Sunday, 2 March 2003
Belajar mengalah untuk kemudian menang
Walaupun amat jarang kedokter, kami di Lampung ini sudah punya dokter anak langganan yang biasanya anak saya, Tasya, cocok dengan dokter ini. Namanya dokter Yusnita. Usianya sekitar empat puluhan. Masih terlihat cantik dan ramah sekali terhadap pasien.
Terakhir kami kedokter Yusnita ketika Tasya kakinya terkena pecahan keramik. Bagian bawah telapak kakinya sobek sekitar 3mm dengan luka agak dalam. Lagi-lagi dokter Yusnita yang menjadi rujukan kami. Sebetulnya saya agak enggan berangkat untuk memeriksakan kaki anak saya karena menurut saya itu cuma kejadian biasa, namanya juga anak kecil, tapi istri saya yang berkeras untuk pergi kedokter karena dia lihat saat kejadian begitu banyak darah yang keluar dari kaki anak saya.
Dokter Yusnita hanya tersenyum dan bilang tidak usah khawatir, cuma luka kecil. Nah bener kan gua bilang juga apa, kata saya ke istri saya. Istri saya kemudian meraba pipi saya dan berkata, ketenangan itu mahal Pa.. perasaan seorang ibu kan lain dengan perasaan bapak ….
Istri saya bukan type orang yang suka memaksakan kehendak. Dalam banyak hal dia punya kecenderungan untuk tidak ‘ngeyel’. Mengalah bagi dia bukanlah hal yang tabu. Terkadang dia malah lebih senang menyenangkan orang lain meskipun harus mengorbankan kesenangannya sendiri, toh nanti Tuhan juga yang balas, katanya.
Sebelum menikah kami berpacaran selama lima tahun lebih. Secara fisik mungkin istri saya bukanlah yang terbaik dibanding banyak perempuan yang pernah ada dalam kehidupan saya.
Ada yang betisnya lebih indah, ada yang kulitnya lebih mulus, ada yang bodi serta perawakannya lebih menantang, yang membuat darah muda saya gampang sekali bergolak-golak.
Ketika menikah kami tidak lansung tinggal bersama karena istri saya harus menyelesaikan studi S1 nya yang tinggal sedikit lagi. Baru ketika kandungan istri saya sudah menginjak bulan keenam (saya menikah desember, januari istri saya hamil) kami bisa tinggal bersama.
Sejak hari pertama kami tinggal bersama saya melihat banyak pesona didalam istri saya yang selama kami pacaran luput dari mata saya. Dia begitu mudah mendapatkan teman, sepertinya orang merasa sangat nyaman jika berbicara dengan istri saya. Menyimak dan sangat berempati terhadap lawan bicaranya. Saya katakan istri saya ini lintas karakter. Bagaimanapun sulitnya seseorang jika sudah dengan istri saya mereka bisa begitu akrab.
Dalam hal logika dan pengetahuan umum rasanya saya lebih banyak punya jawaban, tapi jika menyangkut berempati terhadap seseorang terus terang saya belajar banyak dari istri saya ini. Belajar bagaimana bertutur, mendengar dan merespon lawan bicara. Banyak orang yang pandai dalam banyak hal sehingga punya kemampuan untuk mendominasi pembicaraan, tapi ketika harus mendengar dan merespon dengan baik lawan bicaranya ini yang jarang-jarang saya temui.
Pada saat-saat saya mengucapkan syukur pada Sang Pencipta, saya katakan pada Tuhan saya bahwa saya begitu bersyukur mempunyai istri seperti ini. Saya seperti diberi seorang guru yang mengajarkan pada saya bagaimana berempati terhadap orang lain. Dan lagi-lagi saya bersyukur bahwa anak saya pun sepertinya akan seperti ibunya, mudah mendapatkan teman.
Sebesar-besarnya manusia adalah yang mempunyai banyak teman dan berguna bagi lingkungannya, karena itulah sebenarnya esensi manusia sebagai makhluk sosial.
Bandar Lampung, Maret 2003
Thursday, 20 February 2003
Sekolah Jerman (bagian 5, selesai)
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu datang juga. Pengumuman test
masuk sekolah Jerman. Seperti yang saya dan semua orang terdekat saya harapkan,
saya dan teman SMP saya akhirnya bisa menjadi siswa sekolah Jerman.
