Sunday, 22 February 2026

Lulus sekolah, lansung kerja (Bagian 2)

Hari-hari menunggu tanggal keberangkatan saya jalani dengan perasaan campur aduk. Saya ingin sekali bisa bekerja keluar dari Jakarta, menjauh dari semua hal yang tidak saya sukai di Jakarta, memulai babak yang baru dalam hidup saya, mendapat pengalaman-pengalaman baru. Tapi apakah saya bisa terpilih?.

Dua pesaing saya, Fredy dan Bayu, dimata saya adalah anak-anak yang berkemampuan akademis baik. Nilai mereka selalu bagus dan dalam beberapa mata pelajaran bahkan tak pernah saya bisa mengalahkan mereka berdua. Kualitas mereka boleh dibilang diatas saya. Dan dalam beberapa hari kedepan kami bertiga akan di adu untuk meraih dua tiket bekerja di perusahaan asing di Jawa Timur.

Fredy adalah lulusan SMPN 30, Sekolah Menengah Pertama terbaik di Jakarta Utara. Sebelum masuk PKKTL, dia sempat diterima dan bersekolah di SMAN 13, Sekolah Menengah Atas terbaik di Jakarta Utara. Fredy tinggal di kompleks angkatan laut daerah pinggir pantai bernama Sampur sekitar Tanjung Priok Jakarta Utara. Untuk ukuran saya, rumah Fredy yang bapaknya pamen angkatan laut jelas jauh lebih baik dan lebih layak bandingkan rumah tinggal saya yang asrama polisi kelas bintara. Saat bersekolah, saya yang juga tinggal di daerah Tanjung Priok, cukup sering menginap di rumah Fredy bersama teman yang lain. Selain lokasi rumahnya yang strategis, kamar Fredy yang lansung menghadap halaman rumah sangat lah enak buat kami untuk belajar bersama dan bersenda gurau.

Sementara Bayu berasal dari Solo Jawa Tengah. Ia adalah lulusan terbaik seluruh SMP se kota Solo. Nilai Ebtanas Murni-nya 51. Sungguh anak pintar. Bandingkan dengan nilai saya yang cuma 42. Bahkan lulusan terbaik di sekolah saya saja hanya 46. Selama bersekolah di PKKTL, Bayu banyak unggulnya dari saya dalam pencapaian nilai teori maupun praktek. Dan kami berteman baik. Saya dan teman-teman sering main ke tempat kos-nya. Sebetulnya tempat Bayu bukanlah tempat kos komersil sebagaimana umumnya. Bayu yang karena daerah asalnya dari luar Jakarta, oleh orang tuanya dititipkan ke budenya yang kebetulan punya klinik praktek dokter bersama. Pada klinik tersebut diarea belakang ada kamar yang bisa ditinggali oleh Bayu selama bersekolah di PKKTL.

Dengan latar belakang pesaing saya yang hebat seperti itu tentu saja saya perlu menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Saya ulang lagi semua pelajaran yang pernah saya dapat. Ilmu-ilmu kelistrikan saya selami lagi, saya baca-baca lagi, saya hapalkan lagi. Saya berhentikan dulu kebiasaan merokok saya agar badan saya bisa lebih fit. Persiapan tes ini sungguh saya seriusi. Tekad saya untuk terpilih sangat besar. Inilah tiket saya untuk bisa menjauh dari Jakarta. Dan untuk meraihnya maka persiapan saya harus lah tidak boleh main-main!.

Dan jadwal pelaksanaan tes telah ditetapkan. Tanggal keberangkatan-kepulangan, alamat perusahaan di Surabaya serta tanggal dan jam berapa kami harus sudah tiba di sana sudah diinfokan kepada kami. Surat panggilan tes dari perusahaan juga sudah kami terima via Pak Dharma.

