Dari kecil saya tidak pernah membayangkan bahwa jalan hidup saya
akan berkutat disekitar tekhnik. Kalau merunut dari sejarahnya mungkin bakat
teknik saya berasal dari kakek dari bapak yang punya profesi sebagai tukang
kayu. Seberapa ahli dan terkenalnya beliau saya tidak tahu karena bapak saya
sendiri sudah sejak kecil tidak mengenal bapaknya (meninggal dunia).
Waktu kecil kalau saya ditanya mau jadi apa nantinya saya selalu
bilang mau jadi insinyur. Kenapa insinyur saya tidak tahu. Mungkin karena
lingkungan saya adalah kelas pekerja yang kebanyakan bekerja di dock kapal.
Mereka kalau berangkat bekerja selalu lengkap dengan pakaian kerjanya yang
khas, celana jeans, baju lengan panjang tebal (kebanyakan berwarna biru) juga
tak ketinggalan safety shoes yang panjangnya sampai mendekati dengkul.
Cara mereka memakai safety shoes ini juga menarik. Celana jeans
mereka yang cut bray, bagian bawahnya dimasukan kedalam safety shoes. Gagah
sekali mereka buat anak kecil seperti saya. Orang-orang menyebut mereka dengan
tukang mesin, nah anak kecil seperti saya lansung saja yang terpikir bahwa
mesin adalah insinyur. Mereka kerjanya seperti apa sama sekali tidak terbayangkan
oleh saya waktu itu.
Menjelang tamat SMP saya memutuskan untuk masuk STM saja. Sesuatu
yang sangat saya sesali kemudian. Waktu itu saya hanya sekedar ikut-ikutan
saja. Teman dekat saya pingin masuk STM jadi supaya bisa terus sama dia saya
juga masuk STM. Kami mengambil jurusan elektro. Bergengsi, tempatnya orang pinter
kami beralasan waktu itu.
Ndilalah kok teman saya ini nilainya jeblok sehingga tidak tembus
sekolah Negri. Tingal saya-lah suka tidak suka harus menjalani apa yang sudah
saya putuskan. Mau bilang orang tua untuk pindah sekolah rasanya nggak mungkin,
bisa ‘habis’ saya nanti. Tidak bisa disalahkan memang karena mereka toh sudah
keluar uang banyak untuk sekolah saya ini meskipun katanya sekolah Negri.
Bapak saya adalah polisi aktif golongan Bintara. Saat itu beliau
bertugas di kantor kedutaan besar di Jakarta. Bahasa kerennya Sat-Pam-VIP
(satuan pengaman orang penting). Biasanya rutin empat bulan sekali bapak saya
dirotasi ke kedutaan yang berbeda. Kok ya pas menjelang PKKTL buka pendaftaran
bapak saya sedang bertugas di kedutaan Jerman (barat). Jadi begitu bapak saya
tahu ada lowngan begini lansung saja beliau minta saya untuk ikut test.
Saya manut saja. Toh saya juga sudah tidak semangat lagi untuk
terus ke STM. Iseng-iseng aja ikut wong nggak bayar aja .. pikir saya. Semua
persyaratan saya siapkan lalu saya antar ke Pulomas, kantor Siemens. Beberapa
teman SMP saya ada juga yang ikut ndaftar. Sebagian dari mereka saya beri tahu
sebagian lagi tahunya dari iklan di koran Kompas.
Dari sekitar 1300-an (data ini saya dapat setelah saya jadi siswa
PKKTL) pendaftar diambil 350 orang yang berhak untuk mengikuti test tertulis.
Belakangan saya tahu namanya psycho test. Tadinya saya pikir testnya akan
seperti ujian ebtanas, yang melulu teori. Wah saya harus belajar lagi nih, kata
saya. Orang tua saya juga berpikir tidak jauh dengan saya, ujung-ujungnya saya
disuruh belajar lagi terutama yang terkait dengan ilmu-ilmu elektonika.
“kalau kamu bisa lolos bapak-ibu jadi rada enteng” kata ibu saya.
Bapak saya nambahin, “ini sekolah Jerman lho, gratis, dapet uang
saku lagi, kalo lulus nanti pasti kerja”
Yang terjadi ternyata diluar dugaan. Testnya blas nggak ada
teorinya. Yang ada cuma permainan logika dan kecepatan berpikir. Mungkin
berangkat dari situ barangkali yang menyebabkan lulusan PKKT jadi pada cepet
‘nangkep’, ha ha ha .. emangnya kiper.
Selama test perasaan saya biasa saja. Tegang tidak santai juga tidak.
Semua saya jalani apa adanya. Seperti dalam ujian-ujian di sekolah saya juga
sempatkan untuk melirik pesaing-pesaing saya kiri-kanan. Terlihat oleh saya
wajah-wajah multi ekspresi. Ada yang tegang, pasrah ada juga yang kelihatan
begitu ‘nggetu’ mengisi lembar soal. Saya berpikir mereka ini pastilah para
juara kelas dimasing-masih sekolah mereka. Mereka pasti terbebani oleh perasaan
“ gua kan juara kelas, NEM gua gede, masak sih gua nggak lolos “.
Sedangkan saya yang yang seumur-umur karir sekolahan saya mentok
juara tiga jadi Nothing to lose aja.
Bandar Lampung, February 2003
No comments:
Post a Comment