Kata-kata pak satpam yang pernah saya dengar terbukti benar. Kami
berdua puluh disebutkan namanya pada papan pengumuman. Senangnya bukan main.
Tidak mengapa buat saya meski yang diterima seluruhnya lelaki. Toh kalaupun
saya tetap di STM pun saya tak punya banyak pilihan untuk melihat salah satu
kebesaran Tuhan itu. Beberapa hari kemudian saya lansung mengurus surat
pengunduran diri saya dari STM. Ternyata bersamaan dengan saya ada seorang
siswa dari STM, sama-sama dari elektro, yang juga mengundurkan diri dengan
alasan yang sama, sama-sama akan menjadi siswa sekolah Jerman. Jadi sepertinya
sudah digariskan dari Atas ada dua dari SMP dan dua dari STM, sekolah yang
pernah saya tempati, tembus ke sekolah Jerman.
Ibu saya lansung masak-masak agak besar lalu makanan yang sudah
matang itu diantarkan ke para tetangga dekat oleh ibu saya sendiri.
“ Selametannya Wahyu “ kata ibu saya. Setelah makanan berpindah
piring para tetangga lalu bertanya macam-macam tentang ‘ selametannya wahyu ‘
ini. Dari syarat-syaratnya sampai materi testnya ditanyakan. Ibu saya, yang
memang selalu saya up-date selama proses test masuk jadi sangat lancar menjawab
semua pertanyaan yang diajukan para tetangga saya.
Kakek saya dikampung pun tidak lepas dari kegembiraan ini. Begitu
tahu (setelah disurati oleh ibu saya) berita itu, beliau lansung saja membuat surat
yang lansung dialamatkan kepada saya (sesuatu yang tidak pernah terjadi
sebelumnya). Isinya adalah ucapan selamat dan bangga mempunyai cucu seperti
saya.
Seperti tak mau kalah nenek saya, seperti ibu saya, masak agak
besar lalu di edarkan ketetangga dekat dan handai taulan.
Setelah itu hari-hari saya diisi oleh rasa percaya diri yang
begitu besar. Teman-teman disekitar lingkungan saya memandang saya dengan
perasaan kagum. Buat mereka saya adalah sosok pelajar yang mumpuni. Ber-otak
encer dan layak menjadi panutan. Berita yang tersebar saat itu adalah “ Wahyu
dapet bea siswa sekolah Jerman “. Lalu sambil dibumbuhi “ nanti kalo lulus trus
nilainya bagus bisa ngelanjutin ke Jerman “. Beberapa orang malah bertanya apa
gurunya orang bule !?
Jujur saja saya memang senang. Tapi lebih jujur lagi adalah saya
risi dengan pandangan-pandangan seperti itu. Saya hanyalah seorang yang biasa
yang kebetulan beruntung diberi kesempatan ikut test masuk. Saya yakin ada
ratusan orang seusia saya disekitar saya yang lebih pandai dari saya, puluhan
dari mereka mungkin saja ikut test masuk, tapi toh mungkin mereka, seperti pak
Dharma katakan, tidak mempunyai bakat teknik.
Sekolah Jerman , gratis, test masuknya susah, saingannya banyak,
dapet uang saku, sekolahnya kayak kerja, dapet seragam sama sepatu, dapet makan
siang - enak lagi, kalo lulus pasti kerja …………………..!!!!
Telah kutulis dengan keringatku
Mimpi-mimpi yang tak terbayang
Menangispun aku mau jika itu maunya takdir
Menjadi sesuatu alangkah membanggakan
Seperti ombak yang meliuk-liuk
Berebutan mencapai pantai setelah itu sendiri-sendiri
Selesai
Bandar Lampung, February 2003
Sunday, 16 February 2003
Sekolah Jerman (bagian 4)
Test kesehatan pertama dilakukan dirumah sakit Pelni. Pemeriksaan
meliputi darah, air seni, kotoran THT, mata dan rontgen. Saya pergi sendiri
karena kebetulan hari test kesehatannya tidak sama dengan teman SMP saya. Dari
sekian tahapan test masuk ini kali pertama saya pergi tanpa seorang teman.
