Thursday, 6 August 2009

MienZZ...


Sebetulnya cuma panggilan singkat aja, panggilan akrab kalo lagi dirumah.

Mienz......, kadang juga dipanggil Jazz...
kadang Mbak Amin.......... dibumbu'in Aminudin kalo lagi ngeledek!!
suka2 yang manggil, tergantung mood kakak adiknya, meski sering timbul kasian juga,
wong bagus-bagus dikasih nama Jasmine, kok dipanggil Mienzz...

Papah Mamah ga kurang2 mbilangin supaya kalo manggil yaa Jasmine atau Mbak Jasmine !!
tapi yaa gitu deh.... namanya anak-anak

Mbak Jasmine,
anak kedua, Girl, menjelang 5 tahun
identik sama.....
1. pinter ngomong, cerewet, suka mbantah (karena kritis kali yaa, mbela nih..)
2. gak pernah diem, ada aja ulah yang bikin sekitarnya rame, Selalu menceriakan
3. dalam beberapa hal mirip Mbak-nya, misal : caranya membantah dan gaya nyanyinya
4. anti mati gaya, kagak ade matinye ...... selalu ada yang baru
5. cuexxx, dipakein baju apa aja mau and cocok !! (padahal baju lungsuran mbak-nya hihihi)

Bandar Lampung, Aug 2009

Monday, 3 August 2009

Terima kasih anakku




Terima kasih untuk...

semua canda tawa kalian
semua keceriaan kalian

semua kenakalan kalian
semua keributan kalian
semua tangisan kalian
semua permintaan kalian

Menemani kalian menikmati masa kanak-kanak,
adalah hal terindah buat Papah dan Mamah


Bandar Lampung, Aug 2009

Thursday, 30 July 2009

Nyukur pohon Mangga

Pohon mangga depan rumah sudah rimbun sekali
tangkainya melengkung kebawah, keberatan daun
batangnya bercabang-cabang, mirip pohon-pohon di film misteri

kebetulan hari ini libur, jadi ketimbang tidur mangkas pohon aja
pake gergaji, panjat-panjat, kaki nyeker

potong sana potong sini..
ga sadar sudah banyak sekali potongan dibawah
sampai ga keliatan rumput sama tanahnya
ketutup batang ranting dan daun

Ughhhh...tenaga dah habis tapi harus ringkes ringkes
tanggung dikit lagi
pakai sisa tenaga untuk mbuang semua pangkasan

Magrib lewat dikit selesailah sudah

mandi sholat trus makan
malemnya mo tidur susah bener..
badan rasanya ancur-ancuran

Tauk deh jam berapa baru bisa lelap ...

Bandar Lampung, Jul 2009

Friday, 24 July 2009

Day 1 Jasmine sekolah TK

Belum aja jam 6 pagi, kehebohan sudah terasa.
Mbak Acha dah bangun disusul oleh Mbak Jasmine, yang sebetulnya sih dipaksain bangun ama mbak Acha.
Seperti hari sebelumnya acara pertama nyetel TV trus nonton sponge bob,

"No TV ya pagi-pagi, kalian kan mau sekolah, ayo siap-siap"
Ceklek, lansung aja TV dimati'in.
"tapi kan masih pagi paaahh..."
"lhooo, Mbak jasmine mau sekolah TK gaaa ?"

Jasmine bengong, baru nyadar kalo ini hari pertama dia sekolah TK.

Ga lama kemudian dua krucil itu lalu beringsut dari kursi menuju kamar mandi.

"nah kan kalo dah mandi seger, tambah cantik kan"
"males kalo sama papahh, maahhh pake baju apaaaa?"

Mbak Acha, karena masih suasana Isra' Mi'raj, jadi hari ini dress code di sekolah adalah pake baju muslim.


"sip kan Mbak bajunya ?" , kata mama.

"iya sih tapi tangannya kependekan, tante Ida sih belinya kekecilan"
"yaahh lumayan lah mbak, daripada pake yang lama, warnanya dah belel.."

Kalo Mbak Jasmine malah biasa aja, meskipun sebetulnya ini hari spesial buat dia, hari pertama masuk sekolah, tapi emang dasar anaknya cuek, pake baju yaa maunya yang kasual.


"ciee ciee, sepatu baru niy yee" , Goda mbak Acha
"apa siy..." bales Jasmine sambil mukanya keliatan semu malu.

