Friday, 24 July 2009

Day 1 Jasmine sekolah TK

Belum aja jam 6 pagi, kehebohan sudah terasa.
Mbak Acha dah bangun disusul oleh Mbak Jasmine, yang sebetulnya sih dipaksain bangun ama mbak Acha.
Seperti hari sebelumnya acara pertama nyetel TV trus nonton sponge bob,

"No TV ya pagi-pagi, kalian kan mau sekolah, ayo siap-siap"
Ceklek, lansung aja TV dimati'in.
"tapi kan masih pagi paaahh..."
"lhooo, Mbak jasmine mau sekolah TK gaaa ?"

Jasmine bengong, baru nyadar kalo ini hari pertama dia sekolah TK.

Ga lama kemudian dua krucil itu lalu beringsut dari kursi menuju kamar mandi.

"nah kan kalo dah mandi seger, tambah cantik kan"
"males kalo sama papahh, maahhh pake baju apaaaa?"

Mbak Acha, karena masih suasana Isra' Mi'raj, jadi hari ini dress code di sekolah adalah pake baju muslim.


"sip kan Mbak bajunya ?" , kata mama.

"iya sih tapi tangannya kependekan, tante Ida sih belinya kekecilan"
"yaahh lumayan lah mbak, daripada pake yang lama, warnanya dah belel.."

Kalo Mbak Jasmine malah biasa aja, meskipun sebetulnya ini hari spesial buat dia, hari pertama masuk sekolah, tapi emang dasar anaknya cuek, pake baju yaa maunya yang kasual.


"ciee ciee, sepatu baru niy yee" , Goda mbak Acha
"apa siy..." bales Jasmine sambil mukanya keliatan semu malu.

Sibungsu Amel, masih ngiler ditempat tidur, mbangkong... udah kebiasaan emang bangunnya siang, kadang jam 9 baru bangun.

Ehhh pas mo berangkat, kali karena ndenger suara heboh kakaknya, Amel malah bangun. liat mbaknya sudah pada rapi lansung aja keluar sesenggukannya, basah semua pipimya.
Sama mamanya lalu Amel dipeluk-peluk, dihibur dulu karena mo ditinggal sebentar ama mbak-mbaknya sekolah.


"cep cep...Amel mandi dulu yah ntar kalo dah maem sama mimik cucu kita njemput mbak Jasmine bareng-bareng ke sekolah TK ...
Okeks..?"

Bandar Lampung, July 2009

Yang bener AJA ....

Hari pertama Jasmine sekolah, lagi-lagi, saya terheran-heran ada anak belum empat tahun, teman sekolah Jasmine, sudah dimasukan ke TK besar.
Belum empat tahun coba..., jadi tahun depan sianak ini akan masuk SD sebelum usianya lima tahun.

"anaknya sih udah pinter, udah bisa nulis angka meski belum bagus bener"
Lalu lancarlah ibunya bercerita tentang betapa siapnya sang anak.

Istri saya manggut-manggut, mengiyakan saja, mendebat juga tak berguna, pikir istri saya.
Ada lagi anak teman, sepantaran Tasya, 10 tahun, sekarang sudah dikelas enam SD.
Lalu anak tetangga, belum sebelas tahun sudah masuk SMP tahun ini.

"lha wong masih suka petak umpet sama Jasmine dirumah kok sudah SMP yah..." saya mbatin berdua istri.

Tasya September nanti genap 10 tahun
Jasmine, Oktober nanti genap 5 tahun
Amel, Desember nanti genap 4 tahun

Kami percaya bahwa setiap perkembangan anak ada tahapan-tahapannya, ada masanya.
Jika mereka dikembangkan sesuai waktunya maka hasilnya pun akan optimum.
Enam tahun menuju tujuh tahun adalah usia yang tepat masuk SD.
Usia dimana bara kecil mereka sudah memang waktunya dipercikan bensin agar bara kecil tadi menjadi api yang membesar.

Anak bukanlah kertas kosong yang bisa diwarnai suka-suka orang tuanya.
Juga bukan gelas kosong yang bisa diisi suka-suka orang tuanya.

Setiap anak membawa warna dan bentuk sendiri sejak lahir, tugas orang tua adalah mengarahkan, mempertegas dan memberi dinamika agar warna dan bentuk yang ada bisa mejadi lebih baik, lebih indah dan bermanfaat bagi si anak.

