Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca-352)
Yang kutahu setiap saat bersamamu adalah proses mengerti makna sebuah cinta melihat kedalaman hatimu merasai kebesaran jiwamu meraba semua ketulusanmu seperti jelaga yang tak pernah kering
disetiap tarikan nafasmu dan suara suara lembutmu ada ketulusan disitu mengisi ruang-ruang hati terpatri begitu saja di sanubari hati selalu tenteram ketika ku ada bersamamu
“aku ingin pulang, ingin cepat pulang …” “berikan sayapmu agar aku pulang”
Sepotong syair diatas, yang saya kutip dari lagunya Nidji, rasa-rasanya kok pas ya menggambarkan betapa hidup yang sedang mengalir ini semakin terasa penuh hal yang belum lagi bisa saya pahami.
Lebaran kemarin, tetap saja seperti lebaran yang lalu-lalu. Sungkem saya pada orang tua sehabis sholat Ied belum juga bisa membuat hati terdalam saya merinding dan bergetar. Kata-kata saling meminta maaf masih sebatas ritual yang harus selalu dijalani tahun demi tahun.
Ingatan akan masa-masa yang dulu, kejadian-kejadian yang lampau hingga yang baru kemarin-kemarin ini masih saja terus menggantungi jiwa terdalam saya. Membebani saya untuk bisa menjadi seorang yang lebih besar hati. Meminta dan memberi maaf dengan tulus ikhlas, tidak sebatas ucapan dibibir atau jabatan tangan semata.
Saya ingin bisa menangis Ketika sujud menggenggam telapak Bicara terisak-isak Suara yang bergetar Mengantar hati yang memohon ampun
Saya tahu kelak saya harus bisa Tapi tidak sekarang, belum bisa sekarang Kapan ? Saya sendiri belum tahu
“aku ingin pulang, ingin cepat pulang …” “berikan sayapmu agar aku pulang”
Begitu pesawat mendarat,dengan taksi kami menuju hotel yang
sudah kami booking, namanya Hotel Indra Puri. lokasi hotel ada di paling puncak
sebuah bukit kecil. Dengan posisi yang begitu bagus maka dapat kami lihat dari
jendela kamar pemandangan pantai teluk betung dari sudut atas _ berikut segala
keruwetan sebuah kota pesisir, rumah kecil besar, jalan jalan
berkelak kelok yang tak beraturan itu.
Paling asik memang kalau melihatnya diwaktu malam, lampu-lampu
kerlap kerlip menjadikan keruwetan di siang hari jadi tak nampak. Yang ada
hanya seperti melihat kunang-kunang dari kejauhan.
Kami menempati satu kamar kelas deluxe. Isinya standar saja,
satu tempat tidur besar plus tolet berikut meja kerja disampingnya.
Tasya jelas kelihatan senang sekali dengan rumah barunya ini. Apalagi di kamar
mandi ada bath tube yang buat anak umur dua tahun seperti kolam renang saja.
Dan Tasya selalu saja ingin berlama-lama di kolam renangnya itu.
“
kita kayak orang kaya ya ma..”
“yaa “ kata mamanya.
Dihotel oleh kantor, kami boleh memesan makanan apa saja yang
kami suka sepanjang rasional, artinya tidak berlebih, secukupnya dan semampu
perut kami sendiri.
Kami dijatah maksimal dua minggu tinggal di hotel sambil
sementara itu mencari sendiri rumah pilihan kami.
Oleh Pak Boyke, kepala HRD, dalam beberapa kali kesempatan kami
sekeluarga diajaknya berkeliling Bandar Lampung untuk melihat-lihat beberapa
lokasi yang mungkin saja sreg buat kami.
Dalam mencari tempat tinggal saya cukup berpedoman yang penting
istri suka dan cocok. Suka dengan rumahnya, cocok dengan lingkungannya. Buat
saya penting jika istri sudah cocok dengan lingkungannya karena toh yang paling
banyak berdiam dan beraktifitas dirumah kan istri dan anak. Saya sendiri di
hari kerja paling berapa jam saja menikmati rumah sepulang kantor. Dan istri
waktu itu menimbang-nimbang ada baiknya jika rumah kami tak jauh-jauh dari
pasar agar mudah dalam urusan perbelanjaan keperluan dapur.