Sibungsu Amel, masih ngiler ditempat tidur, mbangkong... udah kebiasaan emang bangunnya siang, kadang jam 9 baru bangun.

Ehhh pas mo berangkat, kali karena ndenger suara heboh kakaknya, Amel malah bangun. liat mbaknya sudah pada rapi lansung aja keluar sesenggukannya, basah semua pipimya.
Sama mamanya lalu Amel dipeluk-peluk, dihibur dulu karena mo ditinggal sebentar ama mbak-mbaknya sekolah.


"cep cep...Amel mandi dulu yah ntar kalo dah maem sama mimik cucu kita njemput mbak Jasmine bareng-bareng ke sekolah TK ...
Okeks..?"

Bandar Lampung, July 2009

Yang bener AJA ....

Hari pertama Jasmine sekolah, lagi-lagi, saya terheran-heran ada anak belum empat tahun, teman sekolah Jasmine, sudah dimasukan ke TK besar.
Belum empat tahun coba..., jadi tahun depan sianak ini akan masuk SD sebelum usianya lima tahun.

"anaknya sih udah pinter, udah bisa nulis angka meski belum bagus bener"
Lalu lancarlah ibunya bercerita tentang betapa siapnya sang anak.

Istri saya manggut-manggut, mengiyakan saja, mendebat juga tak berguna, pikir istri saya.
Ada lagi anak teman, sepantaran Tasya, 10 tahun, sekarang sudah dikelas enam SD.
Lalu anak tetangga, belum sebelas tahun sudah masuk SMP tahun ini.

"lha wong masih suka petak umpet sama Jasmine dirumah kok sudah SMP yah..." saya mbatin berdua istri.

Tasya September nanti genap 10 tahun
Jasmine, Oktober nanti genap 5 tahun
Amel, Desember nanti genap 4 tahun

Kami percaya bahwa setiap perkembangan anak ada tahapan-tahapannya, ada masanya.
Jika mereka dikembangkan sesuai waktunya maka hasilnya pun akan optimum.
Enam tahun menuju tujuh tahun adalah usia yang tepat masuk SD.
Usia dimana bara kecil mereka sudah memang waktunya dipercikan bensin agar bara kecil tadi menjadi api yang membesar.

Anak bukanlah kertas kosong yang bisa diwarnai suka-suka orang tuanya.
Juga bukan gelas kosong yang bisa diisi suka-suka orang tuanya.

Setiap anak membawa warna dan bentuk sendiri sejak lahir, tugas orang tua adalah mengarahkan, mempertegas dan memberi dinamika agar warna dan bentuk yang ada bisa mejadi lebih baik, lebih indah dan bermanfaat bagi si anak.

Sebelum enam tahun biarlah mereka bermain-main saja, hanya bermain-main....!!
Jadi kalau ada orang tua yang ngebet pingin anaknya cepat-cepat sekolah SD sebelum enam tahun, menurut saya niyy.. rasanya yang perlu disekolahkan malah orang tuanya.

Bandar Lampung, Juli 2009

Sunday, 19 July 2009

Blog

Dulu, mungkin sekitar 3 tahun yang lalu, saat orang bilang tentang blog yang ada dikepala gw adalah sesuatu yang masih diawang-awang. Sesuatu yang membutuhkan skill khusus, perlu mentor dari ahlinya dan rumit untuk dipelajari.

Hari ini gw, ga disangka-sangka bisa juga bikin blog. Cuma karena penasaran liat-liat blog orang trus kebetulan juga lagi nganggur alias blom ada rencana kemana mo wiken.

Kutak-kutik ikutin alur yang disediakan, sedikit berlogika dan jadilah meski keliatan basic banget.


Lampung, 19 Juli 2009

Saturday, 22 December 2007

Mommy ku...


Mommy sedih kalau Amel gak mau makan
Mommy nangis waktu Jasmine sakit bisul
Mommy bingung kalau Tasya batuk gak sembuh-sembuh
Mommy gak bisa tidur sebelum Anak-anak juga tidur


Biar ngantuknya kayak apa
Mommy selalu aja siap kalau Amel minta nenen
Badan Mommy sampai habis

Karena terlalu capai ngurus rumah
Tapi kalau rumah kotor Mommy gak mau nyantai sebelum bersih



Pipi Mommy sampai cekung
Karena terlalu semangat ngurus anak-anak
Kalau mereka belum mandi, makan dan minum susu
Mana mau Mommy berhenti