Sebelum enam tahun biarlah mereka bermain-main saja, hanya bermain-main....!!
Jadi kalau ada orang tua yang ngebet pingin anaknya cepat-cepat sekolah SD sebelum enam tahun, menurut saya niyy.. rasanya yang perlu disekolahkan malah orang tuanya.

Bandar Lampung, Juli 2009

Sunday, 19 July 2009

Blog

Dulu, mungkin sekitar 3 tahun yang lalu, saat orang bilang tentang blog yang ada dikepala gw adalah sesuatu yang masih diawang-awang. Sesuatu yang membutuhkan skill khusus, perlu mentor dari ahlinya dan rumit untuk dipelajari.

Hari ini gw, ga disangka-sangka bisa juga bikin blog. Cuma karena penasaran liat-liat blog orang trus kebetulan juga lagi nganggur alias blom ada rencana kemana mo wiken.

Kutak-kutik ikutin alur yang disediakan, sedikit berlogika dan jadilah meski keliatan basic banget.


Lampung, 19 Juli 2009

Saturday, 22 December 2007

Mommy ku...


Mommy sedih kalau Amel gak mau makan
Mommy nangis waktu Jasmine sakit bisul
Mommy bingung kalau Tasya batuk gak sembuh-sembuh
Mommy gak bisa tidur sebelum Anak-anak juga tidur


Biar ngantuknya kayak apa
Mommy selalu aja siap kalau Amel minta nenen
Badan Mommy sampai habis

Karena terlalu capai ngurus rumah
Tapi kalau rumah kotor Mommy gak mau nyantai sebelum bersih



Pipi Mommy sampai cekung
Karena terlalu semangat ngurus anak-anak
Kalau mereka belum mandi, makan dan minum susu
Mana mau Mommy berhenti


Kalau Tante Ida dateng Mommy selalu setia menemani
Kalau Poppy laper Mommy lansung nyiapin makan buat Poppy
Kalau Bude ada gawe Mommy gak pernah nolak buat mbantu-mbantu

Tasya jadi anak pinter di sekolah karena Mommy rajin mbelajarin tiap malem
Jasmine jadi anak cerdas karena Mommy gak pernah telat mbikinin susu
Amel jadi anak lincah karena Mommy selalu punya waktu untuk ngajak main
Poppy tambah gemuk karena Mommy selalu enak kalau masak



Mommy adalah lentera di rumah
Cinta dan kelembutan Mommy sepanjang jalan tak terukur
Dengan kasih Mommy menerangi hidup kami

Selamat Hari Ibu yaa Mommy
We all love you ….


Bandar Lampung, 22 Desember 2007

Tuesday, 15 August 2006

Lingkaran setan (bagian 3, Selesai)

Semua persaingan di meja kerja sebenarnyalah tidak semata persaingan buta. Kami tetap anak-anak yang senang berteman sepermainan. Ledek meledek atas hasil yang telah dicapai bukanlah berkonotasi saling merendahkan. Semua Cuma ungkapan humor yang memang perlu penyaluran – ungkapan persahabatan. Yang sudah mendahului tidaklah kemudian jumawa lalu mentang-mentang. Tidak begitu. Yang tertinggal tidaklah lalu merasa lebih rendah.

Jika sedang rehat ada keluar gurauan kami tentang dimana posisi masing-masing. Si A sudah sampai mana si B masih dimana dan ini memunculkan rasa kebersamaan atas teman sekeringat. Lalu diaturlah strategi disini. Yang sudah sampai tugas kelima bolehlah menawarkan hasil pekerjaannya pada yang baru tugas ketiga dan mentok berulang kali di tolak sang instruktur.

Perjanjiannya begini : hasil tugas ketiga yang sudah di okekan oleh instruktur akan dipakai oleh si B yang berulang kali mentok ditugas ketiga. Sudah tentu, resiko tanggung penumpang alias si B dan sebelumnya ada dibuat gentlemen agreement, kesepakatan antar lelaki, kalau ini ketahuan tidaklah membawa celaka bagi yang menolong.

Ooo alangkah indah persahabatan. Mengejar posisi unggul sah-sah saja tapi pertemanan mutlak berbicara disini. Dan entah karena kami yang pandai berselingkuh atau nasib baik memang berpihak pada kami – tak tahulah. Yang pasti strategi ini selalu mulus dan kami semua senang atas itu.