Waktu itu belum terpikir dulu oleh kami untuk menimbang lokasi
sekolah terdekat karena Tasya juga masih baru dua tahun usianya.
Tak banyak sebenarnya rumah yang sempat kami kunjungi. Kami
sepenuhnya bergantung pada kemana pak Boyke membawa kami. Beberapa lokasi
perumahan ada juga kami hampiri tapi ya itu.. ada saja hal dari pak Boyke yang
membuat kami tidak sampai deal.
Entah kebetulan atau bagaimana kami sampai pada satu rumah yang
secara phisik belum jadi, masih dalam tahap dibangun, belum berlantai. Ukuran
rumah itu sangat besar, ada sekiranya kurang-lebih 120m2 hanya rumah, belum
lagi sisa tanah depan samping belakang. Ada empat kamar tidur, dua
kamar mandi.
Pak Boyke bilang kalau kenal baik dengan pemilik rumah, sudah
seperti saudara. Rumah itu rupanya milik paman dari sahabat dekat pak Boyke.
Dan kami manut saja, monggo kerso. Pikir kami, rumah baru, besar, dekat pasar
di bayari kantor pula _ kenapa harus berpikir rumit?
Ibu Anas, sipemilk rumah, bibi dari sahabat pak Boyke, menemani
kami melihat-lihat rumah itu. Usianya paruh baya, sekitar lewat empat puluhan
saya taksir. Dari pengamatan kami ibu Anas ini baik, ramah dan ramai kalau
bicara. Ceplas-ceplos saja dia dalam mempromosikan rumahnya. Tak sampai lama
pembicaraan, yang sebetulnya malah ngalor-ngidul itu, kami sepakat untuk deal.
Sesuai dengan aturan kantor kami ambil untuk masa dua tahun
kontrak tujuh juta setahunnya. Kantor memberi kuota pada saya 20% dari total
annual gross salary untuk kontrak setahunnya. Jadi kalau tujuh juta masih
masuklah dengan kuota saya.
Karena antara pak Boyke dan ibu Anas sudah kenal dekat maka
urusan administrasi menjadi gampang. Semuanya cingcay saja. Dari ibu Anas
sendiri bilang pembangunan akan dikebut karena memang tinggal lantai dan
pengecatan saja. Dalam seminggu pasti beres.. begitu janji ibu Anas.
Dan memang tak sampai seminggu kemudian pindahlah kami dari
hotel ke rumah baru kami. Rumah yang besar sekali, baru sama sekali, dan masih
terasa aroma cat disana sini.
Seorang teman dikantor suatu kali mengirimkan pada saya email dengan sisipan file yang isinya cukup menyentuh. Aslinya, sisipan itu berformat power point dan isi tulisannya sedikit serta pendek-pendek saja. Tapi bisalah coba saya ceritakan isinya yang menyentuh itu dengan bahasa serta dari pemahaman saya sendiri.
Anda tahu apa beda jagung, telur dan biji kopi ?
Jagung :
Dalam kondisi mentah dia keras dan kuat. Nampak tegar dan kokoh. Jagung juga mempunyai kulit yang berlapis lapis. Perlu usaha untuk bisa melihat dagingnya. Belum lagi bulu-bulu lembut diantara kulit dan dagingnya, yang menurut pemahaman saya, berguna sebagai pelindung dan penghangat. Dagingnya sendiri terbagi-bagi menjadi ratusan biji-biji berjajaran rapih simetris.
Dari semua penampakan dan perawakan itu, untuk bisa memasaknya, jagung mesti dilepas satu-per satu kulitnya, ditelanjangi. Dibuang juga bulu-bulu lembutnya baru di cemplungkan ke air panas mendidih, dibiarkan beberapa waktu lalu jagung diangkat.
Jagung kemudian ditiriskan dan ayo kita lihat hasilnya :
Daging jagung sekarang terasa lembek, mudah disobek-sobek juga mudah untuk dilepas satu-satu dari bonggolnya. Dan bonggolnya pun sekarang sama dengan dagingnya, tidak lagi sekeras dan sekokoh sebelum digodok. ______________
Telur :
Telur adalah benda halus. Maksud saya karena sifatnya yang rapuh jadi penanganannya harus hati-hati. Coba kita lihat satu satu.