Kalau Tante Ida dateng Mommy selalu setia menemani
Kalau Poppy laper Mommy lansung nyiapin makan buat Poppy
Kalau Bude ada gawe Mommy gak pernah nolak buat mbantu-mbantu

Tasya jadi anak pinter di sekolah karena Mommy rajin mbelajarin tiap malem
Jasmine jadi anak cerdas karena Mommy gak pernah telat mbikinin susu
Amel jadi anak lincah karena Mommy selalu punya waktu untuk ngajak main
Poppy tambah gemuk karena Mommy selalu enak kalau masak



Mommy adalah lentera di rumah
Cinta dan kelembutan Mommy sepanjang jalan tak terukur
Dengan kasih Mommy menerangi hidup kami

Selamat Hari Ibu yaa Mommy
We all love you ….


Bandar Lampung, 22 Desember 2007

Tuesday, 15 August 2006

Lingkaran setan (bagian 3, Selesai)

Semua persaingan di meja kerja sebenarnyalah tidak semata persaingan buta. Kami tetap anak-anak yang senang berteman sepermainan. Ledek meledek atas hasil yang telah dicapai bukanlah berkonotasi saling merendahkan. Semua Cuma ungkapan humor yang memang perlu penyaluran – ungkapan persahabatan. Yang sudah mendahului tidaklah kemudian jumawa lalu mentang-mentang. Tidak begitu. Yang tertinggal tidaklah lalu merasa lebih rendah.

Jika sedang rehat ada keluar gurauan kami tentang dimana posisi masing-masing. Si A sudah sampai mana si B masih dimana dan ini memunculkan rasa kebersamaan atas teman sekeringat. Lalu diaturlah strategi disini. Yang sudah sampai tugas kelima bolehlah menawarkan hasil pekerjaannya pada yang baru tugas ketiga dan mentok berulang kali di tolak sang instruktur.

Perjanjiannya begini : hasil tugas ketiga yang sudah di okekan oleh instruktur akan dipakai oleh si B yang berulang kali mentok ditugas ketiga. Sudah tentu, resiko tanggung penumpang alias si B dan sebelumnya ada dibuat gentlemen agreement, kesepakatan antar lelaki, kalau ini ketahuan tidaklah membawa celaka bagi yang menolong.

Ooo alangkah indah persahabatan. Mengejar posisi unggul sah-sah saja tapi pertemanan mutlak berbicara disini. Dan entah karena kami yang pandai berselingkuh atau nasib baik memang berpihak pada kami – tak tahulah. Yang pasti strategi ini selalu mulus dan kami semua senang atas itu.

Saya tak ingat bagaimana mula istilah ini diperdengarkan. Siapa yang memulai tak jelas. Dan istilah ini hanya ditempelkan untuk kaum tertinggal diurusan praktikum_tidak pada urusan teori. Tapi istilah ini terus melekat kuat sampai kami selesai pendidikan dan terus menjadi obrolan menyenangkan pada waktu-waktu kami reunian di kemudian hari, sangat memorable.

Pada teman dikelompok yang tertinggal ini kami mengistilahkan mereka Lingkaran setan. Kenapa lingkaran karena anggotanya ya itu-itu saja. Melingkar-lingkar hanya disitu saja. Kalaupun berubah Cuma formatnya – urutannya saja. Selebihnya ya Cuma mereka ini.
Lalu kenapa ada kata setan, nah ini dia, sebenarnya tidaklah kami memaknai mereka setan dalam arti sebenarnya. Cuma meneruskan kata lingkaran saja. Lingkaran setan ini pada kami berarti kelompok yang kami upayakan untuk menghindar dari keanggotaannya. Kalaupun harus terjerumus kedalamnya upaya maksimal harus dilakukan agar bisa segera keluar, entah secara individu atau dengan berselingkuh itu.

Inilah uniknya PKKTL-9. Ada yang kalau ujian tertulis selalu unggul. Nilainya amat membanggakan. Jika berbicara selalu pada level tertinggi. Tapi karena kurang pada kecakapan dan kecepatan masuklah dia dikelompok lingkaran setan. Tak pernah bisa keluar meski usaha sudah maksimal, termasuk dengan - usaha perselingkuhan itu.

Selesai.

