Semenjak usia saya masuk belasan tahun ada kalanya hati saya suka
bergetar jika melihat perempuan yang manis rupawan. Saya paling suka dengan
perempuan yang halus, lembut dan kenes. Buat saya waktu itu, perempuan seperti
inilah yang kelak saya ingin jadikan pacar atau malah saya peristri.
Ada teman sekolah (SMP) saya, kami berbeda kelas dan
kebetulan juga namanya Ayu dengan Rahayu dibelakangnya. Parasnya, menurut saya
waktu itu, memang se-ayu namanya. Kulitnya hitam manis, hidung mancung dengan
perawakan menuju kurus. Saya begitu mengidolakan Ayu ini. Berbagai cara saya
coba lakukan agar bisa dekat dengan Ayu. Pura-pura pinjam buku, membantu
mengerjakan PR atau sekedar menemani perjalanan pulang dari sekolah.
Karena sudah cukup sering hal itu saya lakukan. dan belum pernah
ada penolakan, maka dalam menjalani itu semua saya lantas berpikir Ayu ini apa
memang sudah mau dengan saya atau gimana ya.., dan saya yang masih kelas satu
SMP waktu itu tentu saja tak punya keberanian untuk bertanya.
Ayu mempunyai sahabat, teman sekelasnya namanya Komariah. Kami
disekolah memanggilnya dengan nama kecil, Kokom. Ayu dan Kokom ini bak serangkai
didalam dan diluar kelas. Kemana-mana mereka selalu saja berdua. Kokom badannya
lebih berisi dibanding Ayu. Kulitnya kuning bersih. Rambutnya yang sebahu,
terlihat hitam dan tebal. Dalam perbincangan antar kawan lelaki disekolah,
rupanya Kokom ini punya fans yang lumayan banyak. Rata-rata mereka menyukai
bodi Kokom yang berisi itu. Dada dan bokong Kokom menjadi daya tarik khusus
para kawan saya ini.
Belum lagi bibirnya yang
lumayan tebal, sexy sekali. Pasti enak tuu kalau buat berciuman, kata kami
dalam gurauan.
Berciuman…? anak kelas satu
SMP ? dan saya waktu itu baru bisa membayangkan saja seperti yang saya suka
lihat difilm-film bioskop.
Dan apapun komentar
kawan-kawan saya tentang Kokom, tidaklah lalu menggoyahkan kesenangan saya akan
Ayu. Kelembutannya dan kenesnya itu yang membuat saya setia menyukainya.
Kokom, meskipun ada juga
saya benarkan pendapat kawan saya, agak terlalu agresif, juga saya lebih suka
perempuan berbibir tipis dan Ayu bibirnya termasuk tipis.
Mengenang ketertarikan saya pada Ayu ini, saya jadi ingat bagaimana sewaktu SD
dulu saya juga sangat mengidolakan wali kelas saya, waktu itu saya dikelas
tiga, namanya ibu Sudarwati. Sama seperti Ayu, ibu Sudarwati sangat lembut,
kenes dan keibuan sekali.
Cara beliau menyampaikan
ajaran, merespon kenakalan kami, menyapa kami diawal hari atau sekedar menemani
kami saat waktu istirahat kelas.. sungguh mengesankan, sangat memorable.
Dan sekarang setelah tiga
puluh tahun, saya berharap kelak jika bisa berkesempatan untuk bertemu lagi
dengan ibu Sudarwati, satu hal saya ingin sampaikan pada beliau adalah
mengucapkan banyak terima kasih karena sudah memberi saya banyak sekali teladan
serta kelembutan-kelembutan.
Lalu bagaimana dengan Ayu
dan Kokom?
Ahh biarlah semua itu
menjadi cerita pengantar tidur saya saja.
Lagi pula.. ternyata waktu itu, tak sampai saya menamatkan SMP, saya malah
sudah balik arah, berubah selera jadi suka perempuan bertipe seperti Kokom.
Yang bodinya aduhai, putih, mulus dan berbibir sexy.
Mengenai kenes atau tidak
sudah bukan jadi ukuran lagi.
Maklumlah, namanya
juga masih remaja...masih suka berubah-rubah.
Bandar Lampung, 31 Agustus 2010
No comments:
Post a Comment