Saya tak ingat bagaimana mula istilah ini diperdengarkan. Siapa yang memulai tak jelas. Dan istilah ini hanya ditempelkan untuk kaum tertinggal diurusan praktikum_tidak pada urusan teori. Tapi istilah ini terus melekat kuat sampai kami selesai pendidikan dan terus menjadi obrolan menyenangkan pada waktu-waktu kami reunian di kemudian hari, sangat memorable.

Pada teman dikelompok yang tertinggal ini kami mengistilahkan mereka Lingkaran setan. Kenapa lingkaran karena anggotanya ya itu-itu saja. Melingkar-lingkar hanya disitu saja. Kalaupun berubah Cuma formatnya – urutannya saja. Selebihnya ya Cuma mereka ini.
Lalu kenapa ada kata setan, nah ini dia, sebenarnya tidaklah kami memaknai mereka setan dalam arti sebenarnya. Cuma meneruskan kata lingkaran saja. Lingkaran setan ini pada kami berarti kelompok yang kami upayakan untuk menghindar dari keanggotaannya. Kalaupun harus terjerumus kedalamnya upaya maksimal harus dilakukan agar bisa segera keluar, entah secara individu atau dengan berselingkuh itu.

Inilah uniknya PKKTL-9. Ada yang kalau ujian tertulis selalu unggul. Nilainya amat membanggakan. Jika berbicara selalu pada level tertinggi. Tapi karena kurang pada kecakapan dan kecepatan masuklah dia dikelompok lingkaran setan. Tak pernah bisa keluar meski usaha sudah maksimal, termasuk dengan - usaha perselingkuhan itu.

Selesai.

Bandar Lampung, Agustus 2006

Sebelumnya


Sunday, 13 August 2006

Lingkaran setan (bagian 2)

Pada angkatan kami, sebagaimana dua sisi mata uang, juga terdiri dari cakap-tidak cakap__ cepat-tidak cepat. Yang cakap dan cepat, mungkin karena sudah bakat lahiriahnya tak pernah bisa terkejar oleh kelompok yang sebaliknya. Apapun tugasnya, tak peduli itu berkaitan dengan besi ataupun kabel tetap saja mereka unggul. Selalu lebih cepat. Tak selalu lebih bagus memang – tapi dalam hal ini bagus bukanlah ukuran. Yang penting diokekan oleh instruktur itu sudahlah cukup. Dan melaju dengan dua tiga tugas didepan pesaing amatlah membanggakan diri. Sementara menjadi yang tertinggal sudahlah pasti tidak mengenakkan. Tak enaklah melihat teman sudah berganti tugas sementara kita masih harus berkutat dengan tugas yang itu-itu saja.

Bagi kelompok tertinggal saat-saat ketika harus berhadapan dengan instruktur kala menyampaikan tugas adalah saat yang mendebarkan. Iya kalau lansung oke bisa lansung ketugas berikutnya, kalau tidak? apalagi jika maju kesekian kali untuk tugas yang sama dan masih juga belum di oke kan, ughh sesaklah dada ini.

Belum lagi mendapatkan sang pesaing tersenyum yang disembunyikan saat kita balik badan kembali kemeja kerja untuk tugas yang sama. Bukan untuk mengejek tapi lebih pada merasa geli dengan ekspresi kedua pihak. Seperti melihat majikan dan batur. Satunya berkuasa memerintah satunya tak kuasa diperintah. Yang tua komat kamit badan ditegakkan tangan bergerak-gerak, yang muda hanya mantuk-mantuk tak banyak omong kedua tangan biasanya diadu didepan badan.

Sang instruktur, dalam hal ini adalah penguasa tunggal. Dialah yang menentukan bakal apa jadinya kita. Kata-katanya selalu bermakna sabda, gerakan tangannya bernada perintah dan matanya melemahkan urat syaraf kita. Jadi mendengarkan apa katanya, ikuti gerakan tangannya dan turuti kemana matanya bergerak adalah sudah separoh lebih peluang kita lebih besar.

Sesungguhnya, karena keseniorannya, Sang Instruktur sudahlah tahu kemampuan kami masing-masing. Berapa cakap si A berapa cepat si C bisalah dia meraba dari satu dua tugas yang dia berikan. Dan dari tahun ke tahun angkatan ke angkatan selalu saja ada dua kelompok ini. Tipikal sekali. Melihat kelompok mendahului dan tertinggal sudahlah biasa buat Sang Instruktur ini.