Oleh seorang suster darah saya diambil juga air seni dan kotoran
saya. Suster saya ini usianya sekitar dua puluhan. Orangnya cantik dengan mata
agak sedikit genit. Kulitnya agak coklat, berambut lurus. Saat bicara, dari
celah bibirnya yang indah, terlihat deretan giginya yang tampak terawat, putih
dan rapi. Bicaranya jelas, kata-katanya teratur. Melihat postur tubuhnya dengan
berat-tinggi yang seimbang terus terang saja saya jadi membayangkan yang
tidak-tidak.
Selama “menangani” saya suster ini banyak bertanya tentang sekolah
Jerman ini, syarat-syaratnya apa dan yang ditest apa saja. Dari
pertanyaan-pertanyaan-nya saya bisa rasakan suster ini lebih banyak
berbasa-basi, saya yakin dia hanya ingin mengkonfrontir cerita yang dia sudah
dapat dari para pesaing saya yang sudah test sebelumnya. Tapi mungkin saja dia
memang senang bicara dengan saya karena barangkali diapun menilai saya sama
baiknya seperti saya menilai dia, mungkin iya mungkin tidak.
Test berikutnya dilakukan di klinik perusahaan. Seorang dokter dan
asistennya sudah menunggu kami didalam ruangan. Kami berlima dipersilahkan
masuk ruangan kemudian bergerombol kami ditempatkan diposisi yang telah
disediakan disudut ruangan.
Masing-masing kami dipanggil satu per satu untuk di mulai
pemeriksaan. Empat orang yang belum terpanggil tetap berada di sudut ruang yang
dibatasi oleh tirai. Jadi apa yang dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya
kami berempat tidak tahu.
Selama menunggu giliran kami berusaha saling mengenal satu sama
lain. Mulai dari nama, sekolah, tempat tinggal sampai akhirnya kami menyebut
jumlah NEM masing-masing. Terkejutlah saya menyadari bahwa NEM saya ternyata
masuk kategori papan bawah. Dengan yang terbaik saat itu selisihnya 9 poin.
Gila …nih, macan semua ! pikir saya. Terbaik disekolah saya saja tidak sampai
segitu.
Saya coba tenangkan diri saya, berusaha agar berita itu tidak
membebani saya. Toh saya sudah sampai disini, peringkat test saya nomor sepuluh.
Dan mudah-mudahan kata-kata pak satpam kemarin tentang peringkat satu sampai
dua puluh pasti lolos sepanjang dia sehat itu benar, saya menghibur diri.
Teringat oleh saya pesan Nenek saya “ kalau kamu pingin jadi
priyayi bergaul-lah dilingkungan dimana banyak priyayi “ (padahal mbah saya ini
bukan priyayi, suatu saat saya akan cerita bagaimana kagumnya saya terhadap
beliau ini) yang saya artikan kalau pingin pintar bergaulah dengan orang
pintar. Semoga saja saya bisa kecipratan kepintaran mereka, semoga ……
Giliran nama saya dipanggil segera saja saya berdiri kemudian
duduk berhadapan dengan dokter dibatasi oleh sebuah meja. Seorang mantri,
asisten dokter, terlihat menyiapkan dokumen-dokumen dan perlengkapan periksa.
Kalau hanya periksa denyut nadi dan tensi darah sudah berapa puluh
kali dalam hidup saya melakukannya. Tapi yang satu ini baru pertama kali
terjadi pada saya.
Pada saya dokter memerintahkan untuk melepaskan seluruh pakaian
yang saya kenakan sampai tinggal celana dalam yang tersisa. Untungnya kok yaa
saya saat itu memakai celana dalam yang agak baik. Terbayang betapa malunya saya
jika saat itu saya memakai celana dalam yang biasa saya pakai dibanyak
keseharian saya, yang tali kolornya harus diikat dengan karet karena karena
sudah sangking melarnya …, kelak setelah menjadi siswa PKKTL saya tahu bahwa
dalam hal itu saya tidaklah sediri.
Dengan tinggal celana dalam yang melekat pada saya dokter menyuruh
saya untuk naik ke tempat tidur. Saya diperintahkan untuk berposisi sujud, lalu
sang dokter berjalan menuju arah belakang saya. Apa yang dilakukan oleh dokter
saya tidak tahu. Saya hanya bisa memejamkan mata saya ketika terasa oleh saya
sentuhan-sentuhan medis di lubang bagian paling bawah dari tubuh saya.