Cangkang atau kulit telur kalau diraba sepertinya keras, tugasnya melindungi isi telur yang cair itu. Tak boleh sedikitpun cangkang ini sobek atau bocor. Bisa-bisa berantakan isi telur ini. Jika sudah begitu, apalah guna telur kalau tak ada lagi isi.
Telur dengan cangkang yang keras tapi rapuh ini lalu di masukan kedalam air panas mendidih, dibiarkan beberapa waktu lalu di angkat.
Seperti apa rupa telur setelah digodok ?
Kulitnya tidak berubah sama sekali. Tetap keras dan tampak melindungi. Adapun isi telur setelah digodok berubah fase dari cair menjadi padatan. Dari perubahan ini ada pesan yang disampaikan oleh isi ke cangkang, bahwa peran melindungi cangkang atas isi sudah berkurang jauh. Sekarang tak perlu khawatir berlebihan lagi jika cangkang sobek atau bocor. Isi tetap bisa digunakan. ______________
Biji kopi :
Setelah terpisah dari kulitnya, agar punya nilai ekonomi yang lebih tinggi, biji kopi di jemur terlebih dahulu agar kandungan airnya menurun. Dibiarkan biji kopi ini berhari hari disengat panas matahari. Setelah itu agar cita rasa alaminya muncul, biji kopi lalu di sangrai. Sangrai, bagi yang belum paham, adalah proses pemanasan tidak lansung biji kopi dengan dengan api. Agar sempurna, suhu pemanasan haruslah diatas 100°C dan dalam waktu yang cukup.
Setelah disangrai, biji kopi ini akan harum dan bercita rasa kopi.
Sudah bisa dipakai ? belum lagi kawan …
Biji kopi perlu di tumbuk dulu agar menjadi kopi yang halus berpasir sehingga akhirnya tidak lagi dalam bentuk biji.
Kopi yang sudah halus berpasir ini lalu di masukan ke dalam air mendidih. Sebentar saja, air lalu menghitam dan berbau kopi. ______________
Lalu apa perbedaan dari ketiganya ?
Begini :
Bayangkan air panas mendidih adalah hidup yang keras ini. Penuh liku-liku, perjuangan yang tidaklah mudah dalam menggapai keinginan dan mimpi-mimpi.
Jagung, telur dan biji kopi adalah personifikasi kita semua yang hidup. Melambangkan individu-individu dengan segala kekuatan dan kelemahan masing-masing.
Ada yang dari luar nampak kuat dan tegar, tapi dalam mengarungi hidup, ketika bersinggungan dengan kesulitan jadi cepat loyo dan layu (Jagung).
Ada yang dari luar nampak lemah dan perlu perlindungan, tapi lalu menjadi tegar setelah ditempa dengan banyak lika-liku hidup (Telur).
Bagaimana dengan biji kopi ?
sebelum terjun kedunia nyata (air mendidih) biji kopi sudah mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Dia menerima tempaan dari awal sekali (Belajar) agar semua potensi diri bisa dimunculkan untuk kelak digunakan sebagai bekal dalam mengarungi hidup.
Dengan bekal yang cukup, biji kopi tak cuma sanggup bertahan dalam hidup yang panas dan bergolak, tapi lebih dari itu, dia sanggup memunculkan potensi-potensi aslinya sehingga lingkungan yang sulit itu (air panas) bisa di warnai dan dibauinya. Hidup lalu menjadi tak lagi tawar dan hambar. Hidup yang keras dan berliku menjadi harum mewangi. Hidup jadi lebih bermakna dan punya cita rasa.
Saya ingin menjadi biji kopi, bagaimana dengan anda ?
Sewaktu saya dipanggil oleh atasan saya dan lalu disampaikanlah
bahwa saya akan di mutasi ke Lampung, tepatnya Bandar Lampung, berkelebatanlah
bayangan-bayangan imaginasi saya tentang seperti apa rupa Bandar Lampung.
Pulau Sumatra, hanya pernah saya dengar dan lihat lewat media. Membayangkan
bahwa saya suatu hari akan berdiam atau tinggal disana, tak pernah ada dalam
pikiran saya. Memang ada suatu kali saya memimpikan berkunjung ke danau toba
dan pulau samosirnya. Atau mampir merasakan sejuknya udara di Brastagi. Atau
melihat jam gadang di Padang serta menyusuri bukit barisannya yang
kesohor indah itu. Tapi semua itu cuma berkunjung, short visit.