Kadang, dalam kekuasaannya yang mutlak itu suka muncul selera humornya juga. Diajaknyalah kami bergurau, ditanggapinyalah juga ledekan kami. Atau dibalik keangkeran matanya sebetulnya ada dia Cuma ingin mengerjai kami, mengetes mental, berapa besar daya tahan kami. Biasanya kami tahu ini bukan tahu sendiri tapi oleh rekan yang melihat kami dan kemudian saling diceritakan.

Begini misalnya : suatu ketika maju kemeja Instruktur siswa dari kelompok tertinggal menyampaikan tugas, setelah dipegang-pegang sambil memicingkan mata tiba-tiba suara Sang Instruktur membesar, juga matanya dan dilemparlah pekerjaan siswa itu ketempat sampah sambil berkata-kata. Sang siswa, tanpa ba bi bu sambil mantuk mantuk berjalan ketempat sampah dan mengambil kembali pekerjaannya untuk dibetulkan lalu balik badan kembali kemeja kerja.

Nah saat dipunggungi siswa inilah Sang Instruktur mungkin tak bisa menahan gelinya sendiri, sambil memandang punggung tersenyumlah sang instruktur ini, he he he gue kerjain lu, mungkin begitu batinnya. Dan kami yang melihat adegan itu juga tersenyum geli sendiri.

Geli melihat majikan, geli melihat batur.


Bandar Lampung, Agustus 2006

Selanjutnya

Sebelumnya




Wednesday, 2 August 2006

Lingkaran setan (bagian 1)

Pertama bersinggungan dengan PKKTL mulanya saya agak ragu apa bisa prestasi saya tetap seperti sebagaimana saat saya bersekolah sebelumnya. Ragu karena dari awal mula saya tahu kedepan hari-hari saya bakal dipenuhi dengan keharusan belajar yang mutlak.

Mutlak? Bagaimana tidak, dari seribu tiga ratus lima puluh pendaftar Cuma diambil dua ratus lima puluh terbaik. Lalu penyaringan lewat test ppsikologi di ambil dua puluh lima terbaik. Peringkat dua puluh besar sudah pasti lolos tinggal kesehatannya oke tidak. Jika gagal diambil dari lima yang dicadangkan. Dan peringkat saya pas tipis benar dengan catatan saya sebelumnya, saya ada berperingkat sepuluh test masuk.

Jadi memang bukan main buat saya bisa berkesempatan menjadi siswa PKKTL ini. Berada dikalangan orang-orang mumpuni adalah selalu menjadi keinginan saya, mimpi saya. Saya memang tak pernah merasakan sekalipun titel juara kelas, paling mentok juara ketiga – itupun hanya sekali dua kali dan semuanya saat saya disekolah dasar.

Namun saya selalu ada dilevel permainan atas. Peringkat saya tak pernah lepas dari sepuluh besar dan kelas yang saya diami sampai saya selesaikan menengah pertama saya, pastilah selalu terdiri dari anak yang berperingkat teratas. Jadi tak pernah juara kelaspun tak terlalu mengganggu saya, karena saya hanya terkalahkan oleh orang yang memang unggulan.

Dalam dua puluh orang kami menjalani pendidikan, sewajarnya orang bersekolah, selalu saja ada dua sisi mata uang saling besebelahan. Ada pintar-tidak pintar, ada cakap-tidak cakap, nakal-tidak nakal, cepat-tidak cepat, favorit guru-bukan favorit guru dan sebagainya.

Sebagaimana koin, dua sisi ini selalu ada, beriringan dan saling melengkapi.

Pada PKKTL ada satu hal yang membuat institusi ini berbeda dengan kebanyakan institusi pendidikan yang lain, yaitu iklim kompetisi antar siswa yang dibangun begitu rapi dan konsisten dalam pelaksanaannya.

Kurikulum yang mensyaratkan siswa baru boleh mengerjakan tugas berikutnya hanya jika tugas yang sekarang dikerjakan sudah tuntas benar-benar membuat siswa terpacu untuk tidak ketinggalan oleh yang lain. Keinginan untuk mengeluarkan segala kemampuan begitu menggebu. Adu cepat, adu bagus, ada di setiap detik dalam keseharian. Saling lirik depan belakang kanan kiri adalah strategi standard yang harus dijalankan agar irama bisa selalu diatur untuk tetap kompetitif.