Apa yang ingin diketahui oleh dokter itu bukanlah urusan saya,
urusan saya saat ini adalah membuktikan bahwa secara psikologi saya sudah lolos
begitu juga saya harap pada urusan jasmani saya.
Bandar Lampung, February 2003
Monday, 10 February 2003
Sekolah Jerman (bagian 3)
Kami masih saja asik dengan pembicaraan kami seputar menu dan
segala kemungkinan yang ada jika saya dan teman saya lolos test kesehatan kelak
ketika seorang satpam, kelihatannya satpam senior ditilik dari usianya,
berjalan mendekat kearah kami.
Waktu itu disekitar pos sudah agak sepi. Beberapa dari para
peserta test sudah pulang. Tadinya kami mengira pak satpam ini hendak menyuruh
kami meninggalkan area pos karena toh yang lain juga sudah pada pulang.
Nyatanya pak satpam ini mencari api untuk sebatang rokok yang sudah terselip
dibibirnya. Lalu sambil mengebulkan asap rokoknya pak satpam ini bertanya siapa
diantara kami yang namanya ada. Yang menjawab bukan saya, bukan pula teman saya
yang bersama saya lolos, tapi teman-teman saya yang tidak lolos seperti berebut
menunjuk kearah kami berdua.
Kemudian pak satpam itu berkata, “ biasanya sih dua puluh orang
yang bakalan diambil ditentukan berdasarkan nomor urut yang ada “
Maksudnya pak? tanya kami
“ ya itu, biasanya nomor satu sampai nomor dua puluh udah pasti
lolos, yang lima sisanya sebetulnya cuma cadangan, jaga-jaga yang dua puluh ini
ada yang nggak sehat “
Sruut … lansung saja jantung saya berdebar lebih cepat dari
biasanya. Saya coba untuk menahan perasaan saya untuk tetap stabil, cool bahasa
sakarang, meskipun perasaan untuk kembali melihat kepapan pengumuman amat
besar. Saya coba tenangkan sikap saya, tetap pada posisi semula dan coba
menyimak apa yang tengah diperbincangkan. Namun bincang-bincang itu sudah tidak
menarik lagi buat saya. Yang ada adalah perasaan segera melihat urutan berapa
nama saya.
Akhirnya tibalah kesempatan itu, saya bersama dengan teman saya
berjalan menuju papan pengumuman. Terlihat oleh saya nama saya berada di urutan
sepuluh. Reflek kedua telapak tangan saya mengusap wajah saya. Setelah itu
tangan kiri saya turun namun yang kanan tertinggal menutupi mulut. Setengah
tidak percaya dengan apa yang saya lihat dari balik telapak tangan kanan saya
mulut saya berucap “ Alhamdulillah Tuhan “.
Teman saya juga masuk dua puluh besar. Lagi kami bersalaman satu
sama lain. Kegembiraan bertambah, harapan semakin besar, meskipun apa yang kami
dengar dari pak satpam tadi belum kami yakini betul kebenarannya.
Tak lamapun kami pamit pada pak satpam tadi, ingin rasanya saya
segera sampai rumah, mengabarkan apa yang terjadi disini. Terbayang oleh saya
wajah senang dan bangga orang tua saya bahwa anak sulungnya terus melaju
kebabak berikutnya. Didalam bis kota bukan hanya saya dan teman saya saja yang
senang, teman-teman saya yang tidak lolospun begitu bangga bahwa akhirnya ada
juga yang bisa mewakili SMP saya tembus babak selanjutnya test masuk sekolah
Jerman.
Kata-kata pak satpam tadi rasanya terus terngiang ditelinga saya.
Sepanjang perjalanan pulang saya mencoba untuk mengingat-ingat medical record
saya selama ini. Rasa-rasanya saya tidak pernah mengalami sakit yang
berat-berat, dalam ataupun luar. Biasanya cuma berkisar batuk, pilek dan demam,
pokoknya penyakitnya proletar lah yang biasanya malah sembuh lewat media “
kerokan “ ibu saya.
Sampai rumah saya kabarkan cerita baik ini ke orang rumah. Semua
senang, semua berharap saya bisa tembus lagi kali ini. Kata-kata pak satpam
tadi tidak saya ceritakan. Saya khawatir akan memberi harapan yang terlalu
besar. Biarlah cerita itu saya simpan dulu sambil menunggu saat yang tepat
untuk menceritakannya.