Sesuai dengan arahan, kami bertiga akan menggunakan moda transportasi kereta api. Oleh perusahaan calon tempat kami bekerja kami diminta untuk naik kereta api kelas Bima, kelas eksekutif yang paling mahal. Kelas kereta api yang dimasing-masing gerbongnya berjejer ruang-ruang kompartemen. Satu kompartemen berisi satu tempat tidur bertingkat tiga, satu kursi panjang kapasitas tiga orang plus meja didekat jendela, dan pastinya kompartemen itu sudah lah ber-ac. Di stasiun, saat akan naik gerbong kami disambut oleh mbak-mbak pramugari kereta yang berseragam menarik, mirip pramugari pesawat terbang yang sering saya lihat dimajalah-majalah. Mbak-mbak pramugari ini ikut juga didalam kereta melayani kebutuhan penumpang sepanjang perjalanan.

Saya yang seumur-umur jika berkereta api naiknya di kelas paling murah_ kelas ekonomi, yang kursinya rotan isi tiga orang duduk saling berhadapan, hanya ada kipas angin_ itupun banyak sering matinya saat perjalanan, sudah lah barang tentu amat terpukau dengan kereta api Bima ini. Inilah kali pertama saya naik kereta yang benar-benar bisa berselonjor tidur berkasur enak, tempatnya ber-ac dan sepanjang perjalanan ada mbak-mbak pramugari cantik yang hilir mudik dengan segala urusannya

Maka sore itu, bulan Agustus 1989, berangkatlah kami bertiga dari stasiun Kota menuju Surabaya. Beberapa teman menyempatkan diri untuk mengantarkan kami di stasiun Kota.

Pagi sesampainya kami di stasiun Gubeng Surabaya, kami bertiga naik taksi menuju lokasi perusahaan tempat kami akan menjalani tes. Dari kami bertiga hanya saya yang pernah ke Surabaya, Fredy dan Bayu belum pernah. Meski begitu,  tentang lokasi perusahaan itu sudah barang tentu saya tidak paham. Terakhir saya ke Surabaya bersama bapak sudah lama sekali. Mungkin saat itu saya sedang dipertengahan sekolah dasar, sekitar kelas 3 atau 4. Dan pastinya saat itu saya hanya mengekor bapak tanpa pernah ingin tahu nama-nama jalan.

Menjelang sampai di tujuan, sempat pak sopir taksi meminggirkan kendaraan untuk bertanya ke sekelompok tukang becak yang sedang mangkal, memastikan rute yang kami lalui tidak salah arah. Pak sopir bertanya tanpa turun dari mobil melainkan hanya membuka jendelanya saja. Ada kami dengar pak Sopir menyebutkan nama PT Food Specialities Indonesia, nama perusahaan yang kami tuju sesuai surat panggilan yang kami bawa, namun dijawab tidak tahu oleh para tukang becak itu. Oleh jawaban itu spontan salah satu dari kami menyebut Nestle, pabrik Dancow_ yang seketika lansung dijawab oleh tukang becak: “oh itu, pabrik susu ya_ kalau pabrik susu ya sudah dekat, itu disana ….” sambil tangan pak tukang becak menunjuk bangunan tinggi tak jauh dari tempat kami bertanya. Dan setelah mengucap terimakasih pak sopir taksi segera menggerakan taksi menuju tempat bangunan tinggi itu.

Setelah sedikit di tanya-tanya oleh satpam, diminta untuk mengisi daftar tamu dan menitipkan ktp , diantarlah kami oleh pak satpam menuju bangunan yang oleh pak satpam di sebutnya kantor admin.

Di kantor admin kami bertiga disambut ramah oleh petugas yang mengaku dari bagian personalia.  Kami dipersilahkan duduk di sofa yang sepertinya memang disiapkan sebagai tempat untuk menerima tamu. Dan kami pun beramah tamah mengobrol dengan petugas personalia itu. Tak lami kami menunggu muncul lah seorang lelaki paruh baya, usianya mungkin menjelang 50 tahun, rambutnya yang ikal terlihat mulai menipis dengan beberapa sudah ada yang memutih. Oleh petugas personalia tadi kami dikenalkan bahwa lelaki paruh baya itu adalah kepala personalia dipabrik ini, namanya Pak Muhadi, sosok yang dikemudian hari saya tahu beliau adalah pensiunan pamen angkatan laut dengan pangkat terakhir letnan kolonel.

