Ada hal yang menarik selama test masuk berlansung. Pada sesi
interval sebelum tets berikutnya masuk kedalam ruangan kami seorang lelaki agak
tua, berkulit kuning, rambut potongan militer dan amat Jawa logat bicaranya.
Beliau mengatakan bahwa test ini bukan untuk mencari orang yang
terpandai. “ Test ini mencari dari anda-anda semua yang mempunyai bakat teknik,
Baaaakat…. , bukan kemampuan teknik ataupun teorinya, jadi kalau nanti anda
tidak terpilih itu bukan karena anda tidak pandai atau kalah pandai dari teman
anda yang lolos, tapi karena anda tidak berbakat dibidang teknik “ kata bapak
itu yang kemudian saya kenal sebagai Pak Dharma, kepala sekolah PKKTL PT
Siemens Indonesia. Sosok yang punya dedikasi tinggi untuk melahirkan generasi
baru yang bisa menjawab kebutuhan industri dimasa datang.
Setelah test masuk saya dan teman-teman SMP saya saling berbagi
pengalaman dan perasaan tentang test masuk yang dijalani kemarin. Macam-macam
ungkapan yang keluar. Ada yang merasa sudah pasti tidak mungkin lolos ada juga
yang ‘misuh-misuh’ tentang soal-soal test yang diluar dugaan.
Dari sekian ekspresi yang keluar ternyata ada yang menarik untuk
disimak. Ketika topik pembicaraan masuk pada masalah makan siang semua peserta
rumpi sepakat bahwa makanannya enak dan mewah. Teman-teman saya ini, termasuk
saya, tidak pada hari yang sama ikut test-nya. Jadi masing-masing kami punya
pengalaman dan kesan yang berbeda-beda. Ada yang dapat sate, rendang, gulai dan
macam menu lainnya. Pembicaraan tentang menu ini jadi topik yang lebih menarik
daripada test itu sendiri.
“gile, pasti gemuk deh gua kalo setiap hari makan kayak gitu”
seorang teman berkomentar.
Karena sudah ‘kadung’ sambil menunggu pengumuman test masuk
terpaksa sekolah juga saya di STM. Teori-teori saya dapatkan di ruang kelas
sedang prakteknya kami lakukan di Balai Latihan Kerja (BLK) yang berlokasi di
Pulo Gadung. Semua itu saya jalani dengan harapan saya bisa tembus test masuk
PKKTL. Bukan karena sekolah Jerman-nya, seperti kata bapak saya, tapi lebih
pada saya amat menyesal masuk STM.
Beberapa hari menjelang pengumuman test masuk saya dan teman-teman
SMP saya janjian untuk pergi sama-sama melihat pengumuman. Maka pas begitu
harinya berbondonglah kami menuju Pulomas. Waktu itu kami berangkat ber-enam.
Sepanjang jalan kami tampak biasa saja, macam-macam yang kami bicarakan, topik
pengumuman test cuma jadi bagian kecil cari pembicaraan kami. Kebanyakan dari
kami memang tidak terlalu berharap bisa tembus.
“ kalo gua nggak lolos pasti sebelah gua juga nggak lolos, soalnya
gua banyak ngintip jawaban dari dia ” kata teman saya.
Pengumuman test masuk sederhana saja berupa kertas putih ukuran A4
di tempel di sebuah papan pengumuman yang terbuat dari triplex di sekitar pos
satpam. Sebetulnya posisinya papan pengumumannya sudah cukup strategis, tapi
berhubung yang ingin melihat cukup banyak jadinya masing-masing kami saling
berebut posisi agar dapat sudut yang tepat untuk melihat.
Kertas putih ukuran A4 itu menyebutkan dua puluh lima nama yang
lolos untuk seleksi tahap berikutnya. Dibagian bawah disebutkan bahwa nama-nama
diatas agar dapat menjalani test kesehatan. Dari dua puluh nama itu hari test
kesehatan-nya tidaklah sama.
Ndilalah kok nama saya ada di salah satu dari dua puluh lima nama
itu. Ah yang bener, tanya dalam hati. Kemudian saya cocokan lagi dengan nomor
urut test yang saya bawa dari rumah. Barangkali saja ada peserta test yang lain
yang namanya sama dengan saya. Ternyata cocok……!!!
“ Alhamdulillah “ kali ini saya ucapkan tidak dalam hati lagi.
Juga bersama saya ada teman SMP saya yang lolos test masuk.
Kemudian kami berjabatan tangan. Saling mengucapkan selamat dengan rasa senang
yang tidak bisa ditutupi. Teman saya yang lain, yang tidak lolos memberi ucapan
selamat pada saya dan teman saya ini. Setelah itu kami tidak lansung pulang.
Kami ngobrol dulu lama di sekitar pos satpam. Topiknya apa lagi selain
kemungkinan saya bakalan tambah gemuk lantaran menu makan siang yang enak-enak
itu.
Bandar Lampung, February 2003
No comments:
Post a Comment