Namanya orang tua, saya tidak berdaya untuk melarang ketika mereka
begitu antusias menceritakan keberhasilan saya ini. Tetangga dekat dan para
saudara diberitahu sambil dengan embel-embel mohon doa restunya.
Saat-saat menunggu test kesehatan menjadi hari yang penuh dengan
nasihat-nasihat. Bolak-balik saya diingatkan agar selalu menjaga kesehatan, jangan
makan yang macam-macam.
" Nggak usah ngeluyur kemana-mana dulu, dirumah aja ! "
kata ibu saya
Bapak saya malah lebih ekstrim lagi, saya di perintah untuk lari
pagi setiap hari. Biar badan fit waktu test kesehatan nanti, begitu kata
beliau.
Bandar Lampung, February 2003
Thursday, 6 February 2003
Sekolah Jerman (bagian 2)
Ada hal yang menarik selama test masuk berlansung. Pada sesi
interval sebelum tets berikutnya masuk kedalam ruangan kami seorang lelaki agak
tua, berkulit kuning, rambut potongan militer dan amat Jawa logat bicaranya.
Beliau mengatakan bahwa test ini bukan untuk mencari orang yang
terpandai. “ Test ini mencari dari anda-anda semua yang mempunyai bakat teknik,
Baaaakat…. , bukan kemampuan teknik ataupun teorinya, jadi kalau nanti anda
tidak terpilih itu bukan karena anda tidak pandai atau kalah pandai dari teman
anda yang lolos, tapi karena anda tidak berbakat dibidang teknik “ kata bapak
itu yang kemudian saya kenal sebagai Pak Dharma, kepala sekolah PKKTL PT
Siemens Indonesia. Sosok yang punya dedikasi tinggi untuk melahirkan generasi
baru yang bisa menjawab kebutuhan industri dimasa datang.
Setelah test masuk saya dan teman-teman SMP saya saling berbagi
pengalaman dan perasaan tentang test masuk yang dijalani kemarin. Macam-macam
ungkapan yang keluar. Ada yang merasa sudah pasti tidak mungkin lolos ada juga
yang ‘misuh-misuh’ tentang soal-soal test yang diluar dugaan.
Dari sekian ekspresi yang keluar ternyata ada yang menarik untuk
disimak. Ketika topik pembicaraan masuk pada masalah makan siang semua peserta
rumpi sepakat bahwa makanannya enak dan mewah. Teman-teman saya ini, termasuk
saya, tidak pada hari yang sama ikut test-nya. Jadi masing-masing kami punya
pengalaman dan kesan yang berbeda-beda. Ada yang dapat sate, rendang, gulai dan
macam menu lainnya. Pembicaraan tentang menu ini jadi topik yang lebih menarik
daripada test itu sendiri.
“gile, pasti gemuk deh gua kalo setiap hari makan kayak gitu”
seorang teman berkomentar.
Karena sudah ‘kadung’ sambil menunggu pengumuman test masuk
terpaksa sekolah juga saya di STM. Teori-teori saya dapatkan di ruang kelas
sedang prakteknya kami lakukan di Balai Latihan Kerja (BLK) yang berlokasi di
Pulo Gadung. Semua itu saya jalani dengan harapan saya bisa tembus test masuk
PKKTL. Bukan karena sekolah Jerman-nya, seperti kata bapak saya, tapi lebih
pada saya amat menyesal masuk STM.
Beberapa hari menjelang pengumuman test masuk saya dan teman-teman
SMP saya janjian untuk pergi sama-sama melihat pengumuman. Maka pas begitu
harinya berbondonglah kami menuju Pulomas. Waktu itu kami berangkat ber-enam.
Sepanjang jalan kami tampak biasa saja, macam-macam yang kami bicarakan, topik
pengumuman test cuma jadi bagian kecil cari pembicaraan kami. Kebanyakan dari
kami memang tidak terlalu berharap bisa tembus.
“ kalo gua nggak lolos pasti sebelah gua juga nggak lolos, soalnya
gua banyak ngintip jawaban dari dia ” kata teman saya.
Pengumuman test masuk sederhana saja berupa kertas putih ukuran A4
di tempel di sebuah papan pengumuman yang terbuat dari triplex di sekitar pos
satpam. Sebetulnya posisinya papan pengumumannya sudah cukup strategis, tapi
berhubung yang ingin melihat cukup banyak jadinya masing-masing kami saling
berebut posisi agar dapat sudut yang tepat untuk melihat.
