Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu datang juga. Pengumuman test
masuk sekolah Jerman. Seperti yang saya dan semua orang terdekat saya harapkan,
saya dan teman SMP saya akhirnya bisa menjadi siswa sekolah Jerman.
Kata-kata pak satpam yang pernah saya dengar terbukti benar. Kami
berdua puluh disebutkan namanya pada papan pengumuman. Senangnya bukan main.
Tidak mengapa buat saya meski yang diterima seluruhnya lelaki. Toh kalaupun
saya tetap di STM pun saya tak punya banyak pilihan untuk melihat salah satu
kebesaran Tuhan itu. Beberapa hari kemudian saya lansung mengurus surat
pengunduran diri saya dari STM. Ternyata bersamaan dengan saya ada seorang
siswa dari STM, sama-sama dari elektro, yang juga mengundurkan diri dengan
alasan yang sama, sama-sama akan menjadi siswa sekolah Jerman. Jadi sepertinya
sudah digariskan dari Atas ada dua dari SMP dan dua dari STM, sekolah yang
pernah saya tempati, tembus ke sekolah Jerman.
Ibu saya lansung masak-masak agak besar lalu makanan yang sudah
matang itu diantarkan ke para tetangga dekat oleh ibu saya sendiri.
“ Selametannya Wahyu “ kata ibu saya. Setelah makanan berpindah
piring para tetangga lalu bertanya macam-macam tentang ‘ selametannya wahyu ‘
ini. Dari syarat-syaratnya sampai materi testnya ditanyakan. Ibu saya, yang
memang selalu saya up-date selama proses test masuk jadi sangat lancar menjawab
semua pertanyaan yang diajukan para tetangga saya.
Kakek saya dikampung pun tidak lepas dari kegembiraan ini. Begitu
tahu (setelah disurati oleh ibu saya) berita itu, beliau lansung saja membuat surat
yang lansung dialamatkan kepada saya (sesuatu yang tidak pernah terjadi
sebelumnya). Isinya adalah ucapan selamat dan bangga mempunyai cucu seperti
saya.
Seperti tak mau kalah nenek saya, seperti ibu saya, masak agak
besar lalu di edarkan ketetangga dekat dan handai taulan.
Setelah itu hari-hari saya diisi oleh rasa percaya diri yang
begitu besar. Teman-teman disekitar lingkungan saya memandang saya dengan
perasaan kagum. Buat mereka saya adalah sosok pelajar yang mumpuni. Ber-otak
encer dan layak menjadi panutan. Berita yang tersebar saat itu adalah “ Wahyu
dapet bea siswa sekolah Jerman “. Lalu sambil dibumbuhi “ nanti kalo lulus trus
nilainya bagus bisa ngelanjutin ke Jerman “. Beberapa orang malah bertanya apa
gurunya orang bule !?
Jujur saja saya memang senang. Tapi lebih jujur lagi adalah saya
risi dengan pandangan-pandangan seperti itu. Saya hanyalah seorang yang biasa
yang kebetulan beruntung diberi kesempatan ikut test masuk. Saya yakin ada
ratusan orang seusia saya disekitar saya yang lebih pandai dari saya, puluhan
dari mereka mungkin saja ikut test masuk, tapi toh mungkin mereka, seperti pak
Dharma katakan, tidak mempunyai bakat teknik.
Sekolah Jerman , gratis, test masuknya susah, saingannya banyak,
dapet uang saku, sekolahnya kayak kerja, dapet seragam sama sepatu, dapet makan
siang - enak lagi, kalo lulus pasti kerja …………………..!!!!
Telah kutulis dengan keringatku
Mimpi-mimpi yang tak terbayang
Menangispun aku mau jika itu maunya takdir
Menjadi sesuatu alangkah membanggakan
Seperti ombak yang meliuk-liuk
Berebutan mencapai pantai setelah itu sendiri-sendiri
Selesai
Bandar Lampung, February 2003
No comments:
Post a Comment