Saya ambil contoh : Dalam hal tugas praktikum, pintar saja tidak cukup. Siswa haruslah juga cakap dan cepat. Saat sama-sama menerima tugas pertama segera injak gas dan kebut sebisanya. Memastikan tidak tertinggal ditugas pertama adalah harus. Moral mesti diraih agar kepercayaan diri menguat. Ditugas pertama tak perlu dulu lirik sana-sini. Fokus saja. Usahakan bisa maju ke instruktur lebih dulu. Biar oleh instruktur ini hasil keringat kita dipegangnya, dirabanya, diukurnya, dicari-cari kesalahannya terus kita dengar komentar-komentarnya.

Jika belum oke segera kerjakan lagi, kita betulkan, lakukan segala komentarnya, lalu maju lagi sampai di oke kan hasil kita ini. Kalau sudah oke tugas yang selanjutnya pun diberikanlah ke kita dan dikerjakan dengan pola yang sama.

Ditugas ketiga keempat adalah kita sempatkan melirik pesaing kita, teman-teman sekeringat disekitar kita. Dimana posisi kita dan gigi berapa kita harus pasang disinilah waktunya.

Kalau sudah unggul bolehlah santai barang sejenak mengambil nafas, mengaso. Tak perlu terburu-buru, biar para pesaing saja yang tergopoh-gopoh mengejar. Atau - jika ingin memperbesar jarak bolehlah tempo ditambah. Semua jurus dikeluarkan, gas ditekan lebih dalam. Usahakan untuk mendahului paling tidak dua atau tiga tugas.

Memang asyik jika sudah leading jauh. Kalaupun kita lengah atau terpeleset sekali dua kali jarak tetaplah terjaga – masih belum tersalip.

 


Bandar Lampung, Agustus 2006

Selanjutnya


Saturday, 1 July 2006

Struk gaji

Selama pendidikan di PKKTL, dalam keseharian, kami sering berbincang tentang apa jadinya kami nanti kelak. Beberapa yang kami anggap pandai dan masuk kategori “anak manis” sudahlah aman karena sepertinya jalur bekerja pada institusi almamater terbuka lebar. Pandai, rajin dan tidak neko-neko adalah modal berharga untuk mereka yang ada digolongan ini. Karpet merah untuk kesana sudahlah tergelar didepan mata.

Dan bagi yang merasa di kategori lainnya bolehlah berandai-andai, mau kemana setelah lulus. Kalau sedang bercengkrama kami sambil bergurau (ada juga kami serius) membayangkan keinginan-keinginan kami besok. Mau keperusahaan ini-itu, ada yang sudah di bookingkan oleh bapaknya ketempat beliau kerja, atau – ada yang ingin melanjutkan sekolah secara normal.

Dulu, saat masih ditahun kedua, membayangkan lulus atau tidak saja sudah menjadi beban dan pertanyaan besar.

Mendebarkan, saat kami maju satu persatu melihat lembar pengumuman kelulusan. Satu-satu dari dua puluh siswa, berdasarkan nomor urut, menuju papan pengumuman untuk melihat apakah bisa terus ke tahun ketiga ataukah harus meninggalkan kawah candradimuka ini dengan selembar surat pernyataan pernah mengikuti PKKTL. Uugghhh… benar-benar masa tegang kala itu.

Pertanyaan mendasar yang sering terungkap dan selalu menjadi topik yang menarik menjelang kelulusan kami adalah berapa gaji yang akan kami dapat kelak saat bekerja. Dan lagi-lagi kami berandai-andai dengan pertanyaan berapa sih standar gaji saat ini. Tebak-tebakan pun berlansung, seperti, berapa gaji Pak Dharma, kepala sekolah kami. Berapa gaji Pak Rompas, besar mana dengan gaji Pak Jhoni.

Ada bocoran, tepatnya tebakan juga, dari seorang pekerja senior di workshop yang bilang kalau Pak Ignatius, kepala workshop saat itu, sudah bergaji diatas 400ribu!.
Seberapa akurat tebak-tebakan kami ini, sampai sekarang pun kami tak pernah tahu kebenarannya.

Tapi yang membuat perbincangan tambah seru adalah tebak-tebakan siapa diantara kami yang akan paling sukses kelak. Ukurannya sudah bukan berapa kami dibayar setelah lulus nanti tapi sudah melompat jauh ke beberapa tahun kemudian.

