Test kesehatan pertama dilakukan dirumah sakit Pelni. Pemeriksaan
meliputi darah, air seni, kotoran THT, mata dan rontgen. Saya pergi sendiri
karena kebetulan hari test kesehatannya tidak sama dengan teman SMP saya. Dari
sekian tahapan test masuk ini kali pertama saya pergi tanpa seorang teman.
Oleh seorang suster darah saya diambil juga air seni dan kotoran
saya. Suster saya ini usianya sekitar dua puluhan. Orangnya cantik dengan mata
agak sedikit genit. Kulitnya agak coklat, berambut lurus. Saat bicara, dari
celah bibirnya yang indah, terlihat deretan giginya yang tampak terawat, putih
dan rapi. Bicaranya jelas, kata-katanya teratur. Melihat postur tubuhnya dengan
berat-tinggi yang seimbang terus terang saja saya jadi membayangkan yang
tidak-tidak.
Selama “menangani” saya suster ini banyak bertanya tentang sekolah
Jerman ini, syarat-syaratnya apa dan yang ditest apa saja. Dari
pertanyaan-pertanyaan-nya saya bisa rasakan suster ini lebih banyak
berbasa-basi, saya yakin dia hanya ingin mengkonfrontir cerita yang dia sudah
dapat dari para pesaing saya yang sudah test sebelumnya. Tapi mungkin saja dia
memang senang bicara dengan saya karena barangkali diapun menilai saya sama
baiknya seperti saya menilai dia, mungkin iya mungkin tidak.
Test berikutnya dilakukan di klinik perusahaan. Seorang dokter dan
asistennya sudah menunggu kami didalam ruangan. Kami berlima dipersilahkan
masuk ruangan kemudian bergerombol kami ditempatkan diposisi yang telah
disediakan disudut ruangan.
Masing-masing kami dipanggil satu per satu untuk di mulai
pemeriksaan. Empat orang yang belum terpanggil tetap berada di sudut ruang yang
dibatasi oleh tirai. Jadi apa yang dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya
kami berempat tidak tahu.
Selama menunggu giliran kami berusaha saling mengenal satu sama
lain. Mulai dari nama, sekolah, tempat tinggal sampai akhirnya kami menyebut
jumlah NEM masing-masing. Terkejutlah saya menyadari bahwa NEM saya ternyata
masuk kategori papan bawah. Dengan yang terbaik saat itu selisihnya 9 poin.
Gila …nih, macan semua ! pikir saya. Terbaik disekolah saya saja tidak sampai
segitu.
Saya coba tenangkan diri saya, berusaha agar berita itu tidak
membebani saya. Toh saya sudah sampai disini, peringkat test saya nomor sepuluh.
Dan mudah-mudahan kata-kata pak satpam kemarin tentang peringkat satu sampai
dua puluh pasti lolos sepanjang dia sehat itu benar, saya menghibur diri.
Teringat oleh saya pesan Nenek saya “ kalau kamu pingin jadi
priyayi bergaul-lah dilingkungan dimana banyak priyayi “ (padahal mbah saya ini
bukan priyayi, suatu saat saya akan cerita bagaimana kagumnya saya terhadap
beliau ini) yang saya artikan kalau pingin pintar bergaulah dengan orang
pintar. Semoga saja saya bisa kecipratan kepintaran mereka, semoga ……
Giliran nama saya dipanggil segera saja saya berdiri kemudian
duduk berhadapan dengan dokter dibatasi oleh sebuah meja. Seorang mantri,
asisten dokter, terlihat menyiapkan dokumen-dokumen dan perlengkapan periksa.
Kalau hanya periksa denyut nadi dan tensi darah sudah berapa puluh
kali dalam hidup saya melakukannya. Tapi yang satu ini baru pertama kali
terjadi pada saya.
Pada saya dokter memerintahkan untuk melepaskan seluruh pakaian
yang saya kenakan sampai tinggal celana dalam yang tersisa. Untungnya kok yaa
saya saat itu memakai celana dalam yang agak baik. Terbayang betapa malunya saya
jika saat itu saya memakai celana dalam yang biasa saya pakai dibanyak
keseharian saya, yang tali kolornya harus diikat dengan karet karena karena
sudah sangking melarnya …, kelak setelah menjadi siswa PKKTL saya tahu bahwa
dalam hal itu saya tidaklah sediri.
Dengan tinggal celana dalam yang melekat pada saya dokter menyuruh
saya untuk naik ke tempat tidur. Saya diperintahkan untuk berposisi sujud, lalu
sang dokter berjalan menuju arah belakang saya. Apa yang dilakukan oleh dokter
saya tidak tahu. Saya hanya bisa memejamkan mata saya ketika terasa oleh saya
sentuhan-sentuhan medis di lubang bagian paling bawah dari tubuh saya.
Apa yang ingin diketahui oleh dokter itu bukanlah urusan saya,
urusan saya saat ini adalah membuktikan bahwa secara psikologi saya sudah lolos
begitu juga saya harap pada urusan jasmani saya.
Bandar Lampung, February 2003
No comments:
Post a Comment