Kertas putih ukuran A4 itu menyebutkan dua puluh lima nama yang
lolos untuk seleksi tahap berikutnya. Dibagian bawah disebutkan bahwa nama-nama
diatas agar dapat menjalani test kesehatan. Dari dua puluh nama itu hari test
kesehatan-nya tidaklah sama.
Ndilalah kok nama saya ada di salah satu dari dua puluh lima nama
itu. Ah yang bener, tanya dalam hati. Kemudian saya cocokan lagi dengan nomor
urut test yang saya bawa dari rumah. Barangkali saja ada peserta test yang lain
yang namanya sama dengan saya. Ternyata cocok……!!!
“ Alhamdulillah “ kali ini saya ucapkan tidak dalam hati lagi.
Juga bersama saya ada teman SMP saya yang lolos test masuk.
Kemudian kami berjabatan tangan. Saling mengucapkan selamat dengan rasa senang
yang tidak bisa ditutupi. Teman saya yang lain, yang tidak lolos memberi ucapan
selamat pada saya dan teman saya ini. Setelah itu kami tidak lansung pulang.
Kami ngobrol dulu lama di sekitar pos satpam. Topiknya apa lagi selain
kemungkinan saya bakalan tambah gemuk lantaran menu makan siang yang enak-enak
itu.
Bandar Lampung, February 2003
Tuesday, 4 February 2003
Sekolah Jerman (bagian 1)
Dari kecil saya tidak pernah membayangkan bahwa jalan hidup saya
akan berkutat disekitar tekhnik. Kalau merunut dari sejarahnya mungkin bakat
teknik saya berasal dari kakek dari bapak yang punya profesi sebagai tukang
kayu. Seberapa ahli dan terkenalnya beliau saya tidak tahu karena bapak saya
sendiri sudah sejak kecil tidak mengenal bapaknya (meninggal dunia).
Waktu kecil kalau saya ditanya mau jadi apa nantinya saya selalu
bilang mau jadi insinyur. Kenapa insinyur saya tidak tahu. Mungkin karena
lingkungan saya adalah kelas pekerja yang kebanyakan bekerja di dock kapal.
Mereka kalau berangkat bekerja selalu lengkap dengan pakaian kerjanya yang
khas, celana jeans, baju lengan panjang tebal (kebanyakan berwarna biru) juga
tak ketinggalan safety shoes yang panjangnya sampai mendekati dengkul.
Cara mereka memakai safety shoes ini juga menarik. Celana jeans
mereka yang cut bray, bagian bawahnya dimasukan kedalam safety shoes. Gagah
sekali mereka buat anak kecil seperti saya. Orang-orang menyebut mereka dengan
tukang mesin, nah anak kecil seperti saya lansung saja yang terpikir bahwa
mesin adalah insinyur. Mereka kerjanya seperti apa sama sekali tidak terbayangkan
oleh saya waktu itu.
Menjelang tamat SMP saya memutuskan untuk masuk STM saja. Sesuatu
yang sangat saya sesali kemudian. Waktu itu saya hanya sekedar ikut-ikutan
saja. Teman dekat saya pingin masuk STM jadi supaya bisa terus sama dia saya
juga masuk STM. Kami mengambil jurusan elektro. Bergengsi, tempatnya orang pinter
kami beralasan waktu itu.
Ndilalah kok teman saya ini nilainya jeblok sehingga tidak tembus
sekolah Negri. Tingal saya-lah suka tidak suka harus menjalani apa yang sudah
saya putuskan. Mau bilang orang tua untuk pindah sekolah rasanya nggak mungkin,
bisa ‘habis’ saya nanti. Tidak bisa disalahkan memang karena mereka toh sudah
keluar uang banyak untuk sekolah saya ini meskipun katanya sekolah Negri.
Bapak saya adalah polisi aktif golongan Bintara. Saat itu beliau
bertugas di kantor kedutaan besar di Jakarta. Bahasa kerennya Sat-Pam-VIP
(satuan pengaman orang penting). Biasanya rutin empat bulan sekali bapak saya
dirotasi ke kedutaan yang berbeda. Kok ya pas menjelang PKKTL buka pendaftaran
bapak saya sedang bertugas di kedutaan Jerman (barat). Jadi begitu bapak saya
tahu ada lowngan begini lansung saja beliau minta saya untuk ikut test.