Cuma beberapa hari saja setelah itu pulang.
Dan sekarang ini awal
tahun 2001. Di akhir tahun 2000 kemarin, gereja-gereja banyak yang di kirimi
bom menjelang perayaan Natal. Situasi nasional yang tegang waktu itu sedikit
banyak membuat saya agak khawatir.
Lalu sekarang, atasan
saya ini, mengabarkan kalau saya dalam dua bulan kedepan harus pindah, karena
pabrik tempat saya bekerja sekarang akan ditutup. Perusahaan menetapkan kalau
masih tetap ingin berkerja di perusahaan ini yaa cuma di Sumatra yang ada
posisi untuk saya. Take it or leave it.
Dan saya memilih untuk tetap bekerja diperusahaan ini.
Sampai rumah saya kabarkan berita ini kepada istri saya. Sama dengan saya, tak
terbayang juga oleh istri saya macam apa Bandar Lampung itu. Dipedalaman kah?
Apa kami akan tinggal di tengah hutan dengan jalan yang jelek tak beraspal?
Lalu disekeliling rumah kami berjajaran pohon-pohon besar dengan diatasnya
bergelayutan monyet-monyet liar jerit menjerit sahut-menyahut? Rumah kami pasti
rumah panggung agar ular dan binatang buas lainnya tidak bisa menyantroni kami?
Kami saling memandang dan semua tanya kami itu tak terjawab.
Hari itupun tiba. Kami harus pindah, pergi dari Tangerang menuju tanah tak
terbayangkan, Bandar Lampung. Kami berpamitan pada tetangga sekitar. Salam
menyalam minta restu, mohon maaf jika ada kesalahan pada kami berdua. Tasya
anak kami, belum lagi genap dua tahun. Belum mengerti kenapa mamanya menangis
berpelukan dengan mama temannya.
Semua barang perabotan sudah di packing. Perusahaan menyediakan jasa
transporter untuk mengepak dan membawa seluruh barang kami dengan trailer.
Semua tinggal beres, kami hanya membawa satu tas berisi pakaian untuk keperluan
kami beberapa hari kedepan. Tiket pesawat sudah pada kami, hotel di Bandar
Lampung sudah dipesan oleh kantor dan kamipun berangkat. Tidak lansung ke
bandara tapi mampir dulu ke Tanjung Priok tempat Mbah-nya Tasya. Memang sudah
rencana kami untuk menginap dulu semalam disana sebelum kami ke Bandar Lampung.
Paginya, setelah berpamitan dan mohon restu, dengan taksi kami menuju bandara
Soekarno-Hatta. Ini kali pertama untuk istri saya dan Tasya berpergian dengan pesawat.
Saya merasai istri saya agak sedikit tegang dan khawatir dengan pengalaman
pertamanya ini dan saya mengerti itu. Saya pun pernah merasakan apa yang
dirasakan oleh istri saya sekarang ini. Saya besarkan hatinya, semua akan
baik-baik saja, kata saya.
Diruang tunggu untuk boarding, saya lihat ada perempuan yang wajahnya cukup
familiar buat saya. Kulitnya kuning rambutnya tebal sebahu. Saya perhatikan
sendirian saja dia. Yaa.. Ibu Indrawati, bekas orang Kejayan yang lalu pindah
ke kantor pusat di Jakarta. Saya sapa kemudian ibu Indrawati ini. Beliau
juga mengenali saya. Kamipun bersalaman juga istri saya dan Tasya. Lalu kami
duduk bersama mengobrol sambil menunggu panggilan boarding. Ibu Indrawati
ternyata juga hendak ke Bandar Lampung dan akan satu pesawat dengan kami.
Dalam pembicaraan sebelum naik pesawat itu saya baru tahu bahwa Ibu Indrawati
juga sama seperti saya, akan bertugas di Bandar Lampung di pabrik yang sama.
Hari itu adalah hari Minggu dan besoknya, hari Senin, Ibu Indrawati ini akan
memulai hidup baru sama dengan saya. Hari pertama di pabrik yang sama, di
Bandar Lampung.
Beliau akan menjadi atasan saya, factory manager saya untuk
beberapa tahun kedepan.