Ada yang memakai ukuran lima tahun kedepan. Ada yang bilang kurang kalau segitu – sepuluh tahun barulah pantas mengukur kesuksesan seseorang, sebagian lagi bilang gimana kalo lima belas tahun. Oke, katakanlah sepuluh-lima belas tahun, lalu apa? Ngukurnya gimana? Ya dari struk gaji lah, kata teman menyahuti. Ntar kalo pas kita reunian sepuluh atau lima belas tahun lagi kita lihat struk gajinya, kita kumpulin trus buka bareng-bareng, siapa yang paling gede itulah yang paling sukses, gampang kan? Kami tertawa, tak ada kesepakatan saat itu dan pembicaraanpun mengalir ke topik yang lain.

Hhmmm …….. Obrolan anak belasan tahun yang sedang mencari jati diri dan setelah enam belas tahun berlalu saya suka tersenyum sendiri kalau mengingat itu semua.

Reunian sepuluh-lima belas tahun lagi buat saya oke saja, tapi struk gaji? Ahh .. tak usahlah kita seriusi pembicaraan enam belas tahun yang lalu itu. Biarlah jadi cerita lucu yang layak dikenang sampai kapanpun. Juga, biarlah struk gaji ini jadi rahasia kita sendiri saja. Karna toh ukuran kesuksesan seseorang tidaklah semata hanya pada angka di struk gaji saja.

Anda setuju dengan saya tidak ?

 

Bandar Lampung, Juli 2006


Saturday, 26 February 2005

Bulutangkis (Bagian 2)

Dengan lutut yang agak bengkak saya tetap saja masuk kerja. Sampai berminggu kemudian kondisi lutut saya ya tetap segitu saja. Jalan tetap pincang. Lutut saya, mungkin karena bengkak ini, tidak dapat dilipat penuh. Betis tidak pernah bisa saya sentuhkan kebagian bawah paha saya. Jadi gerakan kaki kiri saya ini sangat terbatas sekali.


Terakhir-terakhir saat berjalan saya cenderung selalu mau jatuh, Lutut saya, jika jalan saya agak cepat atau kurang hati-hati, cenderung tertekuk kebagian dalam. Persis saat kejadian saya jatuh dilapangan bulutangkis dulu. Ujung-ujungnya jalan saya mestilah pelan dan diatur-atur supaya kaki saya tetap dalam posisi lurus tidak sampai tertekuk kedalam.

Berkali-kali saya konsultasikan kedokter tulang tapi tidak ada manfaatnya sama sekali. Kalau Cuma pincang saja okelah mungkin memang perlu waktu untuk proses penyembuhan. Tapi ini selalu mau jatuh saja dan berbulan-bulan tidak ada perubahan. Saya tidak sabar lagi. Hilang sudah rasa percaya saya terhadap semua dokter tulang di Lampung ini. Saya harus berobat ke Jakarta…..!!

Adik saya kebetulan bekerja di Rumah sakit Pantai Indah Kapuk (PIK). Menurut dia di PIK sana ada dokter tulang yang sangat terkenal, namanya dokter Franky. Dibanding dengan dokter tulang lain yang kebetulan berpraktek juga di PIK dokter Franky inilah yang pasiennya paling banyak dan dokter Franky ini juga praktek di beberapa rumah sakit yang lain dan pasiennya juga banyak disana.

Setelah confirm tanggal dan jam nya, Sabtu pagi berangkatlah saya dari Lampung, Istri dan Tasya saya ajak. Sambil njenguk mbah nya di Jakarta, begitu pikir saya.
Saya lansung “njujuk” dirumah adik saya. Kebetulan dia tinggal di rumah susun yang berjarak tidak jauh dari PIK.

Menjelang jam lima sore diantar oleh suami adik saya, kami lansung menuju PIK karena janjian dengan dokternya sekitar jam setengah enam. Benar, tidak meleset jauh dari waktu yang ditentukan bertemulah saya dengan dokter yang bernama Franky. Cepat saja saya diperintahkan rebah dan kaki saya mulai diperiksa. Ditekuk-tekuk, ditarik-tarik, lutut saya diketuk-ketuk dengan jarinya segera dia berkesimpulan bahwa antara tulang betis dan tulang paha tidak terhubung baik yang artinya memang ada masalah dengan lutut saya. Tapi apa masalahnya harus dilakukan pengecekan lebih detail dan diputuskan saat itu juga saya besok harus dioperasi.