 

Cikupa, 22 Februari 2026

Selanjutnya 

Sebelumnya

Monday, 16 February 2026

Lulus sekolah, lansung kerja (Bagian 1)

Siang itu saya tiba-tiba didatangi teman yang mengabarkan kalau saya dipanggil oleh kepala pabrik kami, Pak Yusupadi. Teman saya ini juga menyampaikan bahwa selain saya ada teman seangkatan saya, Fredy dan Bayu, juga diminta menghadap Pak Yusupadi. Atas kabar ini timbul pertanyaan dalam diri saya ada apa tiba-tiba Pak Yusupadi memanggil saya. Apa yang telah saya lakukan sampai seorang Kepala pabrik memanggil saya untuk datang kekantornya. Lalu mengapa saya dipanggil bersama dengan Fredy dan Bayu? Hubungan kami selama ini baik-baik saja, pun di pekerjaan tidak ada masalah. Lalu kenapa ada pemanggilan? ada persoalan apa? Dan pertanyaan-pertanyaan yang menghujam itu berputar-putar saja didalam otak kepala saya. Saya menjadi harap-harap cemas. Berharap ini adalah berita baik, cemas karena takut ini adalah berita tidak baik. Dan semua pertanyaan yang terus berlarian di otak kepala saya itu tak juga membuahkan jawab.

Saya, Fredy dan Bayu saat itu adalah siswa kelas 3 Pendidikan Khusus Kejuruan Teknik Lisrik PT Siemens Indonesia. Seluruhnya kami berdua puluh siswa dalam satu angkatan. Tahun ini adalah tahun ketiga kami menjalani pendidikan dan akan menjadi tahun terakhir kami bersekolah disana. Khusus kelas tiga kami sudah tidak lagi belajar teori dikelas. Di tahun ketiga, selama setahun penuh kami dididik untuk berkenalan lansung dengan dunia kerja yang sebenarnya. Semua ilmu yang telah kami pelajari di dua tahun pertama kami bersekolah, teori maupun praktek, lansung diaplikasikan dalam bentuk kerja sesungguhnya di wokshop tempat pembuatan panel-panel listrik. Masing-masing kami berdua puluh dititipkan pada pekerja yang sudah berpengalaman untuk dapat kami timba ilmu dan pengalamannya.  Kami akan lulus di bulan September nanti dan hari ini sudah bulan Juli.

Setibanya saya di ruang Pak Yuspadi, disana sudah ada Fredy dan Bayu yang berdiri persis setelah pintu masuk. Sepertinya mereka berdua datang hanya berselisih tak lama sebelum saya datang. Terlihat juga sudah ada Pak Dharma, kepala sekolah PKKTL, yang duduk disamping meja kerja pak Yusupadi.

Pak Yusupadi dan Pak Dharma dengan santun mempersilahkan saya, Fredy dan Bayu untuk duduk di kursi yang telah di siapkan. Oleh perintah itu kami pun segera duduk dengan isi kepala yang campur aduk menunggu akan ada berita apakah gerangan. Ada juga sempat kami bertiga lewat kernyitan mata saling memandang_ bertanya satu sama lain. Dan seperti digerakkan oleh suasana tegang, kami serentak secara perlahan saling menaikkan bahu kami pertanda kami bertiga belumlah tahu berita apa yang akan disampaikan. 

Pak Yusupadi adalah tipe orang yang tidak banyak bicara, gaya komunikasinya simple namun lugas. Sebagai kepala pabrik, beliau sering saya lihat berkeliling workshop untuk mengontrol pekerjaan anak buahnya. Dalam sepanjang ingatan saya selama 3 tahun bersekolah, saya belum pernah berbincang-bincang lansung dengan Pak Yusupadi. Saya sangat menyegani beliau. Dimata saya, beliau adalah orang yang terhormat, seorang bos!. 