Saya manut saja. Toh saya juga sudah tidak semangat lagi untuk
terus ke STM. Iseng-iseng aja ikut wong nggak bayar aja .. pikir saya. Semua
persyaratan saya siapkan lalu saya antar ke Pulomas, kantor Siemens. Beberapa
teman SMP saya ada juga yang ikut ndaftar. Sebagian dari mereka saya beri tahu
sebagian lagi tahunya dari iklan di koran Kompas.
Dari sekitar 1300-an (data ini saya dapat setelah saya jadi siswa
PKKTL) pendaftar diambil 350 orang yang berhak untuk mengikuti test tertulis.
Belakangan saya tahu namanya psycho test. Tadinya saya pikir testnya akan
seperti ujian ebtanas, yang melulu teori. Wah saya harus belajar lagi nih, kata
saya. Orang tua saya juga berpikir tidak jauh dengan saya, ujung-ujungnya saya
disuruh belajar lagi terutama yang terkait dengan ilmu-ilmu elektonika.
“kalau kamu bisa lolos bapak-ibu jadi rada enteng” kata ibu saya.
Bapak saya nambahin, “ini sekolah Jerman lho, gratis, dapet uang
saku lagi, kalo lulus nanti pasti kerja”
Yang terjadi ternyata diluar dugaan. Testnya blas nggak ada
teorinya. Yang ada cuma permainan logika dan kecepatan berpikir. Mungkin
berangkat dari situ barangkali yang menyebabkan lulusan PKKT jadi pada cepet
‘nangkep’, ha ha ha .. emangnya kiper.
Selama test perasaan saya biasa saja. Tegang tidak santai juga tidak.
Semua saya jalani apa adanya. Seperti dalam ujian-ujian di sekolah saya juga
sempatkan untuk melirik pesaing-pesaing saya kiri-kanan. Terlihat oleh saya
wajah-wajah multi ekspresi. Ada yang tegang, pasrah ada juga yang kelihatan
begitu ‘nggetu’ mengisi lembar soal. Saya berpikir mereka ini pastilah para
juara kelas dimasing-masih sekolah mereka. Mereka pasti terbebani oleh perasaan
“ gua kan juara kelas, NEM gua gede, masak sih gua nggak lolos “.
Sedangkan saya yang yang seumur-umur karir sekolahan saya mentok
juara tiga jadi Nothing to lose aja.
Bandar Lampung, February 2003
Friday, 31 December 1993
dialog 2
Aku : bulan diatas mengambang
Kamu : bulan mengintip
Kemudian ada canda mesra
Aku : besok kamu pakai baju itu
Kamu : nggak ..!!
Aku : lho iya, supaya kamu tambah ....
Kamu : (tersenyum)
Kamu : kamu juga pakai baju yang itu
Aku : nggak bisa, kan belum dicuci
Kamu : besok pagi dicuci dulu
Aku : (tersenyum)
Ada daun kembang sepatu dijalin
Aku : sudah ?
Kamu : sudah
Aku : sini,
Aku : Mei aku cinta kamu
Kamu : terima kasih
Kamu: (tersenyum manis sekali)
Sby, 30 Oct 1993
aku cinta kamu Mei
sudah berapa kali
aku jatuh dipelukmu
bersama kursi panjang
waktu malam
sepi yang dipaksakan
bukan karena aku
yang pintar merayu
lalu aku cium kamu
tapi sikapmu sampai
empat kali bulan penuh
yang sudah menata hatiku
jadi malam ini
jangan tanya kenapa
biarkan saja, juga
biarkan aku mencintai kamu
sampai kita kawin
cucuku tiga belas
kemudian mati
Sby, 31 Des 1993
Monday, 6 December 1993
mawar yang kuberikan
sudah kau apakan
durinyapun sudah kubuang
cintaku hanya dibunga
tidak lain
Mawar yang kuberikan
sudah kucium
sebelum jatuh dihidungmu
bersama gerai rambutmu
dan kau cium pipiku
Mawar yang kuberikan
tak mampu bayar rindu
walau tambah kembang sepatu
mari sini dekat disampingku
biar kucium bibirmu
Sby, 6 Dec 1993