Kamar lansung disiapkan dan saya mesti opname malam itu juga. Ipar saya pulang memberi kabar kerumah. Lalu kembali lagi kerumah sakit membawa baju salin, bukan baju milik saya tapi baju milik ipar saya karena memang saya berencana pulang kelampung besoknya sehingga saya sama sekali ada persiapan untuk tinggal dalam waktu yang lama.

Pagi jam sembilan besoknya saya masuk ruang operasi. Seumur hidup saya belum pernah saya dioperasi, membayangkan saja tidak. Jadi meskipun berusaha rilek tetap saja saya ada perasaan gugup. Dokter Franky sejak awal sudah mengatakan bahwa operasi ini adalah operasi antara, artinya setelah diketahui masalahnya, dianalisa lalu baru diputuskan perlu tidaknya operasi berikutnya.

Diruang operasi total ada lima pembantu dokter. Cuma satu yang lelaki sisanya wanita semua dan semuanya saya perkirakan dibawah tigapuluh tahunan usianya dan saya hanya mengenakan baju operasi yang super tipis itu tanpa ada penutup tubuh yang lain. Sangat risi dipegang-pegang oleh wanita ketika kita tidak mengenakan apa-apa.
Setelah diberi suntikan anastesi saya rebah terlentang. Antara badan dan kaki saya diberi tirai penutup dan disamping kiri saya ada monitor 14” untuk saya melihat jalannya operasi.

Kedua kaki saya ditumpukan kesebuah penyangga, persis seperti wanita yang akan melahirkan.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian efek anastesi mulai bekerja. Kaki saya mulai dari selangkangan tidak merasakan apa-apa lagi. Menggerakkan jari kaki saja sedikitpun tidak bisa. Dalam pikiran saya kalau ada gempa atau kebakaran bisa apa saya saat itu. Pasrah dan menyerahkan semuanya pada tim medis dan Tuhan saja saya saat itu.

Yang dikatakan operasi adalah memasukan kamera optik kelutut saya untuk menganalisa apa yang bermasalah pada lutut saya. Jadi tidak ada pembedahan. Cuma alat seperti selang dia. 6mm ditusukkan kelutut saya.

Diawal operasi sambil mengutak-utik lutut saya dokter Franky menerangkan apa saya yang dia lakukan. Ini tempurung, ini otot anu namanya, ini jaringan anu. Sampai dia mengatakan ada otot yang terlepas dari tulang betis saya. Saya melihat semuanya lewat monitor disamping saya. Otot yang lepas tadi digerak-gerakkan oleh dokter Franky dan sepertinya dia ingin memastikan saya sudah melihat apa yang menjadi masalah pada lutut saya.

Operasi belum selesai saya sudah tertidur. Entah karena efek anastesi atau memang saya kurang tidur malamnya saya tidak pasti. Yang jelas ketika saya sadar saya sudah tidak diruang operasi dan jam sudah menunjukan pukul lima sore.
Malamnya dokter Franky mengunjungi saya. Diterangkan bahwa memang ada beberapa otot yang terlepas dari tulang sehingga antara tulang betis dan tulang paha tidak ada pertalian yang benar. Inilah alasan pasti kenapa saya jika berjalan cenderung mau jatuh saja.

Dan dokter Franky menambahkan, kasus ini sama persis dengan apa yang terjadi dengan pesepak bola Marco Van Basten ketika dia memutuskan untuk gantung sepatu. Jadi..... sama dengan Marco Van Basten sepertinya saya juga mesti gantung raket setelah operasi ini.

Selesai.



Bandar Lampung, Februari 2005

Sebelumnya

Sunday, 13 February 2005

Bulutangkis (Bagian 1)

Sepanjang hidup saya hal yang termasuk paling saya rasa kehilangan betul adalah ketika saya tidak bisa bermain bulutangkis lagi. Ini serius, bagi saya bermain bulutangkis adalah istimewa. Berada dilapangan menepuk-nepuk Kok dengan raket amatlah menyenangkan. Badan sehat, hati senang.


Dibanding olah raga yang lain pada bulutangkis inilah permainan saya masuk kategori layak saing, minimal dengan teman-teman saya sekantor. Kami biasa latihan setiap Sabtu pagi disebuah GOR yang oleh kantor dari enam lapangan yang ada kami disewakan dua lapangan. Biasa kami latihan dari jam 8 sampai sekitar jam 10. kadang kami berlatih tidak dengan hanya antar rekan sekantor tapi sering juga ada rekan dari perusahaan yang lain, yang juga sama-sama penyewa, bergabung dengan kami atau sebaliknya kami yang bergabung dengan mereka.