Adapun Pak Dharma, adalah seorang kepala sekolah yang sudah sangat senior, sangat berpengalaman di bidang pendidikan. Beliau orang yang penuh optimisme. Dengan gaya dialognya yang berlogat Jawa, Pak Dharma selalu bisa menggelorakan hati kami para siswa untuk selalu bersemangat dalam belajar agar kelak bisa meraih masa depan yang gemilang. 

Oleh sebab itu urusan pemanggilan yang tiba-tiba ini buat saya adalah bukan perkara ringan. Ini peristiwa serius. Maka baik atau buruk berita yang akan disampaikan oleh Pak Yusupadi dan Pak Dharma nanti, bisa jadi akan sangat menentukan arah hidup saya kedepan.

.......

Pak Yusupadi membuka pembicaraan dengan menyampaikan bahwa beberapa minggu yang lalu telah datang ke sekolah PKKTL perwakilan dari sebuah perusahaan asing yang berlokasi di Jawa Timur. Adapun tujuan kedatangan mereka adalah mencari calon pegawai yang mempunyai kompetensi di bidang kelistrikan, mereka sedang mencari kandidat electrician untuk penempatan di pabrik mereka di Surabaya dan Pasuruan. Sekolah telah menimbang dan memutuskan untuk mengajukan saudara-saudara bertiga ini untuk ikut tes rekrutmen di Surabaya.

Pertanyaannya: apakah saudara bersedia?

Dan belum saja kami menjawab, Pak Dharma sudah menambahkan: kita sudah punya beberapa lulusan PKKTL yang bekerja di pabrik di Pasuruan, jadi you tidak perlu khawatir kesana karena sudah ada kakak kelas yang akan bantu mengajari you kerja disana.

Oleh pertanyaan dan penjelasan itu serentak kami bertiga saling memandang dengan jidat sedikit mengerinyit, seperti saling bertanya akan mau menjawab apa.

Dan sebelum kami membuka mulut untuk menjawab, Pak Yusupadi sudah memberikan pandangannya lebih dulu kalau kami tidak harus membuat keputusan hari ini juga. Pada kami di sarankan untuk berdiskusi dahulu dengan orang tua dirumah. Ditimbang-timbang plus minusnya, baik buruknya, akan siap atau tidak jika harus tinggal jauh dari orang tua.

Menutup pembicaraan, kami bertiga menyampaikan terimakasih atas berita dan tawaran ini lalu pamit untuk kemudian kami bertiga keluar dari ruangan.

Diluar ruangan, kami bertiga bersepakat untuk malam ini mulai berdikusi dengan orang tua agar bisa segera memberikan jawaban. Dan hanya dalam hitungan hari kami bertiga menghadap Pak Dharma untuk menyampaikan kesediaan kami mengikuti tes rekrutmen di Surabaya.

Buat saya sendiri ini berita baik. Adalah impian saya sejak dulu untuk bisa bekerja keluar dari Jakarta. Menjauh dari kota yang sejak kecil saya tinggali. Hidup mandiri dari uang hasil keringat sendiri, punya kamar sendiri dan bisa membeli apa saja yang saya maui.

Pembicaraan dengan orang tua atas penawaran ini bagi saya sifatnya lebih pada pemberitahuan, bukan berdiskusi apalagi sampai harus tawar menawar. Karena bahkan sebelum pulang kerumah, saya sendiri sudah memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di Jawa Timur.

Membayangkan saya akan kerja merantau ke Jawa Timur saja sudah membuat hati saya girang. Meskipun saya tahu ini adalah baru tes pertama dan belum ada jaminan juga kalau saya akan di terima bekerja di sana.



Cikupa, 16 Februari 2026

Selanjutnya ...