Kami masih saja asik dengan pembicaraan kami seputar menu dan
segala kemungkinan yang ada jika saya dan teman saya lolos test kesehatan kelak
ketika seorang satpam, kelihatannya satpam senior ditilik dari usianya,
berjalan mendekat kearah kami.
Waktu itu disekitar pos sudah agak sepi. Beberapa dari para
peserta test sudah pulang. Tadinya kami mengira pak satpam ini hendak menyuruh
kami meninggalkan area pos karena toh yang lain juga sudah pada pulang.
Nyatanya pak satpam ini mencari api untuk sebatang rokok yang sudah terselip
dibibirnya. Lalu sambil mengebulkan asap rokoknya pak satpam ini bertanya siapa
diantara kami yang namanya ada. Yang menjawab bukan saya, bukan pula teman saya
yang bersama saya lolos, tapi teman-teman saya yang tidak lolos seperti berebut
menunjuk kearah kami berdua.
Kemudian pak satpam itu berkata, “ biasanya sih dua puluh orang
yang bakalan diambil ditentukan berdasarkan nomor urut yang ada “
Maksudnya pak? tanya kami
“ ya itu, biasanya nomor satu sampai nomor dua puluh udah pasti
lolos, yang lima sisanya sebetulnya cuma cadangan, jaga-jaga yang dua puluh ini
ada yang nggak sehat “
Sruut … lansung saja jantung saya berdebar lebih cepat dari
biasanya. Saya coba untuk menahan perasaan saya untuk tetap stabil, cool bahasa
sakarang, meskipun perasaan untuk kembali melihat kepapan pengumuman amat
besar. Saya coba tenangkan sikap saya, tetap pada posisi semula dan coba
menyimak apa yang tengah diperbincangkan. Namun bincang-bincang itu sudah tidak
menarik lagi buat saya. Yang ada adalah perasaan segera melihat urutan berapa
nama saya.
Akhirnya tibalah kesempatan itu, saya bersama dengan teman saya
berjalan menuju papan pengumuman. Terlihat oleh saya nama saya berada di urutan
sepuluh. Reflek kedua telapak tangan saya mengusap wajah saya. Setelah itu
tangan kiri saya turun namun yang kanan tertinggal menutupi mulut. Setengah
tidak percaya dengan apa yang saya lihat dari balik telapak tangan kanan saya
mulut saya berucap “ Alhamdulillah Tuhan “.
Teman saya juga masuk dua puluh besar. Lagi kami bersalaman satu
sama lain. Kegembiraan bertambah, harapan semakin besar, meskipun apa yang kami
dengar dari pak satpam tadi belum kami yakini betul kebenarannya.
Tak lamapun kami pamit pada pak satpam tadi, ingin rasanya saya
segera sampai rumah, mengabarkan apa yang terjadi disini. Terbayang oleh saya
wajah senang dan bangga orang tua saya bahwa anak sulungnya terus melaju
kebabak berikutnya. Didalam bis kota bukan hanya saya dan teman saya saja yang
senang, teman-teman saya yang tidak lolospun begitu bangga bahwa akhirnya ada
juga yang bisa mewakili SMP saya tembus babak selanjutnya test masuk sekolah
Jerman.
Kata-kata pak satpam tadi rasanya terus terngiang ditelinga saya.
Sepanjang perjalanan pulang saya mencoba untuk mengingat-ingat medical record
saya selama ini. Rasa-rasanya saya tidak pernah mengalami sakit yang
berat-berat, dalam ataupun luar. Biasanya cuma berkisar batuk, pilek dan demam,
pokoknya penyakitnya proletar lah yang biasanya malah sembuh lewat media “
kerokan “ ibu saya.
Sampai rumah saya kabarkan cerita baik ini ke orang rumah. Semua
senang, semua berharap saya bisa tembus lagi kali ini. Kata-kata pak satpam
tadi tidak saya ceritakan. Saya khawatir akan memberi harapan yang terlalu
besar. Biarlah cerita itu saya simpan dulu sambil menunggu saat yang tepat
untuk menceritakannya.
Namanya orang tua, saya tidak berdaya untuk melarang ketika mereka
begitu antusias menceritakan keberhasilan saya ini. Tetangga dekat dan para
saudara diberitahu sambil dengan embel-embel mohon doa restunya.
Saat-saat menunggu test kesehatan menjadi hari yang penuh dengan
nasihat-nasihat. Bolak-balik saya diingatkan agar selalu menjaga kesehatan, jangan
makan yang macam-macam.
" Nggak usah ngeluyur kemana-mana dulu, dirumah aja ! "
kata ibu saya
Bapak saya malah lebih ekstrim lagi, saya di perintah untuk lari
pagi setiap hari. Biar badan fit waktu test kesehatan nanti, begitu kata
beliau.
Bandar Lampung, February 2003
No comments:
Post a Comment