Bandar Lampung, Agustus 2006

Sebelumnya


Sunday, 13 August 2006

Lingkaran setan (bagian 2)

Pada angkatan kami, sebagaimana dua sisi mata uang, juga terdiri dari cakap-tidak cakap__ cepat-tidak cepat. Yang cakap dan cepat, mungkin karena sudah bakat lahiriahnya tak pernah bisa terkejar oleh kelompok yang sebaliknya. Apapun tugasnya, tak peduli itu berkaitan dengan besi ataupun kabel tetap saja mereka unggul. Selalu lebih cepat. Tak selalu lebih bagus memang – tapi dalam hal ini bagus bukanlah ukuran. Yang penting diokekan oleh instruktur itu sudahlah cukup. Dan melaju dengan dua tiga tugas didepan pesaing amatlah membanggakan diri. Sementara menjadi yang tertinggal sudahlah pasti tidak mengenakkan. Tak enaklah melihat teman sudah berganti tugas sementara kita masih harus berkutat dengan tugas yang itu-itu saja.

Bagi kelompok tertinggal saat-saat ketika harus berhadapan dengan instruktur kala menyampaikan tugas adalah saat yang mendebarkan. Iya kalau lansung oke bisa lansung ketugas berikutnya, kalau tidak? apalagi jika maju kesekian kali untuk tugas yang sama dan masih juga belum di oke kan, ughh sesaklah dada ini.

Belum lagi mendapatkan sang pesaing tersenyum yang disembunyikan saat kita balik badan kembali kemeja kerja untuk tugas yang sama. Bukan untuk mengejek tapi lebih pada merasa geli dengan ekspresi kedua pihak. Seperti melihat majikan dan batur. Satunya berkuasa memerintah satunya tak kuasa diperintah. Yang tua komat kamit badan ditegakkan tangan bergerak-gerak, yang muda hanya mantuk-mantuk tak banyak omong kedua tangan biasanya diadu didepan badan.

Sang instruktur, dalam hal ini adalah penguasa tunggal. Dialah yang menentukan bakal apa jadinya kita. Kata-katanya selalu bermakna sabda, gerakan tangannya bernada perintah dan matanya melemahkan urat syaraf kita. Jadi mendengarkan apa katanya, ikuti gerakan tangannya dan turuti kemana matanya bergerak adalah sudah separoh lebih peluang kita lebih besar.

Sesungguhnya, karena keseniorannya, Sang Instruktur sudahlah tahu kemampuan kami masing-masing. Berapa cakap si A berapa cepat si C bisalah dia meraba dari satu dua tugas yang dia berikan. Dan dari tahun ke tahun angkatan ke angkatan selalu saja ada dua kelompok ini. Tipikal sekali. Melihat kelompok mendahului dan tertinggal sudahlah biasa buat Sang Instruktur ini.

Kadang, dalam kekuasaannya yang mutlak itu suka muncul selera humornya juga. Diajaknyalah kami bergurau, ditanggapinyalah juga ledekan kami. Atau dibalik keangkeran matanya sebetulnya ada dia Cuma ingin mengerjai kami, mengetes mental, berapa besar daya tahan kami. Biasanya kami tahu ini bukan tahu sendiri tapi oleh rekan yang melihat kami dan kemudian saling diceritakan.

Begini misalnya : suatu ketika maju kemeja Instruktur siswa dari kelompok tertinggal menyampaikan tugas, setelah dipegang-pegang sambil memicingkan mata tiba-tiba suara Sang Instruktur membesar, juga matanya dan dilemparlah pekerjaan siswa itu ketempat sampah sambil berkata-kata. Sang siswa, tanpa ba bi bu sambil mantuk mantuk berjalan ketempat sampah dan mengambil kembali pekerjaannya untuk dibetulkan lalu balik badan kembali kemeja kerja.

Nah saat dipunggungi siswa inilah Sang Instruktur mungkin tak bisa menahan gelinya sendiri, sambil memandang punggung tersenyumlah sang instruktur ini, he he he gue kerjain lu, mungkin begitu batinnya. Dan kami yang melihat adegan itu juga tersenyum geli sendiri.

Geli melihat majikan, geli melihat batur.


Bandar Lampung, Agustus 2006

Selanjutnya

Sebelumnya




Wednesday, 2 August 2006

Lingkaran setan (bagian 1)

Pertama bersinggungan dengan PKKTL mulanya saya agak ragu apa bisa prestasi saya tetap seperti sebagaimana saat saya bersekolah sebelumnya. Ragu karena dari awal mula saya tahu kedepan hari-hari saya bakal dipenuhi dengan keharusan belajar yang mutlak.

