Monday, 16 February 2026

Pertama bekerja (Bagian 1)


Siang itu saya tiba-tiba didatangi teman yang mengabarkan kalau saya dipanggil oleh Pak Yusupadi. Teman saya ini juga menyampaikan bahwa selain saya ada juga nama teman seangkatan saya Fredy dan Bayu diminta menghadap Pak Yusupadi. Atas kabar ini sempat ada keraguan dalam diri saya ada apa tiba-tiba Pak Yusupadi memanggil kami. Apa yang telah saya lakukan sampai seorang Kepala pabrik memanggil saya untuk datang kekantornya. Lalu mengapa saya dipanggil bersama dengan Fredy dan Bayu? Hubungan kami selama ini baik-baik saja, pun di pekerjaan tidak ada masalah, ada persoalan apa ini ... kenapa? Dan pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu berputar-putar saja didalam otak kepala saya. Saya menjadi harap-harap cemas. Berharap ini adalah berita baik, cemas karena takut ini adalah berita tidak baik. Dan semua pertanyaan yang terus berlarian di otak kepala saya itu tak juga membuahkan jawab.

Saya, Fredy dan Bayu saat itu adalah siswa kelas 3 Pendidikan Kejuruan Teknik Lisrik PT Siemens Indonesia. Seluruhnya kami berdua puluh siswa dalam satu angkatan. Tahun ini adalah tahun ketiga kami menjalani pendidikan dan akan menjadi tahun terakhir kami bersekolah disana. Khusus kelas tiga kami sudah tidak lagi belajar teori dikelas. Di tahun ketiga, selama setahun penuh kami dididik untuk berkenalan lansung dengan dunia kerja yang sebenarnya. Semua ilmu yang telah kami pelajari di dua tahun pertama kami bersekolah, teori maupun praktek, lansung diaplikasikan dalam bentuk kerja sesungguhnya di wokshop. Masing-masing kami berdua puluh dititipkan pada pekerja yang sudah berpengalaman untuk dapat kami timba ilmu dan pengalamannya.  Kami akan lulus di bulan September nanti dan hari ini sudah bulan Juli.

Setibanya saya di ruang Pak Yuspadi, disana sudah ada Fredy dan Bayu yang berdiri persis setelah pintu masuk. Sepertinya mereka berdua datang hanya berselisih tak lama sebelum saya datang. Terlihat juga sudah ada Pak Dharma, kepala sekolah PKKTL, yang duduk disamping meja kerja pak Yusupadi.

Pak Yusupadi dan Pak Dharma dengan santun mempersilahkan saya, Fredy dan Bayu untuk duduk di kursi yang telah di siapkan. Oleh perintah itu kami pun segera duduk dengan perasaan campur aduk menunggu akan ada berita apakah gerangan. Ada juga sempat kami bertiga lewat kernyitan mata saling memandang_ bertanya satu sama lain. Dan seperti digerakkan oleh suasana tegang, kami serentak secara perlahan saling menaikkan bahu kami pertanda kami bertiga belumlah tahu berita apa yang akan disampaikan. 

Dimata saya, Pak Yusupadi adalah orang yang sudah punya kedudukan. Atasan yang sering saya lihat berkeliling workshop untuk mengontrol pekerjaan anak buahnya. Beliau orang yang terhormat, seorang bos!. Dan saya, yang saat itu adalah bocah usia belasan, sudah barang tentu bukanlah siapa-siapa dibandingkan seorang Pak Yusupadi. Oleh karena itu urusan dipanggil menghadap Pak Yusupadi adalah bukan perkara ringan. Buat saya ini peristiwa besar, peristiwa yang mungkin saja akan bisa mengubah nasib saya kedepan.

.......

Pak Yusupadi membuka pembicaraan dengan menyampaikan bahwa beberapa minggu yang lalu telah datang ke sekolah PKKTL perwakilan dari sebuah perusahaan asing yang berlokasi di Jawa Timur. Adapun tujuan kedatangan mereka adalah mencari calon pegawai yang mempunyai kompetensi di bidang kelistrikan, mereka sedang mencari kandidat electrician untuk penempatan di pabrik mereka di Surabaya dan Pasuruan. Sekolah telah menimbang dan memutuskan untuk mengajukan saudara-saudara bertiga ini untuk ikut tes rekrutmen di Surabaya.

Pertanyaannya: apakah saudara bersedia?

Dan belum saja kami menjawab, Pak Dharma sudah menambahkan: kita sudah punya beberapa lulusan PKKTL yang bekerja di pabrik di Pasuruan, jadi you tidak perlu khawatir kesana karena sudah ada kakak kelas yang akan bantu mengajari you kerja disana.

Oleh pertanyaan dan penjelasan itu serentak kami bertiga saling memandang dengan jidat sedikit mengerinyit, seperti saling bertanya akan mau menjawab apa.

Dan sebelum kami membuka mulut untuk menjawab, Pak Yusupadi sudah memberikan pandangannya lebih dulu kalau kami tidak harus membuat keputusan hari ini juga. Pada kami di sarankan untuk berdiskusi dahulu dengan orang tua dirumah. Ditimbang-timbang plus minusnya, baik buruknya, akan siap atau tidak jika harus tinggal jauh dari orang tua.

Menutup pembicaraan, kami bertiga menyampaikan terimakasih atas berita dan tawaran ini lalu pamit untuk kemudian kami bertiga keluar dari ruangan.

Diluar ruangan, kami bertiga bersepakat untuk malam ini mulai berdikusi dengan orang tua agar bisa segera memberikan jawaban. Dan hanya dalam hitungan hari kami bertiga menghadap Pak Dharma untuk menyampaikan kesediaan kami mengikuti tes rekrutmen di Surabaya.

Buat saya sendiri ini berita baik. Adalah impian saya sejak dulu untuk bisa bekerja keluar dari Jakarta. Menjauh dari kota yang sejak kecil saya tinggali. Hidup mandiri dari uang hasil keringat sendiri, punya kamar sendiri dan bisa membeli apa saja yang saya maui.

Pembicaraan dengan orang tua atas penawaran ini bagi saya sifatnya lebih pada pemberitahuan, bukan berdiskusi apalagi sampai harus tawar menawar. Karena bahkan sebelum pulang kerumah, saya sendiri sudah memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di Jawa Timur.

Membayangkan saya akan kerja merantau ke Jawa Timur saja sudah membuat hati saya girang. Meskipun saya tahu ini adalah baru tes pertama dan belum ada jaminan juga kalau saya akan di terima bekerja di sana.



Cikupa, 16 Februari 2026