Lalu kenapa saya sampai tidak bisa bermain bulutangkis lagi, begini ceritanya :
September 2002, saat sedang melakukan jumping smash ketika tubuh turun kelantai posisi kaki saya tidak dalam posisi yang benar sehingga lutut tertekuk kedalam. Saya terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Beberapa teman lansung merubung saya. Oleh mereka kaki saya diurut, ditarik, ditekuk-tekuk. Semua yang bisa mereka lakukan mereka lakukan agar berkurang rasa sakit saya. Tapi sakit saya tidak berkurang, lutut saya tambah bengkak. Saya putuskan untuk tidak melanjutkan latihan dan pulang.

Banyak teman menawarkan untuk mengantarkan pulang, tapi saya tolak sambil berterima kasih atas tawarannya. Karena saya memang masih bisa berjalan walaupun pincang dan rasanya sangguplah kalau hanya menyetir sampai rumah. Diluar itu saya Cuma tidak ingin merepotkan teman-teman saya ini.

Sampai rumah yang ada lutut saya semakin bengkak. Mulai siangnya saya sudah sama sekali tidak bisa berjalan. Tersiksa sekali. Oleh tetangga saya dipanggilkan tukang urut dan baru besoknya dia muncul sambil minta maaf karena kemarin ada keperluan. Saya sudah tidak hirau dengan maaf dan keperluannya. Saya Cuma ingin kaki saya sembuh dan bisa berjalan lagi titik !!.

Di urut karena salah urat minta ampun sakitnya. Rasa malu saya saat itu hilang, saya mengaduh dan sesekali berteriak melepas rasa sakit. Sampai kemudian terdengar suara "tuk" di lutut saya dan pak tukang urut ini bilang sudah dapat. Tulangnya udah balik, katanya disertai oleh pijatan pijatan ringan masih disekitar lutut.
Sebatang rokok dimulut saya belum lagi bisa mengurangi keringat dingin saya bekas menahan sakit tadi.

Sepulangnya pak tukang urut perlahan bengkak dilutut saya berkurang. Jalan saya masih pincang tapi sudah lumayanlah. Besoknya saya kedokter tulang minta surat dokter untuk ijin tidak masuk kerja. Oleh dokter tulang sakit saya Cuma dipegang-pegang oleh dua jari, telunjuk dan jari tengah. Habis itu dia dibuatkan resep isinya vitamin penguat tulang sambil kasih nasehat kalau ada kejadian model begini jangan sekali-kali diurut, lebih baik kedokter dan diobati.

Dalam perjalanan pulang istri saya heran meriksa kok Cuma di "nyuk-nyuk" pakai dua jari, terus kok nggak dironsen. Saya juga berpikiran kurang lebih sama. Tapi biarlah, dicoba dulu obatnya. Toh yang penting kan surat dokternya.
Hari kelima saya masuk kerja. Masih tertatih-tatih jalan saya. Banyak yang bilang kenapa sudah masuk, enak dirumah istirahat. Saya tersenyum saja, mana bisa saya istirahat saja dirumah dan tidak bisa kemana-mana. Iya kalo statusnya cuti masih bisa jalan-jalan kemana gitu, ini kan statusnya ijin surat dokter, apakata bos kalau saya ketahuan kelayapan dalam status ijin sakit.

Namanya apes tiga hari kemudian saya terperosok kedalam Got (saluran air). Tak usahlah saya ceritakan bagaimana prosesnya. Apes ya apes bagaimanapun sehati-hatinya kita. Sudah kaki lagi bermasalah terperosok lagi ke Got pas yang masuk duluan pas yang bermasalah lagi, kaki kiri. Lengkaplah penderitaan saya.

Kaki saya bengkak lagi, malamnya pak tukang urut datang lagi. Lagi saya mengaduh dan menjerit. Saat diurut tidak ada bunyi "tuk" lagi dan pak tukang urut bilang sudah selesai. Saya percaya saja. Wong saya ditangani oleh ahlinya kenapa juga saya harus ragu. Bengkak lutut saya kembali berkurang tapi sampai kondisi tertentu bengkak saya tidak pernah berkurang lagi, tetap segitu-gitu saja. Tidak membesar tidak mengecil.


Bandar Lampung, Februari 2005

Selanjutnya