Mutlak? Bagaimana tidak, dari seribu tiga ratus lima puluh pendaftar Cuma diambil dua ratus lima puluh terbaik. Lalu penyaringan lewat test ppsikologi di ambil dua puluh lima terbaik. Peringkat dua puluh besar sudah pasti lolos tinggal kesehatannya oke tidak. Jika gagal diambil dari lima yang dicadangkan. Dan peringkat saya pas tipis benar dengan catatan saya sebelumnya, saya ada berperingkat sepuluh test masuk.

Jadi memang bukan main buat saya bisa berkesempatan menjadi siswa PKKTL ini. Berada dikalangan orang-orang mumpuni adalah selalu menjadi keinginan saya, mimpi saya. Saya memang tak pernah merasakan sekalipun titel juara kelas, paling mentok juara ketiga – itupun hanya sekali dua kali dan semuanya saat saya disekolah dasar.

Namun saya selalu ada dilevel permainan atas. Peringkat saya tak pernah lepas dari sepuluh besar dan kelas yang saya diami sampai saya selesaikan menengah pertama saya, pastilah selalu terdiri dari anak yang berperingkat teratas. Jadi tak pernah juara kelaspun tak terlalu mengganggu saya, karena saya hanya terkalahkan oleh orang yang memang unggulan.

Dalam dua puluh orang kami menjalani pendidikan, sewajarnya orang bersekolah, selalu saja ada dua sisi mata uang saling besebelahan. Ada pintar-tidak pintar, ada cakap-tidak cakap, nakal-tidak nakal, cepat-tidak cepat, favorit guru-bukan favorit guru dan sebagainya.

Sebagaimana koin, dua sisi ini selalu ada, beriringan dan saling melengkapi.

Pada PKKTL ada satu hal yang membuat institusi ini berbeda dengan kebanyakan institusi pendidikan yang lain, yaitu iklim kompetisi antar siswa yang dibangun begitu rapi dan konsisten dalam pelaksanaannya.

Kurikulum yang mensyaratkan siswa baru boleh mengerjakan tugas berikutnya hanya jika tugas yang sekarang dikerjakan sudah tuntas benar-benar membuat siswa terpacu untuk tidak ketinggalan oleh yang lain. Keinginan untuk mengeluarkan segala kemampuan begitu menggebu. Adu cepat, adu bagus, ada di setiap detik dalam keseharian. Saling lirik depan belakang kanan kiri adalah strategi standard yang harus dijalankan agar irama bisa selalu diatur untuk tetap kompetitif.

Saya ambil contoh : Dalam hal tugas praktikum, pintar saja tidak cukup. Siswa haruslah juga cakap dan cepat. Saat sama-sama menerima tugas pertama segera injak gas dan kebut sebisanya. Memastikan tidak tertinggal ditugas pertama adalah harus. Moral mesti diraih agar kepercayaan diri menguat. Ditugas pertama tak perlu dulu lirik sana-sini. Fokus saja. Usahakan bisa maju ke instruktur lebih dulu. Biar oleh instruktur ini hasil keringat kita dipegangnya, dirabanya, diukurnya, dicari-cari kesalahannya terus kita dengar komentar-komentarnya.

Jika belum oke segera kerjakan lagi, kita betulkan, lakukan segala komentarnya, lalu maju lagi sampai di oke kan hasil kita ini. Kalau sudah oke tugas yang selanjutnya pun diberikanlah ke kita dan dikerjakan dengan pola yang sama.

Ditugas ketiga keempat adalah kita sempatkan melirik pesaing kita, teman-teman sekeringat disekitar kita. Dimana posisi kita dan gigi berapa kita harus pasang disinilah waktunya.

Kalau sudah unggul bolehlah santai barang sejenak mengambil nafas, mengaso. Tak perlu terburu-buru, biar para pesaing saja yang tergopoh-gopoh mengejar. Atau - jika ingin memperbesar jarak bolehlah tempo ditambah. Semua jurus dikeluarkan, gas ditekan lebih dalam. Usahakan untuk mendahului paling tidak dua atau tiga tugas.

Memang asyik jika sudah leading jauh. Kalaupun kita lengah atau terpeleset sekali dua kali jarak tetaplah terjaga – masih belum tersalip.

 


Bandar Lampung, Agustus 2006

Selanjutnya